• March 4, 2026
Mengetahui taktik Luis Milla, apakah cocok digunakan di timnas?

Mengetahui taktik Luis Milla, apakah cocok digunakan di timnas?

JAKARTA, Indonesia – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menunjuk Luis Milla sebagai pelatih timnas senior.

Banyak yang berharap tangan dingin pelatih asal Spanyol ini bisa mendongkrak performa timnas, mengingat pengalamannya yang panjang di Eropa.

Apalagi Milla pernah bermain untuk dua tim elite Eropa, yakni Barcelona dan Real Madrid yang memiliki dua filosofi sepak bola berbeda.

Milla bermain untuk Barcelona dari tahun 1985 hingga 1990. Dari klub berjuluk Blaugrana itu, Milla tentu sudah menyerap dasar-dasar tiki-taka yang menjadi jurus pamungkas Barcelona.

Setelah itu ia pindah ke Real Madrid dan bermain di sana hingga tahun 1997. Seperti yang kita ketahui, Real Madrid merupakan salah satu tim counter strike terbaik di dunia.

Bayangkan jika filosofi Barcelona dan Real Madrid disuntikkan ke timnas. Namun, Milla sepertinya tak ingin terburu-buru membahas taktik.

“Saya akan menularkan pengalaman saya di Eropa kepada para pemain di sini. Tapi saya harus beradaptasi dulu dengan mereka, kata Milla, Jumat 20 Januari 2017 di kantor PSSI.

Mengenal pemain tentu selalu menjadi langkah awal bagi setiap pelatih. Sebab mereka perlu mengetahui karakter dan gaya bermain masing-masing pemain.

Dengan begitu dirinya bisa menentukan di mana posisi mereka dan formasi apa yang cocok untuk tim. Namun tak ada salahnya melihat formasi favorit Milla semasa menjadi pelatih.

Saat pertama kali menjadi pelatih yakni saat dipercaya melatih timnas U-21 Spanyol, Milla lebih banyak memainkan formasi 4-5-1.

Dengan formasi tersebut, Milla sukses mengoleksi 3 kemenangan dari 4 pertandingan. Tak hanya itu, timnya juga sukses mencetak 14 gol dan hanya kebobolan 3 kali.

Bahkan saat itu, timnya sukses dengan rekamannya lembar bersih alias tidak kebobolan dalam tiga pertandingan berturut-turut dan juga mencetak 8 gol dalam satu pertandingan!

Milla masih mempertahankan formasi 4-5-1 saat ‘naik’ melatih timnas U-20 Spanyol pada 2008-2009. Saat itu, Milla meraih 10 kemenangan dari 15 pertandingan.

Tak hanya itu, timnya juga mencetak 30 gol dalam 15 pertandingan. Mereka mencetak rata-rata 2 gol di setiap pertandingan.

Catatan keren tersebut membuat Milla sukses membuat timnya finis pertama penerus di Piala Eropa U-19 tahun 2010. Milla pun ‘melangkah’ lagi dengan melatih timnas U-21 Spanyol pada tahun 2011.

Pada fase ini, Milla mulai meninggalkan skema 4-5-1 yang selama ini menjadi andalannya. Kini ia lebih sering menggunakan formasi 4-2-3-1. Dari 19 pertandingan, Milla menggunakan skema 4-2-3-1 sebanyak 10 kali, sisanya ia menggunakan 4-3-3.

Hasilnya, ia berhasil mencetak 15 kemenangan dan hanya kalah sekali. Timnya juga mencetak 46 gol dan hanya kebobolan 12 kali. Saat itu, Milla sukses membawa timnas U-21 menjuarai Piala Eropa 2011.

Ini merupakan rekor terbesar yang diraihnya bersama timnas Spanyol. Bukan sebuah catatan yang mengejutkan. Pasalnya, para pemain pada saat itu adalah pemain-pemain yang kini sudah terkenal di dunia.

Mereka adalah David de Gea (Manchester United), Marc Muniesa (Barcelona), Martin Montoya (Barcelona), Sergi Roberto (Barcelona), Thiago (Barcelona), Koke (Atletico Madrid), dan Isco (eks Real Madrid).

Setelah pensiun dari timnas, Milla kemudian terbang ke Abu Dhabi untuk melatih tim Al-Jazira pada tahun 2013. Di tim tersebut, skema permainan kurang jelas karena sering berubah.

Dalam 6 pertandingan misalnya, Milla memainkan 4 formasi berbeda, yakni 3-5-2, 3-4-3, 4-3-3, dan 4-4-2. Alhasil, ia hanya memenangkan satu dari enam pertandingan.

Dari Abu Dhabi, Milla kembali ke La Liga pada musim panas 2016. Ia melatih Real Zaragoza. Di tim medioker tersebut, Milla memainkan 12 pertandingan, 8 diantaranya dengan formasi 4-2-3-1.

Di empat laga tersisa, ia memainkan skema 4-4-2, 4-1-4-1, dan 4-3-3. Hasilnya tidak menggembirakan. Zaragoza hanya memenangkan 3 dari 12 pertandingan di bawah kepemimpinannya. Mereka pun hanya mencetak 12 gol dan kebobolan 18 kali.

Milla kemudian meninggalkan Real Zaragoza pada 24 Oktober 2016 setelah gagal meraih kemenangan dalam enam pertandingan berturut-turut. Alhasil, Real Zaragoza turun ke peringkat 15 klasemen, yang terburuk sepanjang musim.

Tentu kita berharap tren buruk Milla berakhir di Zaragoza, agar pelatih berusia 50 tahun itu bisa kembali bersinar bersama timnas Indonesia.

Pasalnya PSSI menargetkan medali emas pada Sea Games 2017 yang digelar di Malaysia pada 19-31 Agustus. Ini akan menjadi ujian pertamanya.

Untuk itu, Sekjen PSSI Ade Wellington mengatakan pihaknya akan memberikan Milla nama-nama 50 pemain terbaik untuk dipantau dan dipertimbangkan masuk timnas.

PSSI juga akan mewajibkan setiap klub melepas pemainnya jika Milla memanggil mereka ke timnas. Dengan begitu, Milla akan lebih leluasa dalam memilih pemain.

“Juga akan ada beberapa uji coba selama tujuh bulan ke depan, termasuk yang tergolong pertandingan FIFA,” ujarnya Ade Wellington.

Laga uji coba dan nama pemain yang bebas dipilih akan memberikan keleluasaan bagi Milla untuk mengotak-atik taktik, termasuk formasi dan skema permainan.

Lantas formasi dan gaya bermain seperti apa yang akan Milla masukkan ke timnas? Tentunya sangat tergantung dengan nama pemain yang akan dipilihnya nanti. Oleh karena itu, harap bersabar. Pasalnya Milla baru akan berlatih efektif pada 8 Februari mendatang. —Rappler.com

uni togel