• March 1, 2026
Mengapa ini tidak segila kedengarannya

Mengapa ini tidak segila kedengarannya

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Meskipun banyak pembaca yang merasa terhibur atas kesalahan tersebut, seorang ilmuwan sosial menjelaskan mengapa penafsiran penduduk desa dapat dimengerti

JAKARTA, Indonesia – Sekitar seminggu lalu, sebuah kota kecil di Indonesia heboh setelah menemukan sosok humanoid di tepi pantai.

Penduduk desa percaya bahwa itu adalah bidadari yang jatuh dari langit, sehingga mereka merawat dan mendandaninya setiap hari.

Sosok itu ternyata adalah boneka seks tiup seukuran aslinya. (BACA: ‘Malaikat’ yang Dipercaya Warga Jatuh dari Langit Ternyata Mainan Seks)

Polisi setempat mendengar rumor tentang apa yang disebut malaikat, jadi mereka pergi mengunjungi rumah nelayan yang menemukan boneka itu.

Setelah memeriksanya, mereka memberi tahu penduduk desa bahwa itu memang boneka seks dan bukan malaikat – dan membawanya ke kantor polisi, diduga untuk mencegah penyebaran rumor palsu.

Cerita tentang Rappler juga dibaca secara luas oleh pemirsa di seluruh kawasan serta dari Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. 61% pembaca mengatakan mereka terhibur dengan cerita tersebut menurut ukuran sentimen Rappler.

Reaksinya serupa: Bagaimana mungkin ada orang yang mengira boneka adalah malaikat? Bagaimana orang bisa salah mengartikannya selain itu?

Inilah mengapa ceritanya tidak segila kelihatannya.

Menghormati

Made Supriatma, ilmuwan sosial asal Indonesia yang kini berbasis di Amerika, menjelaskan fenomena tersebut kepada Rappler.

“Saya melihat perlakuan yang sangat berbeda yang didapat mainan tersebut dari orang-orang yang tidak mengetahui apa itu. Yang mengejutkan saya adalah mereka memperlakukannya dengan sangat hormat. Mereka mengenakan blus dan jilbab di atasnya,” katanya.

“Orang mungkin tertawa, orang di dunia modern mungkin menertawakan hal semacam itu, tapi mereka tidak pantas untuk ditertawakan.”

Supriatma mengatakan, perlakuan terhadap boneka tersebut mengungkapkan banyak hal tentang warga sekitar yang menemukannya.

“Jika Anda melihat seseorang telanjang, Anda memperlakukannya dengan hormat, bahkan dengan boneka. Itu adalah isyarat seperti itu. Saya tidak ingin meromantisasi orang-orang di Bangui yang mengenakan pakaian pada boneka itu, tapi yang saya lihat sebagai ilmuwan sosial hanyalah perlakuan yang berbeda, interpretasi yang berbeda terhadap produk dunia modern,” ujarnya. berkata. berkata.

“Kedengarannya lucu, tapi sebenarnya tidak.”

Supriatma juga mengatakan, seperti halnya sesuatu yang misterius atau belum pernah terlihat sebelumnya, penduduk setempat harus mencari penjelasan atas sosok yang tidak biasa tersebut, terutama karena kejadian tersebut terjadi di sebuah pulau terpencil – salah satu dari 17.000 pulau di Indonesia.

“Mereka harus masuk akal, setiap orang harus memahami apa pun yang terjadi di (dunia) mereka,” katanya.

Karena realisme magis sangat hidup di Amerika Latin, imajinasi juga sangat hidup di berbagai wilayah di Indonesia.

“Ini sangat, sangat budaya. Pelajaran di dunia modern yang harus kita petik adalah Anda harus menghormati hal-hal semacam ini. Ini adalah penafsiran realitas yang sangat berbeda,” katanya.

Sedikit paparan

Supriatma juga menekankan bahwa desa-desa terpencil di Indonesia memiliki sedikit akses terhadap dunia modern – dan khususnya kurang terekspos terhadap seksualitas di luar apa yang mereka ketahui dan lihat di komunitas mereka.

“Kalau bicara soal seksualitas, tidak banyak orang yang tahu karena masyarakatnya sangat, sangat konservatif. Saya rasa mereka tidak tahu atau pernah mendengar tentang kondom. Mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Ketika saya di Indonesia, saya melihat anak-anak – pemerintah membagikan kondom untuk KB – mereka menggunakannya sebagai balon,” katanya.

Dia mengatakan, yang lucu adalah betapa cepatnya polisi setempat mengetahui apa yang terjadi. Di bawah ini adalah foto-foto yang diposting oleh seorang polisi setelah menyita boneka tersebut:

“Penduduk desa belum pernah melihat wanita seukuran aslinya. Tapi betapa cepatnya polisi mengetahui bahwa itu terbuat dari silikon!” kata Supriatma.

“Ini kampung orang (kota) – mereka tidak tahu apa itu, tapi polisi tahu apa itu dan bagaimana cara kerjanya… mereka menyita itu untuk diri mereka sendiri. Itu lucu bagiku.” – Rappler.com

Live Result HK