Menumbuhkan toleransi di sekolah Purwakarta
keren989
- 0
Bandung, Indonesia – Yuranda Yacob Pesa Gambe mengepalkan kedua tangannya, meletakkannya di depan dada, lalu menutup matanya perlahan.
Di depannya, di atas meja, berdiri patung Perawan Maria, di samping sebuah Alkitab dan salib. Di belakang meja terdapat patung Yesus Kristus yang cukup besar ‘bersandar’ di dinding.
Gadis berusia 13 tahun itu kemudian terdiam. Kata-kata doa dan pujian di hari baru yang membawa kesegaran dan semangat terdengar lirih dari mulutnya.
Hari itu Yuranda berdoa bukan di gereja melainkan di salah satu ruangan SMP Negeri 1 Purwakarta. Di sekolah ini, siswa Katolik mempunyai gereja sendiri.
Gereja tidak lebih dari sebuah ruang kelas yang diubah menjadi ruang doa. Meski fasilitas ibadahnya tak selengkap di gereja, Yuranda senang.
Sebab, gereja mini ini merupakan bentuk pengakuan pihak sekolah – yang mayoritas siswanya beragama Islam – terhadap agamanya. “Saya merasa lebih berdaya,” kata Yuranda kepada Rappler pekan lalu.
Menurut siswa kelas 8 ini, keberadaan ‘gereja mini’ di sekolahnya membuatnya lebih sering berkomunikasi dengan Tuhan. “Bisa salat bersama kalangan atas,” ujarnya.
Di SMP Negeri 1 Purwakarta, terdapat 18 siswa beragama Katolik, termasuk Yuranda. Setiap Jumat pagi mereka berdoa di ruangan yang diubah menjadi gereja mini.
Tak hanya gereja mini, sekolah yang terletak di Jalan Kolonel Kornel Singawinata ini juga menyediakan musala bagi siswanya yang beragama Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan tentu saja beragama Islam.
Setiap Jumat pagi, seluruh siswa melaksanakan salat di ruangan yang telah diubah menjadi musala. Bahkan hanya satu pelajar Budha yang memiliki musala.
Ni Putu Trisna Ayu, seorang siswi beragama Hindu, sangat puas dengan kebijakan sekolah yang menyediakan musala untuk agamanya, padahal di sekolah ini yang beragama Hindu hanya ada 2 orang.
Karena Ayu biasanya harus keluar kelas saat pelajaran agama Islam, kini ia bisa melakukan ibadah khusus agama Hindu di ruangan yang telah disediakan. Dia tidak lagi merasa terisolasi.
“Oke biar bisa ibadah di sekolah, belajar jadi lebih tenteram. Mama bilang kalau kamu dapat kamar, kamu harus berdoa dengan sungguh-sungguh. Jadi saya melakukannya setiap hari tekanan doakan,” ucap gadis berambut keriting itu.
Kepala SMP Negeri 1 Purwakarta Heri Wijaya mengatakan, penyediaan musala bagi siswa non-Muslim tidak lepas dari surat edaran Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi tentang kebebasan beribadah bagi seluruh umat beriman.
Bupati Dedi tak hanya menyediakan tempat ibadah, namun juga meminta SMP Negeri 1 Purwakarta yang menjadi pilot project ‘proyek’ ini juga menyediakan guru spiritual bagi masing-masing agama.
Kebijakan ini antara lain untuk menumbuhkan sikap toleransi pada siswa, hal yang menurut Dedi mulai memudar dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau soal toleransi, kita sudah lama bertoleransi. “Saat ini bukan hanya ruang saja, Bupati juga akan menyediakan guru,” kata Heri Wijaya kepada Rappler.
Heri mengatakan, jumlah siswa di sekolahnya sebanyak 1.233 orang. Sebanyak 48 orang di antaranya adalah non-Muslim. Mereka terdiri dari 27 orang mahasiswa Kristen Protestan, 18 orang Katolik, 2 orang Hindu, dan 1 orang Budha.
Kebijakan penyediaan tempat ibadah masing-masing agama membuat pelajar non-Muslim bisa lebih merasakan kebebasan beribadah. Selain itu, pelajar muslim juga bisa mengenal tata cara ibadah agama lain.
Menurut Heri, hal ini dapat menumbuhkan rasa toleransi dan pemahaman terhadap keberagaman. “Mahasiswa yang beragama Kristen dan Katolik bisa bernyanyi dan berdoa dengan leluasa. “Mereka juga bisa leluasa mendekorasi musalanya masing-masing,” kata Heri.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, kebijakan menyediakan tempat ibadah bagi seluruh umat beragama di sekolah bermula dari keprihatinannya terhadap memudarnya rasa toleransi.
Intoleransi muncul setelah banyak orang keluar negeri, kata Dedi Mulyadi saat ditemui Rappler di rumah dinasnya di Purwakarta, pekan lalu.
Mereka yang datang dari luar negeri, lanjut Dedi, membawa organisasi, kelompok, dan keyakinannya masing-masing. “Intoleransi sedang muncul,” katanya.
Dengan disediakannya musala semua agama di sekolah, Dedi berharap tumbuh sikap toleransi di hati siswa dan alumni.
Selain itu, Dedi juga berharap musala yang ada di sekolah juga bisa membahagiakan siswa ya tentang betapa pentingnya kesetaraan dalam beribadah. “Kedepannya tidak ada lagi diskriminasi,” lanjut Dedi.
Menurutnya para siswa sangat toleran. Mereka, Dedi mencontohkan, bisa duduk satu sofa dan tetap rukun dengan temannya meski berbeda keyakinan agama. “Yang di luar itu adalah mereka yang galak, yang kemudian mencoba mengajarkan doktrin (intoleransi) kepada generasi muda,” kata Dedi.
Tentu saja Dedi tidak menyebut siapa ‘mereka’ yang dimaksudnya. Namun sepertinya kami paham siapa yang dimaksud Dedi. —Rappler.com