Menyelamatkan lutung kecil dari perburuan liar
keren989
- 0
Lutung kecil yang akan dipelihara harganya lebih mahal dari lutung dewasa, Rp 700 ribu per ekor
MALANG, Indonesia – Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus) berusia 10 bulan dalam risiko setelah dipisahkan dari ibunya pada Sabtu 25 Juni.
Saat ini lutung bernama Banyu tersebut sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di Balai Lungur Jawa, Kota Batu, Malang, Jawa Timur.
Banyu diserahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Surabaya untuk menjalani karantina dan selanjutnya akan dilepasliarkan kembali ke alam. Selain Banyu, ada tiga ekor lutung lagi yang diserahkan BKSDA ke pusat konservasi pada pekan ini.
Hewan endemik Jawa ini kini semakin banyak diburu. Selain untuk diperdagangkan, daging Lutung juga dikonsumsi oleh sebagian masyarakat.
“Lutung yang sedang menjalani pemeriksaan kesehatan ada empat, dua anak-anak, dua dewasa. “Semuanya berasal dari BKSDA,” kata Project Manager Pusat Rehabilitasi Javan Lungur Center (JLC), Iwan Kurniawan kepada Rappler, Sabtu.
Selain Banyu, tiga lutung lainnya adalah Rinda (betina, 3,5 tahun), Bagong (betina, 10 tahun), dan Ulfa (betina, 15 tahun).
Banyu merupakan lutung hasil sitaan pemburu, sedangkan Bagong dan Ulfa berasal dari hewan peliharaan warga Surabaya. Sedangkan Rinda ditemukan warga di Pakis, Kabupaten Malang. Saat ditemukan, dia sedang berkeliaran di sekitar kompleks perumahan.
“Rinda ini diduga milik warga perumahan lepas,” kata Iwan.
Keempat lutung tersebut kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan. Dokter hewan setempat mengambil sampel darah dan air liur mereka untuk memeriksa kemungkinan penyakit yang dapat ditularkan dari manusia, seperti hepatitis A, B dan C, herpes, dan Simian Immunodeficiency Virus (SIV).
Menurut Iwan, lutung yang berasal dari hewan peliharaan manusia mempunyai peluang besar tertular penyakit pemiliknya karena seringnya berinteraksi.
“Beberapa tahun lalu, seekor lutung tua diserahkan kepada pemiliknya dan datang ke sini dan hanya bertahan dua minggu. “Dia meninggal karena TBC yang bisa saja tertular dari pemiliknya,” kata Iwan.
Banyu, lutung terkecil dari keempat lutung tersebut, mengalami jari-jari bengkak dan daun telinga robek.
Menurut Iwan, lutung hasil buruan seperti Banyu banyak ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat proses yang tidak mempertimbangkan kesejahteraan satwa tersebut selama berada di tangan pemburu.
Misalnya, dari 10 ekor lutung yang ditangkap karena berbagai proses distribusi dan pengangkutan, hanya dua ekor lutung yang masih hidup, kata Iwan.
“Sisanya meninggal karena penanganan yang buruk. Banyu ini juga terpisah dari ibunya saat masih bayi, ujarnya.
Diburu untuk dibeli dan dimakan
Lutung berukuran kecil biasanya dihargai lebih mahal dibandingkan lutung peliharaan berukuran besar.
Lutung endemik Jawa berwarna pirang saat masih bayi dan menjadi hitam saat dewasa. Warnanya yang pirang membuat bayi lutung sangat digemari sebagai hewan peliharaan.
Sifat lutung muda yang tenang dan tidak berbahaya juga membuat hewan langka ini banyak diperdagangkan. Namun ketika sudah dewasa, banyak lutung yang terlantar karena perilakunya yang liar.
“Berdagang on line Masih populer, harganya bisa Rp 700 ribu per ekor lutung muda. “Banyak dijumpai di kawasan Tapal Kuda,” kata Iwan.
Sedangkan lutung dewasa dihargai antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.
Selain karena jual beli, perburuan lutung juga disebabkan oleh maraknya gaya hidup makan daging lutung.
Berdasarkan pengakuan para pemburu Lutung, banyak orang yang menganjurkan makan daging Lutung karena diyakini baik untuk kejantanan dan obat penyakit tertentu. “Lutung dimakan melalui hati, jeoran, dan dagingnya,” kata Iwan.
Lutung juga diburu untuk diambil dagingnya sebagai campuran obat kuat, atau makanan ringan seperti bakso. Banyak juga orang yang mengonsumsi daging lutung sebagai makanan pelengkap saat meminum minuman keras.
Lutung terdaftar dalam CITES Appendix II dengan status rentan (rentan) karena rentan terhadap eksploitasi dan jumlahnya mendekati kisaran terancam (terancam).
Pada Januari hingga Juni tahun ini saja, JLC menerima 8 ekor lutung hasil sitaan dari BKSDA. Sedangkan lutung yang diserahkan ke JLC tahun lalu berjumlah 15 ekor.
Total ada 19 ekor lutung yang saat ini tinggal di JLC Batu.
Lutung-lutung tersebut akan dilepasliarkan secara berkelompok setelah menjalani masa karantina, adaptasi terhadap pakan alami, dan sosialisasi dengan kelompok di JLC. —Rappler.com