• March 20, 2026

Menumbuhkan sudut pandang dan berbincang tentang sastra Indonesia bersama Intan Paramaditha

JAKARTA, Indonesia – Nama Intan Paramaditha mulai tenar sejak kumpulan cerpennya, Keajaiban feminin, dinominasikan untuk Penghargaan Sastra Khatulistiwa cerita pendek pada tahun 2005. Sejak kecil Intan bercita-cita menjadi penulis fiksi. Dikelilingi oleh karya Agatha Christie dan Hans Christian Andersen, ia terinspirasi untuk menulis cerita di mesin tik pemberian ibunya.

“Mungkin aku punya gambaran romantis tentang penulis dan dunianya sendiri di balik mesin tik,” kata Intan kepada Rappler saat diwawancarai melalui email.

Cita-citanya menjadi seorang penulis selalu ada dalam pikirannya. Namun lucunya, kini Intan justru berprofesi sebagai akademisi. Wanita kelahiran Bandung ini merupakan dosen di bidangnya studi media dan film dari Universitas Macquarie, Sydney.

Setelah lulus dalam bidang Sastra Inggris dari Universitas Indonesia pada tahun 2001, Intan menempuh pendidikan Master of Arts di University of California, San Diego, kemudian melanjutkan pendidikannya dengan menyelesaikan program doktoral di bidang Cinema Studies di New York University. .

Sejak satu dekade terakhir, Intan mengaku tertarik pada isu kebangsaan dan kosmopolitanisme, mudik dan perjalanan, serta ikatan dan pencabutan akar. Baginya, hal itu terinspirasi dari dirinya yang sebenarnya tidak pernah kembali ke Indonesia.

“Saya terus berpindah kota dan negara selama 12 tahun terakhir, jadi pertanyaan tentang hubungan antara globalisasi dan perbatasan negara, serta hubungan lokal dan global, selalu membuat saya penasaran,” katanya.

Tak hanya itu, karyanya juga membahas isu gender dan seksualitas, budaya, dan politik. Juga terinspirasi oleh fiksi, horor, mitos dan dongeng.

Ajak pembaca ‘berkeliaran’

Ketertarikan Intan terhadap kampung halaman, perjalanan dan hijrah inilah yang akhirnya melahirkan karya terbarunya, Gentayangan: Pilih Petualangan Sepatu Merah Anda Sendiri. Novel fiksi terbaru ini memiliki format pilih petualangan Anda sendiri dan mengajak pembaca untuk menemukan kisah para pelancong, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian rumah, rute, dan pintu keluar darurat yang ada. Itu semua tergantung pembaca jalan mana yang mereka pilih.

Gentayangan akan membawa pembaca ke New York, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, bahkan hingga masjid di Jakarta.

Novel ini terinspirasi dari derasnya arus pergerakan manusia melintasi batas negara. Intan melihat banyaknya masyarakat yang melakukan perjalanan dan berpindah secara intens, mulai dari wisatawan, migran hingga pengungsi. Selain itu, Berjalan-jalan juga mempertanyakan arti ‘pulang’ dan ‘pulang’.

Berjalan-jalan “Berkisah tentang keinginan untuk menyeberang yang datang bersamaan sekaligus berbenturan dengan batas dan tembok,” ujar perempuan berusia 37 tahun ini.

Di samping itu Berjalan-jalanIntan memiliki beberapa karya terbitan seperti Keajaiban feminin, Kelompok Anak Laki-Laki Setandan menulis Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Prosesnya.

Kelompok Anak Laki-Laki Setan yang ditulisnya bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad, merupakan penghormatan kepada Abdullah Harahap, seorang penulis horor terkenal pada tahun 1970-an dan 1980-an. Novelis ini meraih penghargaan Kompas untuk cerpen terbaik tahun 2013 atas cerpennya The Lost Man Solidarity Club.

Pertanyakan semuanya

Intan ingin menjadi penulis yang tidak pernah merasa aman dengan cara pandang, pendekatan dan wawasan yang dimilikinya. Ia tidak mau berhenti belajar dan berhenti bertanya.

Sebab, pertanyaan baginya adalah yang mendorongnya untuk terus berkarya. Mempertanyakan banyak hal dari berbagai kalangan seperti keluarga, negara, dan dunia, Intan menjadi resah dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

“Saya belajar dari mana saja, bahkan dari buku yang tidak saya sukai. Setelah itu, saya akan kembali menulis dengan perspektif baru.”

“Tulisan saya sering mengangkat wacana tertentu, alangkah baiknya jika pembaca mau masuk ke dalam wacana itu dan bersentuhan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya,” kata Intan.

Intan menganggap dirinya seorang feminis dan mengidolakan Mary Shelley dan Margaret Atwood yang mengolah kembali cerita-cerita lama dan menawarkan interpretasi baru dengan perspektif feminis. Secara umum ia menyukai tulisan-tulisan seram, aneh dan nyentrik seperti karya Edgar Allan Poe dan Roald Dahl.

Untuk terus mengasah wawasan dan memperbaharui cara pandang, Intan gemar membaca buku-buku nonfiksi yang berkaitan dengan isu yang ditulisnya. Ia sering membaca novel atau cerpen yang mempunyai tema dan gaya berbeda dengan tulisannya.

“Saya belajar dari mana saja, bahkan dari buku yang tidak saya sukai. “Setelah itu saya akan kembali menulis dengan sudut pandang baru,” ujarnya.

Pengantar Sastra Indonesia

Sebagai salah satu pembicara pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, Intan akan membahas Program Utama: Setengah Abad ASEAN pada 28 Oktober mendatang. Ia dan beberapa pembicara lainnya akan berbagi pandangan mengenai kehidupan sastra di Asia Tenggara.

Baginya, dunia sastra Indonesia sendiri mempunyai beberapa persoalan mulai dari pengarsipan, analisis kritis, penyebaran ilmu pengetahuan, hingga penerjemahan.

“Banyak karya baik yang saat ini belum diketahui generasi muda karena tidak tersedia di toko buku atau diajarkan di sekolah,” kata Intan.

Berdasarkan hal itu, Intan mencoba mengkaji dan mengajak masyarakat membaca karya-karya lama yang menurutnya patut dimasukkan dalam kurikulum sekolah, seperti karya Budi Darma atau Toeti Heraty.

Tidak hanya sastra lama, sastra kontemporer juga patut dipedulikan dan dikenalkan kepada banyak pembaca. Intan merasa terinspirasi oleh penulis-penulis yang seumuran dengannya, seperti mereka yang mulai menulis pada awal tahun 2000-an seperti Eka Kurniawan, Ugoran Prasad, Nukila Amal, dan Gunawan Maryanto.

Ia juga mendorong suara-suara penulis muda yang menawarkan perspektif segar untuk terus bermunculan dan berharap dapat didengar oleh masyarakat luas. —Rappler.com

Pembaca Rappler dapat menghemat hingga 20% untuk tiket 4 hari dan 1 hari dengan memasukkan kode MPRP17 saat checkout di website www.ubudwritersfestival.com

pragmatic play