• March 21, 2026

Mendag luncurkan gerakan ‘Bangga Seduh Kopi Papua’

Petani perlu mengetahui informasi harga jual kopi agar tidak menjual produknya dengan harga murah

JAKARTA, Indonesia – Setelah sukses mempromosikan kopi Indonesia di tingkat global melalui event Pameran Asosiasi Kopi Spesial Amerika (SCAA) 2016Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengajak para pemerhati kopi dan masyarakat global untuk lebih mengenal kopi Papua melalui program “Proudly Brewing Papuan Coffee”.

Peluncuran program “Bangga Menyeduh Kopi Papua” ini dilakukan pada Sabtu, 11 Juni, akhir pekan lalu di Kabupaten Dogiyai, Papua. Peluncuran ini merupakan bagian dari “Gerakan Papua Berkarya dan Unggul” yang merupakan program milik Pokja Papua yang didukung penuh oleh Kementerian Perdagangan.

“Provinsi Papua mempunyai potensi kopi kelas dunia. “Papua merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang sangat populer, selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatra, dan Sulawesi,” kata Tom Lembong.

(BACA: Indonesia promosikan 17 kopi terbaik di ajang SCAA di Atlanta)

Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat, petani kopi di Papua berjumlah 16 orang yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Sejumlah pemerhati kopi di Jakarta turut serta dalam kampanye ini. Mereka diundang bersama pemerintah pusat untuk memberikan pelatihan teknik budidaya, pengolahan pasca panen, dan pemasaran.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. “Kita tahu konsumen rela membayar mahal untuk mendapatkan kopi yang nikmat, namun sayangnya para petani tidak mengetahui berapa harga jual kopi di pasaran,” kata Tom.

Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan yang semuanya mempunyai potensi kopi, namun produksinya belum maksimal. Saat ini proses pengolahan kopi di Dogiyai masih tradisional. Mesin seperti mesin tamping yang digunakan masih sisa dari Belanda dan belum diperbaharui. Proses pengeringan dan pengupasan kulit masih dilakukan secara manual, kopi disangrai dan digiling di atas kompor.

Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai merupakan perkebunan peninggalan misionaris Belanda pada tahun 1890an. Pada masa itu, sebagian besar masyarakat Dogiyai adalah petani kopi. Seiring dengan perubahan zaman, masyarakat mulai mengurangi penanaman kopi dan beralih profesi menjadi pekerja konstruksi untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Edukasi petani kopi itu penting

Kepala Pusat Pengelolaan Urusan Strategis Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini menggarisbawahi pentingnya edukasi dan penunjang sarana dan prasarana bagi petani kopi.

“Petani kopi di Indonesia juga perlu mengetahui berapa harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani bisa lebih sejahtera,” kata Made.

Menurutnya, banyak petani kopi lokal yang belum mengetahui harga jual kopi di pasaran. Harga ceri kopiHal ini jarang dibicarakan, meskipun banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah ceri untuk produk kopi.

Selain itu, petani juga harus mengetahui berapa perbandingan yang dihasilkan dari pengolahannya ceri kopi menjadi kacang hijau adalah 7 banding 1. Yaitu 7 kilogram ceri kopi setelah diolah hanya bisa menghasilkan 1 kilogram saja biji kopi hijau.

harga buah (ceri kopi) dan biji kopi yang dijual petani kopi saat ini masih sedikit.

Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, petani tidak menjual kopi dalam bentuk ceri atau buah. Kopi yang dijual berbentuk biji sangrai atau bubuk dengan harga Rp 30.000-35.000 per kilogram.

Sementara di Jabar ada petani yang berjualan ceri kopi hasil panennya harganya Rp 7.000-8.000 per kilogram, atau di daerah lain di jawa ada yang menjual ceri kopi Hasil panennya Rp 6.000-8.000 per kilogram.

“Sudah sepatutnya petani kopi mendapatkan harga yang lebih tinggi sehingga memberikan nilai ekonomi yang baik bagi petani,” kata Made.

Kabupaten Dogiyai juga memiliki lima usaha kopi kecil dan menengah yang salah satunya dijalankan oleh seorang pendeta gereja.

Selain kebun peninggalan Belanda, di Kabupaten Dogiyai juga terdapat perkebunan kopi SMP Yayasan Pendidikan Sekolah Katolik (YPPK) seluas 1 hektar. Sekolah ini memasukkan pendidikan tentang kopi dalam kurikulum pengajarannya sehingga siswa diajarkan memetik dan mengolah kopi di sekolah.

“Kami berharap kopi Papua bisa masuk pasar ekspor dalam tiga tahun ke depan dan disajikan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tahun 2020,” kata Made. –Rappler.com

Keluaran Sydney