• February 8, 2026
Menyalahgunakan jaket kuning untuk menyebarkan kebencian

Menyalahgunakan jaket kuning untuk menyebarkan kebencian

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Apa yang salah dengan video ini? Alumni Universitas Indonesia ini menjelaskannya

Berjaket kuning berlambang berlatar belakang gedung Rektorat Universitas Indonesia (UI). Seorang pemuda berbicara lantang dalam video yang diunggah ke YouTube pada 3 September 2016.

Ia yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Bobby Febry Krisdiyanto mengajak warga Jakarta untuk tidak memilih kembali Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama pada Pilkada tahun depan.

Alasan pertama ajakan beliau didasari oleh bunyi salah satu ayat suci salah satu agama.

Apa yang salah dengan video itu? Hampir semua orang. Dimulai dari kualitas-kualitas UI yang mungkin ia pertimbangkan untuk meyakinkan pihak luar akan kredibilitasnya, berlanjut ke lokasi syuting di rektorat UI – menara gading yang selama ini dianggap keramat oleh para akademisi.

Terakhir, masukkan undangan ke dalam video rahasia Kebencian tidak memilih orang tertentu karena berbeda keyakinan. Hal ini merupakan ironi dari kesan pertamanya sebagai mahasiswa yang harus terbuka terhadap segala pemikiran dan perbedaan.

Kenapa dia berani?

Itu semua bermula dari rasa kritik terhadap pemerintah yang berkuasa. Saat pertama kali masuk UI, Mahasiswa Baru (MaBa) akan masuk dalam ospeck. Pengalaman saya sebagai alumni UI, aspek tersebut terbagi menjadi tiga; aspek universitas (semua jurusan dari semua fakultas digabung menjadi satu aspek besar), aspek fakultas, dan terakhir aspek jurusan.

Dua aspek pertama biasanya diisi dengan argumentasi/pidato yang mengkritik pemerintah. Yang saya petik dari pidato tersebut adalah pemerintah selalu salah dan tugas mahasiswalah yang memperbaikinya. Bahkan sebelum kuliah, mahasiswa baru kami saat itu diminta untuk menulis esai folio tentang kritik sosial.

Untuk masuk ke aspek fakultas, kami diminta berdiskusi dalam kelompok kecil. Permasalahannya adalah mengenai kondisi di Indonesia. Setelah itu kami dibawa ke satu ruangan untuk “tes mental” dimana kami ditempatkan dalam sebuah formasi. Suatu bentuk kontak tubuh-ke-tubuh yang biasa digunakan selama demonstrasi jalanan.

Masalahnya, “tontonan” ini terkadang terus berlanjut setelah mereka memasuki dunia perkuliahan. Masih ada senior yang mengajak juniornya mengikuti gerakan tertentu. Nuansa politis semakin terasa pada pemilihan Ketua Badan Pengurus Mahasiswa (BEM) UI. Saya ingat ketika dua calon berkampanye di fakultas kita, ada anggota BEM Fakultas yang memaksa mereka menandatangani perjanjian bermaterai.

Pemaksaan ini bahkan membuat salah satu anggota fakultas BEM naik ke meja salah satu calon ketua. Sebuah aksi anarkis yang langsung mendapat “Huuu…” dari kami para penonton.

Intinya, etiskah politik masuk ke kampus? Betapapun sulitnya menjawab tidak, politik adalah hal yang lumrah dan lumrah di UI. Namun ketika seorang siswa menggunakan fitur UI untuk menyuarakan pendapat kelompoknya, itu disebut keterlaluan.

Bersikap kritis boleh saja, namun jangan bersembunyi di balik fitur kampus untuk mendapatkan kredibilitas bagi diri sendiri/kelompok sendiri. Bukan hanya saya yang mengkritik, masih ada orang di luar sana yang menyuarakan ketidaksetujuannya.

Sudah banyak alumni UI yang berjasa bagi Indonesia. Misalnya Prof. Mochtar Kusumaatmadja dikenal sebagai “Bapak Wawasan Nusantara”. Pria jebolan Fakultas Hukum UI ini menuangkan gagasan dan konsepnya dalam Deklarasi Djuanda yang akhirnya menjadi landasan penting dalam upaya pemersatu seluruh wilayah nusantara.

Atau si jenius ekonomi Emil Salim yang kecerdasannya sangat dikagumi Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bahkan komposer Erwin Gutawa lulusan Fakultas Teknik. Tak ketinggalan trio Warkop DKI (Dono Kasino Indro).

Apa kesamaan mereka? Mereka memberi, jangan memarahi. Mereka membuktikan apa yang mereka katakan, bukan memaksakan dugaan mereka. Yang terpenting, mereka berpindah ke dunia luar tanpa fitur UI dan menunjukkan kemampuannya.

Tak heran jika pelaku video tersebut kemudian diperkosa keluar. Pasalnya, kini UI sudah memberikan pernyataan bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan ilegal. Bobby selaku pemeran utama pun meminta maaf dengan membubuhkan tanda tangannya di stempel. Lebih jauh? Yah, dia sudah selesai. —Rappler.com

Zika adalah seorang web editor yang telah mencoba untuk tiga media nasional di Indonesia. Dia bermimpi memiliki pompa bensin sendiri sebelum dunia kehabisan minyak dan hampir mendapat gelar kutu buku sejati.