Menanggung rasa malu dari persaingan kelas dua
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
United memiliki banyak pertaruhan untuk finis di peringkat keempat. Kesempatan tampil di Liga Champions dan gajinya akan dikurangi.
JAKARTA, Indonesia – Barcelona dan Real Madrid baru saja menyelesaikan perburuan gelar hingga pertandingan terakhir Divisi Primera. Situasi serupa juga dialami rival sekota Manchester City dan Manchester United.
Namun gelar yang diperebutkan bukanlah juara. Tapi posisi keempat.
Kedua tim akan menghadapi lawannya masing-masing pada Minggu 15 Mei pukul 21:00 WIB. City akan bertandang ke Swansea City, sedangkan United akan menjamu Bournemouth di Old Trafford.
City jelas berada di atas angin. Jumlah mereka mencapai 65, sedangkan United 63. Hasil imbang saja sudah cukup bagi pasukan Manuel Pellegrini untuk mengamankan posisi empat besar.
Sebaliknya, kemenangan pun tidak menjamin tim berjuluk Setan Merah itu akan naik peringkat. Mereka masih harus berharap City dikalahkan Swansea. Sesuatu yang sangat sulit akan terjadi.
Ditambah lagi, Bournemouth United kehilangan akal satu kali. Di babak pertama mereka mengalahkan United dengan skor 2-1. Pertandingan ini akan berlangsung tanpa beban bagi pasukan Eddie Howe. Sebab, mereka lolos dari ancaman degradasi.
Di sisi lain, para pemain United mendapat banyak tekanan. Mereka memainkan pertandingan yang harus dimenangkan dengan banyak hal yang dipertaruhkan.
media Inggris, Kereta bawah tanah, menyatakan gaji para pemain dan staf pelatih akan dipotong jika tidak finis di posisi keempat. Nilai pemotongan gaji tercapai 14 juta poundsterling.
“Kami sangat bergantung pada City. Itulah perbedaannya. Dan itulah yang membuat pertandingan ini sangat membuat frustrasi,” katanya Van Gaal seperti dikutip BBC.
Faktanya, di dua pertandingan sebelumnya Anda punya peluang untuk tidak berada dalam kondisi seperti ini, keluh mantan manajer Bayern Munich dan timnas Belanda itu.
Guardiola mustahil tampil di ajang kelas dua
Masalahnya City jelas tak mau menyerah begitu saja di peringkat keempat. Ini adalah target terakhir yang bisa mereka capai. Apalagi mereka akan ditangani manajer baru, Josep “Pep” Guardiola, pada musim depan.
Dengan portofolio impresif sebagai pelatih klub-klub besar, jelas akan sangat aneh melihat manajer brilian tersebut tampil di Liga Europa.
“Bagi kami sangat penting untuk selalu tampil di Liga Champions. Ini menawarkan peluang untuk memenangkan ketiga gelar di musim yang sama,” kata Pellegrini.
Mengapa fase keempat begitu penting?
Tentu jawabannya adalah Liga Champions. Tim yang berada di posisi tersebut akan bersaing untuk lolos ke liga paling bergengsi di Eropa.
Jika mengakhiri kompetisi di posisi kelima, mereka harus bersiap tampil di kompetisi kasta kedua Eropa: Liga Europa.
Proyeksi empat besar Liga Inggris. City hanya butuh hasil imbang, atau United kehilangan poin. pic.twitter.com/js4MuDPAfG
– Michael Caley (@MC_of_A) 10 Mei 2016
Sebagai tim yang (pernah) punya tradisi juara yang kuat, United tentu enggan mengikuti kompetisi yang dahulu bernama Piala UEFA itu. Peluang ini hanya diperuntukkan bagi klub-klub lapis kedua di liga-liga Eropa. Jauh dari glamornya tim-tim besar negara sepak bola terpenting di benua biru.
Pahitnya tampil di Liga Europa pun dialami United. Hal itu terjadi saat mereka masih di bawah manajer David Moyes. Kehadiran Louis van Gaal pada musim 2014-2015 membawa Wayne Rooney dan kawan-kawan kembali ke Liga Champions.
Tapi, di tangan orang yang sama, United bisa saja terpuruk kembali di Liga Europa.
“Jika mereka tidak lolos ke Liga Champions, Manchester United bisa gagal total musim ini,” ucapnya mantan kapten tim, Rio Ferdinand.—Rappler.com
BACA JUGA: