• March 23, 2026

Mesin Rusak, Kapal Pengungsi Sri Lanka Batal Tinggalkan Aceh

Setelah mesin kapal berhasil diperbaiki, para pengungsi Sri Lanka akan diizinkan kembali ke perairan internasional.

JAKARTA, Indonesia – Kapal yang membawa 44 pengungsi asal Sri Lanka membatalkan kepulangannya ke perairan internasional pada Senin 20 Mei karena kerusakan mesin.

Saat ini TNI Angkatan Laut dibantu instansi terkait masih dalam proses perbaikan mesin.

Ke-44 pengungsi tersebut saat ini masih ditempatkan di tenda pengungsian sambil menunggu perbaikan mesin kapal selesai. Lalu kapan mereka akan berlayar kembali dari Aceh?

“Secepatnya, segera setelah perbaikan (mesin kapal) selesai. “Kapal perang kami juga siap mengawal,” kata Panglima Komando Angkatan Laut Barat (Pangarbar), Laksamana Muda TNI Achmad Taufiqoerrochman, kepada Rappler melalui pesan singkat, Senin malam, 20 Juni.

Pihak berwenang Aceh menolak membiarkan mereka tinggal di wilayahnya karena mereka tidak memiliki dokumen yang diperlukan. Berdasarkan informasi dari petugas imigrasi Aceh, rencananya 44 pengungsi tersebut akan berlayar ke Pulau Christmas, Australia.

Namun pemerintah Indonesia tidak menyarankan mereka melanjutkan perjalanan ke Negeri Kanguru. Sebaliknya, pemerintah menyarankan agar para pengungsi kembali ke negara asalnya.

Achmad mengatakan, sejak kapal kandas di perairan Lhoknga, Aceh Besar pada 11 Juni lalu, awak kapal telah memberikan bantuan kemanusiaan berupa bahan bakar, makanan, air, dan tenda pengungsian.

Sementara itu, menurut laporan kantor berita AFP, pemerintah daerah Aceh sejak awal tidak mengizinkan pengungsi etnis Tamil mendarat di pantai Lhoknga. Bahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pejabat daerah mengizinkan mereka masuk.

“Saya sejak awal sudah perintahkan gubernur dan Pemprov Aceh untuk memperbolehkan pengungsi yang harus pergi ke daratan. Mungkin Pemprov belum siap. “Saya minta biayanya ditanggung Kementerian Sosial,” kata Kalla saat menanggapi Rappler usai pertemuan dengan Pemimpin Redaksi Forum, Jumat, 17 Juni.

Kalla kemudian meminta jajarannya menghubungi Gubernur Aceh setelah mendapat perkembangan situasi di lapangan.

“Saya sampaikan kepada Pak Gubernur, alasan kami menerimanya untuk sementara ada dua. Pertama, sila ke-2 Pancasila yang berisi tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Kedua, kita mengkritik Eropa karena tidak menerima pengungsi, bisakah kita melakukan hal yang sama?” kata Kalla.

Ia meminta agar 44 pengungsi tersebut ditampung sementara. Setelah itu, pemerintah akan berbicara dengan Australia yang merupakan negara tujuan para pengungsi.

Bahkan, saat lima perempuan mencoba turun dari kapal pada 16 Juni, polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara. Pihak berwenang berbicara dengan kelima wanita tersebut dan mereka menurutinya dengan kembali ke kapal.

“Banyak sekali pengungsi yang depresi dan menangis,” kata Lilianne Fan, direktur LSM internasional Aceh, Geutanyoe Foundation.

Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi kapal yang genting namun masih digunakan untuk berlayar. Sementara itu, kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) mendesak pemerintah provinsi Aceh untuk mengizinkan mereka turun dari kapal.

Minta perahunya diganti

Permintaan Kalla kemudian ditindaklanjuti pada 17 Juni oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Pemerintah provinsi akhirnya mengizinkan para pengungsi turun dari kapal. Bahkan, mereka memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan.

Salah satu pengungsi perempuan asal Sri Lanka yang berkomunikasi dengan Zaini meminta perahunya diganti.

“Kami sangat takut karena kapal ini mengalami banyak masalah. “Kami berharap bapak/ibu bersedia mengganti kami dengan kapal lain, selama kami di sini, kami kedinginan sekali,” kata seorang pengungsi bernama Artika dalam bahasa Inggris. media.

Zaini tidak mengabulkan permintaan kapal baru. Ia hanya mengatakan akan segera memperbaiki kapal tersebut bersama Artika dan 43 pengungsi lainnya.

Kejadian serupa juga terjadi pada Mei 2015 ketika terjadi “banjir” pengungsi Rohingya asal Myanmar yang terjebak di perairan Aceh. Meski terdampar di Aceh, pemerintah provinsi dan TNI melarang kapal pengungsi mendarat di Aceh.

Bahkan, sejumlah nelayan Aceh yang hendak membantu pengungsi Rohingya juga dicegat TNI. —Menurut laporan oleh Uni Lubis/Rappler.com

BACA JUGA:

SDy Hari Ini