• April 5, 2025
Mengambil nyawa bukanlah jalan keluar

Mengambil nyawa bukanlah jalan keluar

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

“Akan lebih baik jika hukuman mati dihapuskan dan diganti dengan hukuman lain yang lebih mendidik.”

JAKARTA, Indonesia – Jelang eksekusi 14 terpidana kasus narkoba di Cilacap pada Jumat dini hari, 29 Juli 2016, sejumlah lembaga swadaya masyarakat menggelar aksi nyala lilin. Sekitar 30 peserta berasal dari tokoh agama, Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBH), dan perwakilan pekerja migran.

Selain menyalakan ratusan lilin, mereka juga memberikan pidato mengapa Presiden Joko “Jokowi” Widodo harus berhenti menerapkan hukuman mati.

“Beberapa dari mereka bukan penjahat, hanya terjebak sindikat narkoba,” kata Wiwin Warsiating, pengurus kelompok buruh migran Kabar Bumi, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 28 Juli.

Di antara 14 orang tersebut ada nama Merry Utami, seorang TKI yang ditipu bandar narkoba asal Afrika. Tanpa pendampingan hukum bahkan penganiayaan, perempuan asal Sukohardjo, Jawa Tengah ini dijatuhi hukuman yang tidak sesuai dengan kesalahannya.

Sedangkan penipu yang memergokinya dengan memasukkan 1,1 kilogram heroin ke dalam sakunya berhasil lolos dan bahkan belum ditemukan hingga saat ini.

Ren, sapaan akrab Wiwin, mengatakan sebagian besar perempuan memilih bekerja sebagai TKI di luar negeri karena sudah tidak ada lagi lapangan pekerjaan di negeri ini. Dengan bekerja di luar, mereka bisa mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga di rumah.

“Tapi bukan hal yang aneh jika ada orang yang mengalami kekerasan, bahkan sampai tertipu seperti Bu Merry,” kata dia yang juga bekerja sebagai buruh di Hong Kong.

Pekerja migran sangat rentan terhadap penipuan yang dilakukan oleh anggota sindikat narkoba. Mereka jauh dari orang-orang terdekatnya, dan seringkali mempunyai riwayat menjadi korban kekerasan.

Modus yang sering dilakukan anggota sindikat narkoba adalah percintaan, dengan berpura-pura berkencan bahkan berjanji akan menikah. “Jika seseorang mencintaimu, maka kami juga mencintaimu,” kata Ren.

Di situlah mereka terjebak. Ren menjelaskan, para buruh sangat mendukung Jokowi dalam memerangi jaringan peredaran narkoba. Namun, hukuman mati bukanlah cara yang tepat.

Perbaikan sistem

Koordinator Lembaga Hukum Masyarakat Antonius Badar Karwayu mengatakan hukuman mati tidak efektif menyelesaikan permasalahan narkoba. “Seperti usaha membanggakan Hanya jika Jokowi serius memerangi narkoba, ujarnya.

Selama ini yang menjadi korban hukuman mati bukanlah pemain besar seperti gembong atau bandar narkoba. Kebanyakan hanyalah kurir yang sering menjadi korban perdagangan manusia.

Ia berharap pemerintah dapat memperbaiki sistem peradilan, salah satunya dengan memberikan nasihat hukum yang tepat bagi para korban ketika mereka diadili. Mereka juga merevisi undang-undang untuk mengizinkan hukuman mati bagi pelanggar atau penjual.

“Kalau bisa dihapus, ganti dengan hukuman yang lebih mendidik,” ujarnya.

Prakteknya, dari 14 terpidana mati yang akan dieksekusi Jumat dini hari, hanya 4 orang yang berhadapan dengan regu tembak. Mereka Freddy Budiman, Gajetan Acena Seck Osmane, Michael Titus, dan Humphrey Jefferson.

Menurut Jaksa Muda Pidana Umum Noor Rachmat, keempatnya dieksekusi karena masifnya aksi peredaran narkoba dan merugikan masyarakat. – Rappler.com