Mengapa Go-Jek disebut sebagai inovasi untuk mengatasi ketimpangan?
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Cerita tentang bagaimana pengemudi aplikasi transportasi sepeda motor, Go-jek, dapat meningkatkan taraf hidupnya di media sosial. Baik melalui laman berita, atau mengunjungi situs resmi perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim pada tahun 2012 itu.
Ada cerita tentang Pak Rochim, seorang driver Go-jek yang kehilangan pekerjaan sebagai kurir di sebuah konsultan hukum. Tiba-tiba ia tidak mempunyai sumber penghasilan untuk istri dan kedua anaknya. Setelah bergabung dengan Go-jek dan bekerja tanpa batas waktu, ia bisa membawa keluarganya pulang ke desanya tahun ini.
“Go-jek merupakan inspirasi yang melahirkan inovasi, dan berasal dari pihak swasta. “Perannya penting untuk menjadi solusi kesenjangan sosial dan pengentasan kemiskinan,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, Profesor Bambang S. Brodjonegoro, di kantornya, Jakarta, 4 Agustus 2017.
Menurut Bambang, Go-jek menjadi platform memungkinkan pekerja informal menjadi pekerja di sektor formal. Dalam statistik ekonomi, keduanya sebenarnya bekerja, baik di sektor informal maupun formal. Yang berbeda adalah kualitasnya yang meningkat setelah masuk perekonomian formal. Tingkat upah membaik, ada kepastian pendapatan, ada aspek keamanan bekerja yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan.
“Dalam prinsip ekonomi pembangunan, semakin banyak pekerja di sektor informal yang tidak terdaftar, itu tidak baik. Menunjukkan bahwa negara tidak mampu memberikan pekerjaan yang layak kepada seluruh warganya. “Go-jek memperbolehkan pekerja informal untuk bergabung dengan perusahaan, memiliki pendapatan yang terukur dan memiliki catatan administrasi,” kata Bambang.
Inovasi untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi kesenjangan sosial dapat datang dari semua departemen, termasuk pihak swasta. Misalnya, inovasi yang dilakukan Go-jek tidak menggunakan dana APBN maupun anggaran pendapatan dan belanja negara. “Hal seperti ini bisa dipelajari oleh orang lain, juga daerah lain. Inspiratif,” ujar Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.
Upaya menurunkan rasio Gini
Hal ini disampaikan Bambang sebagai alasan penting mengapa pemerintah harus menyelenggarakan Indonesia Development Forum 2017 yang dibuka oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Dari 555 karya ilmiah yang dikirimkan, terdapat 44 karya ilmiah yang dipresentasikan, dari berbagai kalangan. Fokus tahun ini adalah ketimpangan antar kelompok pendapatan. Pemerintah tidak hanya ingin menurunkan rasio Gini, tetapi juga menginginkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan.
Koefisien Gini atau rasio gini merupakan indikator yang menunjukkan tingkat ketimpangan pendapatan secara keseluruhan. Nilai koefisien Gini berkisar antara 0 hingga 1. Nilai koefisien Gini sebesar 0 menunjukkan adanya pemerataan pendapatan yang sempurna, atau setiap orang mempunyai pendapatan yang sama.
“Pemerintah sangat prihatin dengan masalah ketimpangan ekonomi. “Dalam Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah (GWP) tahun 2018, Presiden Jokowi berpesan agar kita fokus mengatasi ketimpangan, termasuk meningkatkan rasio Gini,” kata Bambang. Tema yang dipilih adalah “Memerangi Ketimpangan untuk Pertumbuhan yang Lebih Baik”.
Selain fokus pada pertumbuhan, RCP 2018 juga fokus pada kesetaraan. “Kalaupun kita membangun infrastruktur, akan lebih mengarah pada upaya pemerataan,” kata Bambang. Pemerintah menyadari adanya permasalahan pada tingkat pengangguran terbuka, kemiskinan dan rasio Gini.
“Tahun ini kami fokus pada rasio Gini. “Realisasi 0,393% sebenarnya membaik dibandingkan 0,397 pada tahun 2016. Namun ini batas yang sempit, kita harus mencari solusi agar Gini Ratio terus membaik,” kata Bambang.
Dari tabel di atas, Bambang menunjukkan bahwa berbeda dengan negara-negara Asia lainnya, ketimpangan di Indonesia cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir. “Namun pada tahun 2014, Indonesia mungkin akan menurunkan Gini Ratio,” ujarnya. Pemerintah, kata dia, kini tengah mengkaji upaya penurunan ketimpangan melalui peningkatan kualitas Program Keluarga Sejahtera (PKH).
“Di Brazil, program Bolsa Familia yang notabene merupakan program bantuan langsung tunai berhasil menurunkan Gini Ratio secara signifikan, misalnya sebesar 0,1%. “Kita coba turunkan 0,01%, persoalannya setengah mati,” kata Bambang.
(BA: Inflasi Juli 2017 Rendah, Daya Beli Turun?)
4 Faktor yang mendorong ketimpangan
Bappenas juga mengidentifikasi empat faktor utama yang mendorong ketimpangan. Pertama, ketimpangan kesempatan sejak awal kehidupan. Misalnya, seorang bayi lahir dari keluarga miskin. Begitu ia lahir, ia diserang dwarfisme atau tidak bisa tumbuh dengan baik. Tidak mendapat pelayanan kesehatan yang baik pada 1.000 hari pertama kehidupan. Ini akan membebaninya selama sekolah, masa dewasa, dan bekerja. Mungkin lebih miskin dari orang tuanya.
“Memang benar ada masyarakat yang sangat sulit keluar dari kemiskinan. Meski perekonomian tumbuh, kelas menengah semakin besar. Sekarang jumlahnya mencapai 40 juta, dan pada tahun 2045 diperkirakan akan ada 200 juta kelas menengah. “Kesenjangan dengan masyarakat miskin semakin besar,” kata Bambang.
Faktor kedua adalah ketimpangan lapangan kerja. Baik secara sektoral, regional maupun dari segi pengupahan. Hal ini otomatis menimbulkan ketimpangan. “Dulu misalnya guru dan dosen gajinya di bawah gaji pekerja swasta profesional, itu ketimpangan. “Di kalangan kelas menengah, hal ini berpotensi memperburuk rasio Gini,” kata Bambang.
Faktor ketiga adalah tingginya konsentrasi kekayaan. Bambang merujuk pada fenomena menarik di tahun 1990-an, ketika terjadi pemusatan kekayaan di tangan segelintir konglomerat bisnis. “Fenomena yang unik. “Saat itu perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi sepanjang sejarah yang belum bisa dicapai, sekitar 7-8% per tahun,” ujarnya.
Situasi ini terjadi karena sektor manufaktur tumbuh pesat, padat karya, dan kelangkaan minyak berdarah, serta usaha perkayuan dan perkebunan. “Saat itu memang ada masalah keuangan global, tapi perekonomian kita terpuruk parah, yang berujung pada pergantian pemerintahan, reformasi, dan kemudian demokrasi. Mengapa? Ada masalah sosial yang terlupakan, yakni ketimpangan. Saat itu terjadi peningkatan persentase Gini karena adanya konsentrasi kekayaan pada konglomerat. Ekonomi makro bagus, tapi konsentrasinya di konglomerat, yang terpuruk saat krisis global. Perekonomian Indonesia pun terpuruk. “Ini yang kami harapkan,” kata Bambang.
Faktor keempat adalah rendahnya ketahanan ekonomi. “Kalau begitu, kita rentan masuk dalam kategori miskin dan sangat miskin. Bencana alam, penyakit dan alasan lainnya. “Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi kesehatannya, ancaman lingkungan, dan ancaman bencana,” kata Bambang.

Pemerintah percaya bahwa cara efektif untuk mengurangi rasio Gini adalah melalui intervensi yang tepat sasaran, termasuk dana desa. Jadi, kalau ada kasus dana yang seharusnya dialokasikan untuk pengentasan kemiskinan ternyata digunakan secara tidak tepat, itu meresahkan, kata Bambang. Penguatan potensi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga penting.
“Kita berbicara tentang kelompok yang rentan menjadi kelompok miskin dan hampir miskin, sangat rentan untuk kembali menjadi kelompok miskin dan sangat miskin. “Bagi mereka harus ada intervensi pemerintah agar tidak mudah jatuh miskin, mendapat penghidupan berkelanjutan, atau masuk dunia usaha melalui UMKM,” kata Bambang. – Rappler.com