Mengukur kualitas calon gubernur DKI lewat debat pertama
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Debat perdana calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta digelar pada Jumat malam di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.
Tiga pasangan calon yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno memaparkan visi dan misinya.
Debat yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB – 22.00 WIB ini dipandu oleh mantan presenter televisi Ira Koesno. Ia membagi perdebatan menjadi enam segmen.
Selain memaparkan visi dan misinya, para kandidat juga saling mengkritik bahkan melontarkan sindiran terhadap kandidat lainnya. Perdebatan sengit apa yang terjadi pada debat tadi malam? Berikut ulasannya:
Visi sosial-ekonomi lainnya
Pada segmen pertama, moderator menanyakan masing-masing calon gubernur dan wakil gubernur DKI tentang visi sosial ekonominya.
Agus Harimurti mengatakan, untuk mengembangkan sosial ekonomi Jakarta, pihaknya akan meningkatkan perekonomian daerah, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendidikan dan transportasi umum.
Agus juga akan memberikan bantuan langsung sementara (BLS) sebesar Rp1 miliar untuk setiap RT/RW dan bantuan modal sebesar Rp50 juta untuk setiap unit usaha.
Hal ini juga akan mengatasi kemacetan dan banjir yang selama ini menjadi permasalahan klasik Jakarta. “Jakarta harus menjadi lebih modern, namun tetap menjadi Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Ahok mengatakan, untuk mengembangkan sosial ekonomi Jakarta, yang perlu dilakukan adalah pembenahan birokrasi.
“Karena tanpa birokrasi yang bersih mustahil program yang baik bisa tercapai,” kata Basuki Thajaja. Birokrasi, kata Ahok, adalah mesin pembangunan.
Ahok mengkritik program Bantuan Langsung Sementara yang akan dilakukan pasangan Agus Harimurti-Sylviana Murni. Menurutnya, program tersebut tidak mendidik.
Wakil Ahok, Djarot Saiful Hidayat, juga menyoroti program bantuan langsung sementara tersebut. Djarot menanyakan bagaimana dana Rp 1 miliar itu dipertanggungjawabkan.
“Bagaimana caranya mengelola dana RT/RW senilai Rp1 miliar agar bisa mempertanggungjawabkan dananya dan tidak masuk penjara?” kata Djarot.
Di segmen lain, alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Agus mengkritisi pemimpin yang selalu mencurigai rakyatnya. “Ini masalahnya, pemimpin yang selalu curiga terhadap rakyatnya sendiri,” kata Agus.
Agus menilai pertanyaan Djarot soal ‘bagaimana mencegah orang masuk penjara’ tidak tepat. Menurutnya, pertanyaannya seharusnya ‘bagaimana jika mereka berhasil’. “Pertanyaan ini belum pernah ditanyakan,” katanya.
TONTON: Agus: Masalahnya pemimpin selalu curiga terhadap rakyat pic.twitter.com/PSqv3VmaGN
— Rappler Indonesia (@RapplerID) 13 Januari 2017
Anies Baswedan juga mengkritisi program bantuan langsung yang diusung Agus. Menurut Anies, pengentasan kemiskinan harus dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja, bukan dengan memberikan bantuan.
Anies juga mengatakan, dirinya dan Sandiaga Uno akan menghadirkan kredit bantuan usaha yang dapat merangsang tumbuhnya lapangan kerja baru. Selain itu, ia juga akan memberantas narkoba. “Kami akan teguh memerangi narkoba sampai tuntas, tanpa toleransi sedikit pun,” ujarnya.
Ahok mengkritik komitmen Anies dalam pemberantasan narkoba. Di segmen lain, Ahok bercerita, Ketua Badan Narkotika Nasional (NNA) Budi Waseso pernah bercerita ingin memasukkan kurikulum anti narkotika di sekolah.
Namun hal itu ditolak oleh Pak Anies (Baswedan) yang saat itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), kata Ahok.
Pengusiran
Tema menarik lainnya pada debat pertama calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta adalah penggusuran. Sesuai dugaan, duet Ahok-Djarot menjadi pasangan yang paling disorot dalam tema kali ini.
Maklum, keduanya adalah petahana. Ahok bahkan kerap dicap sebagai gubernur yang digulingkan karena kerap memukimkan kembali warga dari satu tempat ke tempat lain.
Oleh karena itu, saat mendapat kesempatan, Agus Harimurti pun melontarkan pertanyaan tajam kepada Ahok. Berikut pertanyaannya:
“Bagaimana rasanya melihat warga yang hidupnya semakin sulit dan kehilangan segalanya, mereka disegel dan harus diusir dari Jakarta. Jakarta untuk siapa, warganya ingin bahagia?”
Anies Baswedan juga mengkritisi kebijakan Ahok yang menggusur warga Jakarta. Menurut dia, penggusuran harus dilakukan sesuai prosedur dan tidak mengabaikan hak warga yang akan digusur.
“Kita akan meremajakan kota, bukan mengosongkannya, apalagi mengosongkannya tanpa memperhitungkan rasa keadilan,” kata Anies. “Pemindahan dilakukan dengan mempertimbangkan hak dan penghidupan mereka.”
Ahok menjawab pertanyaan Agus dan mengatakan Agus hanya melihat satu lokasi penggusuran lalu mengambil kesimpulan. Malah banyak masyarakat yang bersyukur (digusur), kata Ahok.
Ahok mengatakan, pihaknya hanya mengintai wilayah yang berada di aliran sungai. “Kami tidak pernah mengintai daerah yang tidak dekat sungai,” kata Ahok.
Dampaknya, kata Ahok, berkurangnya banjir. Dia mencontohkan di Semper, Jakarta Utara. “Dulu di sana terendam air selama tiga minggu, sekarang hanya beberapa jam,” lanjut Ahok.
Selain itu, Ahok juga mengatakan, selama ini pihaknya belum pernah melakukan penggusuran suatu wilayah sebelum menyiapkan rusun untuk mereka. “Itulah yang kita sebut sebagai manusia,” kata Ahok.
Ahok mengaku kaget dengan pasangan calon lain yang menyatakan akan mengelola sungai tanpa menggusurnya. Menurutnya hal itu mustahil.
“Kami tidak mengerti bagaimana sungai yang tadinya 30 meter, kini hanya 5 meter, bisa dikembalikan menjadi 30 meter tanpa harus memindahkan rumah-rumah yang tidak layak huni,” ujarnya.
Djarot menambahkan, sangat tidak manusiawi jika pemimpin membiarkan warganya tinggal di rumah yang tidak layak huni di bantaran sungai dan kolong jembatan.
Djarot Saiful Hidayat. Menurut dia, penggusuran harus dilakukan karena warga Jakarta tidak bisa tinggal di bantaran sungai dan tidak bisa hidup di bawah jembatan.
“Tidak manusiawi jika kami membiarkan saudara-saudara kami tinggal di bantaran sungai selama berpuluh-puluh tahun. Makanya kami menyediakan apartemen yang layak, kata Djarot.
Anies mengakui ketegasan Ahok dalam mengusir warga Jakarta. Namun, dia mempertanyakan ketegasan Ahok dalam memberantas prostitusi.
“Kalau soal penggusuran kita tegas, tapi kalau soal prostitusi (Hotel) Alexis malah lemah. “Kami akan tegas menghadapi mereka,” kata Anies.
Balas Ahok, “Waktu Pak Anies bilang tak berani tutup Alexis, sebenarnya kami tutup (klub malam) Stadion dan Miles.”
Integritas mitra
Dalam perdebatan ini, integritas pasangan juga ditonjolkan. Ira Koesno selaku moderator mempertanyakan komitmen mereka jika terpilih menjadi Gubernur DKI.
Salah satu persoalan integritas yang ditanyakan adalah apakah mereka berminat mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2019?
Djarot menjadi kandidat pertama yang menjawab pertanyaan tersebut. Menurut Djarot, dirinya dan Ahok akan mengabdi kepada masyarakat Jakarta selama lima tahun ke depan.
“Perjuangan belum selesai, kami ingin lima tahun lagi bisa mengabdi pada Jakarta,” kata Djarot. Banyak yang bertanya mengapa Ahok tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Sementara itu, Agus Harimurti menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur mengapung. Ia tak menjawab tegas apakah akan mencalonkan diri pada Pilpres 2019 atau tidak.
“Kami hadir untuk memperjuangkan kesempatan membuktikan bahwa kami mampu berjuang untuk masyarakat Jakarta,” kata Agus.
Bagaimana dengan Anies Baswedan? Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan, dirinya dan Sandi diberi amanah menjadi cagub oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Presiden PKS Sohibul Iman.
“Amanat dari Pak. Prabu Subianto dan Bpk. Mohammad Sohibul Iman akan memimpin Jakarta selama 5 tahun. “Ini amanah kami dan akan kami selesaikan,” kata Anies.
Perang kata-kata Ahok-Anies
Dalam debat tadi malam, Anies Baswedan melontarkan kritik pedas terhadap Ahok. Menurut Anies, Ahok terlalu fokus membangun infrastruktur sehingga lupa membangun manusia.
“Sudah beberapa kali ditekankan sejak dulu, konsentrasi pada manusia. “Jangan asal membuat benda mati yang bisa difoto dan diperlihatkan ke media,” kata Anies.
Ahok menjawab, pembangunan masyarakat harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur. Ia mencontohkan, saat membangun taman, ia tidak hanya membangun taman, tapi juga menciptakan interaksi sosial bagi warga.
Pembangunan masyarakat, lanjut Ahok, juga harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur. Bagaimana masyarakat bisa beribadah dengan baik kalau tempatnya terendam banjir selama tiga minggu, kata Ahok.
Ahok membalas Anies yang dinilainya terlalu teoretis. “Kalau dibilang bangun, bangun, manusia tidak punya benda mati, itu namanya teori. Belajar menjadi dosen di kampus hanya sekedar omongan. Aku ingin bangun ini atau itu, tapi tidak ada tindakanujar Ahok.
Menanggapi kritik tersebut, Anies hanya menjawab singkat: “Pertanyaannya bagaimana membangun manusia, jawabannya tidak nyambung sama sekali,” kata Anies.
Pada debat tadi malam, sejumlah kandidat masih memberikan jawaban normatif. Tentu saja, kami mengharapkan jawaban yang jelas dalam dua debat berikutnya.
Sehingga masyarakat bisa mengukur ketegasan, keseriusan dan komitmennya. Karena tanggapan normatif sulit diukur karena sifatnya yang ‘tidak berwujud’.
Debat selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Jumat, 27 Januari 2017. Penting sekali bagi warga Jakarta untuk ikut serta dalam debat ini agar kita tidak membeli kucing dalam karung. —Rappler.com
Baca juga: