• March 21, 2026

Menunggu waktu berbuka puasa di masjid 1000 pintu Malang

MALANG, Indonesia – Kawasan Perumahan Islam Bihaaru Bahri Asali Fadlailiir Rahmah di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang dikenal dengan berbagai nama, mulai dari Masjid Tiban, Masjid Jin, hingga Masjid 1000 Pintu.

Di dalam gedung setinggi 10 lantai ini pengunjung bisa menemukan beberapa hal lain selain musala dan masjid untuk beribadah. Ada Pusat perbelanjaan, pujasera, dan kebun binatang yang dihuni rusa, burung, dan monyet.

Pembangunan kawasan Pondok Pesantren juga belum berhenti sejak tahun 1999. Bahkan di bulan Ramadhan seperti saat ini, sejumlah target pembangunan masih ditentukan oleh para pengurus pesantren.

Pada Jumat sore, 24 Juni, dua orang pengunjung terlihat menyusuri gang manggar, pintu masuk utama lantai dasar gedung yang tingginya 40 meter dari permukaan tanah. Mereka Wawan Hermawan, pria asal Kediri, dan Ahmad Diki, asal Nganjuk. Wawan mengaku sudah berkunjung hari ini yang kedua, sedangkan Ahmad Diki mengaku baru pertama kali mampir.

“Katanya masjid ini dibangun dalam semalam oleh orang yang jenius, sehingga saya semakin penasaran untuk datang ke sini,” kata Diki, Jumat, 24 Juni. dia mengaku tertarik dengan masjid tersebut karena berbagai cerita mistis yang didengarnya di luar.

Mal di dalam masjid

Wawan dan Diki menghabiskan waktu menjelang Maghrib di gubuk yang mengelilingi bangunan dari lantai dasar hingga lantai 10, lantai paling atas. Bangunan megah berlantai marmer utuh dan pohon buatan dari batu onyx di koridor manggar membuatnya takjub.

Naik ke lantai tiga, terdapat pohon kelapa yang menjulang tinggi menembus dinding dan lantai di atasnya di taman oval. Administrator pondok memiliki batasan dalam menebang pohon saat membangun. Ada juga ikan lohan raksasa di akuarium besar. Di lantainya juga terdapat musala yang digunakan untuk salat Subuh.

Sulit membayangkan kalau semua itu dibangun dalam semalam oleh manusia, kata Diki. Di lantai yang sama juga terdapat kebun binatang dengan rusa, burung, ayam, burung beo, dan monyet. Semua hewan tersebut diperoleh dari hadiah siswa dan pengunjung. Terdapat dokter hewan yang memeriksa kondisi hewan secara berkala.

Di lantai lima terdapat tempat salat yang lebih besar yang digunakan untuk salat Ashar, Maghrib, dan Isya, serta salat Idul Fitri pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Seperti halnya masjid, di area ini juga terdapat genderang kulit sapi berukuran besar untuk ditabuh. Sedangkan salat Duhur dan Jumat dilaksanakan di masjid lain di luar gedung 10 lantai tersebut.

Di lantai yang sama juga terdapat koridor bagi pasangan yang ingin merayakan pernikahannya di masjid. Pihak pengelola penginapan menyediakan kamar bagi calon pengantin di lantai lima untuk berbulan madu.

“Saya belum pernah melihat masjid seperti ini di mana pun,” kata Diki.

Seperti ratusan pengunjung lain yang datang ke gubuk sore itu untuk menunggu Maghrib tiba, mereka menyusuri lantai demi lantai melewati ratusan anak tangga. Lift yang ada di gedung seluas 1,5 hektare itu sengaja tidak digunakan pihak pengelola karena sering digunakan sebagai arena bermain anak-anak.

Sesampainya di lantai tujuh, pengunjung dibuat takjub dengan deretan toko layaknya di mall. Bedanya, pengunjung yang berada di dalam masjid menjelajahi toko-toko dengan melepas sepatu.

Bertemu monyet di lantai sembilan

Terdapat pula mesin ATM milik bank swasta ternama di salah satu sudut toko. Toko tersebut menjual berbagai oleh-oleh mulai dari perlengkapan keagamaan, berbagai mainan anak-anak, berbagai macam pakaian hingga peralatan memasak.

Di seberang lantai yang sama, terdapat warung-warung milik mahasiswa setempat yang menjual berbagai jajanan, aksesoris, dan makanan siap saji ala Malang dalam pujasera. Pengunjung boleh memakai sepatunya di bagian ini. Ada banyak kursi kosong. Banding pacaran juga umum terjadi di wilayah ini.

Usai berbelanja, sejumlah kera yang dirantai menempati batang pohon buatan di lantai sembilan. Pengunjung disuguhi pemandangan pedesaan terbuka di lantai ini. Terlihat sejumlah pekerja sedang memasang kubah di ketinggian 30 meter di atas permukaan tak jauh dari lantai.

“Sepertinya mitos dibangun oleh jin tidak benar, masjid ini juga dibangun oleh tukang,” kata Diki.

Pondok untuk obat liver

Siswa piket Iphoeng HD Purwanto menjelaskan kenapa ada monyet di lantai sembilan. Menurutnya, hewan ini merupakan simbol yang mengingatkan masyarakat untuk tidak sombong terhadap segala kesuksesan duniawi.

“Sebagus apapun kita manusia, ternyata kita sering kali tidak lebih baik dari kera. “Dia hewan yang rakus, sama seperti manusia yang serakah,” ujarnya.

Pondok yang dimulai pada tahun 1960 ini mulai dibangun pada tahun 1970-an. Pembangunan tidak berhenti sejak tahun 1999 dan terus berlanjut hingga saat ini tanpa menggunakan desain atau cetak biru standar. Pembangunannya juga tidak melibatkan satu arsitek pun.

“Kami belum punya cetak birunya, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) juga dibuat khusus. Semua bangunan itu dibangun atas dasar istikharah (petunjuk dalam mimpi) almarhum Romo Yai dan kini dilanjutkan oleh Bu Nyai (istri mendiang Romo Yai),” ujarnya.

Istikharah digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh santri dan pengunjung yang datang ke masjid. Pekerjaan pembangunan juga dilakukan dengan dana dari para dermawan yang ingin membantu pondok tersebut. Pembangunan yang tiada henti yang dilakukan oleh para santri sendiri seringkali membuat masjid terkesan mendadak atau mendadak.

“Ada 350 pelajar yang sudah menikah dan tinggal di sini. Kami membangun dan membuat semua ornamen masjid ini. Sengaja tidak menggunakan alat berat karena larangan Romo Yai. Alat berat menghalangi pelajar yang hendak bersedekah untuk menggunakan tenaganya,” ujarnya.

Saat Ramadhan, banyak pengunjung yang menunggu waktu istirahat di dalam gubuk. Jumlah pengunjung tertinggi terjadi pada saat hari libur, yakni mencapai 7 hingga 10 ribu pengunjung per hari. Selama bulan Ramadhan, pihak hostel menawarkan menu takjil gratis berupa kurma dan teh hangat. Ada pula buka puasa dengan menu sementara bagi santri dan pengunjung yang ingin berbuka puasa di sana.

Pihak manajemen juga selalu menetapkan target pembangunan ruas tertentu setiap hari raya keagamaan. Kali ini instruksi dari Ny. Nyai pondok disebut pembangunan di tiga bagian pondok.

Tenggat waktu harus selesai sebelum Idul Fitri. “Semuanya berdasarkan istikharah, asalkan tidak bertentangan dengan norma agama dan norma negara, boleh saja,” ujarnya.

Selain sebagai fasilitas pendidikan, seluruh bangunan juga diperuntukkan sebagai obat bagi pelajar dan pengunjung. Pengurus pondok percaya bahwa semua masalah duniawi muncul dari hati yang gelisah.

“Terkadang masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan berdoa, berdoa atau berpuasa. Masalah juga bisa diselesaikan dengan bepergian atau berjalan kaki. Harapannya masyarakat yang datang ke sini mendapatkan kedamaian, jawaban dan obat atas berbagai permasalahannya, ujarnya. – Rappler.com

Pengeluaran Sidney