Mengarungi lautan ilmu dari bawah jembatan
keren989
- 0
Jembatan kolong jembatan di kawasan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, menjadi tempat tinggal sekelompok masyarakat marginal. Selama bertahun-tahun mereka tidur di tanah dan di atap beton jembatan kereta api.
Namun, sekitar setahun lalu, anak-anak jalanan yang tinggal di bawah jembatan ini mendapat perhatian khusus dari Ajeng Satiti Ayuningtyas.
Ajeng (25 tahun) mengenang kejadian tidak menyenangkan yang dialami salah satu anggota keluarganya. Saat itu, Bibi Ajeng menanyakan arah kepada anak-anak jalanan tersebut, namun mereka menjawab dengan kata-kata kasar.
“Mereka sebenarnya tidak salah. “Mereka masih anak-anak, hanya kurang ilmunya,” kata Ajeng menceritakan pengalaman tantenya.
Pada akhir Mei 2015, Ajeng dan kawan-kawan bertekad menjadi sukarelawan untuk mengajar anak-anak jalanan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mendekati orang dewasa yang tinggal di bawah jembatan. Mereka menawarkan untuk memberikan pembelajaran gratis kepada anak-anak jalanan. Itu gayung bersambut.
Pegawai salah satu perusahaan swasta ini kemudian membuat janji dengan orang tua calon siswa, dengan harapan minggu depan ada kegiatan yang mendidik anak jalanan di bawah jembatan. Namun, setelah seminggu berlalu, Ajeng dan teman-temannya terkejut karena tidak ada satupun anak yang datang untuk belajar.
Setelah bertanya kepada orang tua, anak-anak tersebut mengaku tidak mau belajar dan hanya ingin berjualan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat Ajeng. Ajeng dan teman-temannya meminta bantuan orang tua anak-anak tersebut agar ikut serta dalam kegiatan pembelajaran.
Saat itu, hanya empat anak yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di bawah jembatan dengan peralatan minim, batu besar untuk menulis, dan menghirup asap sisa pembakaran yang berada tepat di sebelah lokasi sehingga menyebabkan sesak napas. Kegiatan belajar mengajar inilah yang menjadi cikal bakal Sekolah Kolong Cikini (Seko.ci).
Sesuai dengan namanya, Seko.ci merupakan sekolah informal untuk anak jalanan yang berlokasi di bawah jembatan kawasan Cikini.
Latar belakang orang tua siswa Seko.ci bermacam-macam. Ada pula yang bekerja sebagai karyawan petugas kebersihan, pemulung, dan ada juga yang tidak bekerja sama sekali, malah bergantung pada anaknya. Di antara para orang tua ini ada yang sudah lama tinggal di kolong Jembatan Cikini, namun tak sedikit pula yang merupakan pendatang dari Jonggol, Surabaya, dan daerah lainnya.
Beberapa siswa Seko.ci sudah tinggal di daerah kolong jembatan sejak lahir. Ada juga yang orang tuanya sejak kecil membawa mereka ke bawah jembatan. Ada pula yang tumbuh besar tanpa bimbingan seorang ayah karena ayahnya dipenjara.
Ada juga yang tumbuh tanpa perawatan yang baik dari seorang ibu karena ibunya mengalami gangguan jiwa. Bahkan ada pula yang mengalami sendiri penangkapan yang dilakukan Satpol PP saat operasi penertiban.
Awalnya Ajeng dan teman-temannya merasa cukup kesulitan dalam mengajar dan berinteraksi dengan anak jalanan. Kerasnya kehidupan di jalanan ibu kota membuat anak-anak ini menjadi pribadi yang kasar dan sulit diajak belajar bahkan diajak berkomunikasi.
Ada pula yang masih bersekolah, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Kebanyakan dari mereka putus sekolah karena keterbatasan ekonomi orang tua mereka. Para lulusan sekolah ini kemudian memilih mencari uang dengan berjualan tisu di lampu merah, mengemudikan bus, memungut sampah, dan menjual jasa ojek payung dibandingkan belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Beberapa anak jalanan tersebut masih belum bisa membaca, menulis, dan berhitung meski usianya sudah menginjak 8 tahun. Namun tantangan tersebut menjadi penyemangat bagi Ajeng untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada anak jalanan.
Ia kemudian mengundang lebih banyak relawan untuk bergabung dengan Seko.ci. Para relawan yang mengajar di Seko.ci juga memiliki latar belakang profesi yang beragam, seperti pekerja kantoran, psikolog, bankir, kontraktor, pramugari, perancang busana, jurnalis, guru, dokter, dan dosen. Namun para relawan mempunyai kepedulian yang sama yaitu pendidikan anak jalanan.
Jumlah mahasiswa dan relawan yang mengajar di Seko.ci perlahan meningkat. Saat ini setidaknya terdapat 40 anak jalanan berusia 3-15 tahun dan 36 guru tetap yang terdaftar di Seko.ci.
Siswa di Seko.ci tidak dipungut biaya, dan guru tetap juga secara sukarela membantu. Dengan bertambahnya jumlah pelajar, Ajeng dan para relawan semakin serius membangun Seko.ci agar bisa memberikan edukasi kepada anak-anak jalanan.
Ikuti metode Montessori
Seko.ci memiliki visi yaitu meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak marginal dengan menggalang aspirasi sejak dini untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Untuk mendukung visi tersebut, guru tetap Ajeng dan Seko.ci lebih serius mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan metode pengajaran Montessori untuk mampu memberikan pendidikan yang tepat dan tepat sasaran kepada anak jalanan. Selain itu, Ajeng juga membentuk tim pengelola dan program kegiatan Seko.ci.
Seko.ci mempunyai dua program tetap yaitu Seko.ci Landing dan Seko.ci Sailing. Pendaratan (Bercerita dan Belajar Santai) dilaksanakan setiap Minggu sore di sekitar kolong Jembatan Cikini. Dalam kegiatan ini, Seko.ci juga mengundang relawan yang berkompeten di bidangnya.
Seko.ci pernah mengajak para dokter gigi dan dokter umum untuk memeriksakan kesehatan para pelajar saat Seko.ci mengusung tema kesehatan dan kebersihan pada bulan Maret lalu. Seko.ci juga memiliki komunitas peduli terhadap kasus perdagangan manusia dan eksploitasi anak yang datang untuk memberikan bantuan Pendidikan Seks kepada murid-muridnya.
Program kedua adalah Sailing (Ayo belajar dan berwisata bersama Seko.ci). Tahapan ini kegiatan pembelajaran dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah tempat wisata yang mempunyai nilai edukasi seperti berwisata dengan kendaraan umum, berwisata ke museum dan kebun binatang.
Memang benar dalam pasal 34 ayat 1 UUD 1945 tertulis “fakir miskin dan anak terlantar diurus oleh negara”. Namun kenyataannya ayat tersebut masih belum dirasakan oleh anak jalanan di kawasan Cikini.
Mungkin hal ini tidak hanya terjadi di Cikini saja, tapi juga terjadi di wilayah lain di Jakarta bahkan kota-kota lain di Indonesia. Oleh karena itu, Ajeng berharap dengan terbentuknya Seko.ci, masyarakat lain dapat terinspirasi untuk peduli terhadap pendidikan anak jalanan di daerahnya.
Selama lautan ilmu masih luas untuk dilayari, mengapa tidak membangun sekoci lain? —Rappler.com