Minggu pagi di tenda darurat Desa Akuarium Penjaringan
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Ny. Suharti, 44 tahun, duduk di tempat penampungan sementara di atas reruntuhan bangunan di Kampung Akuarium, Penjaringan, Minggu pagi, 15 Mei. Putranya Jufriadi, 13 tahun, Senin depan harus ujian SD kelas 6. Sejak rumahnya dibongkar aparat atas perintah Pemprov DKI Jakarta, 11 April lalu, Jufri dan kawan-kawan bersekolah di SD di Gedong Panjang hadir di tenda sementara. “Saya menginap di sini karena dekat dengan sekolah anak saya,” kata Suharti kepada Rappler.
Putri sulung Suharti bernama Eka, 21 tahun. Eka pertama kali lulus SMA dan bekerja di sebuah konveksi di kawasan Penjaringan. Sebelum rumahnya dibongkar, Eka sempat sakit-sakitan. “Kekurangan kalium, kata dokter,” kata Suharti.
Mereka tinggal di kapal selama dua minggu. Ditambah angin, panas, bahkan hujan, kondisi Eka semakin parah. Berat badannya turun hingga 24 kilogram. Suharti kemudian menyuruh Eka untuk tinggal di Apartemen Kapuk Muara, dekat Tol Bandara Cengkareng. “Jauh dari sini. Minimal 1 jam, karena macet, kata Suharti.
Suharti kesal. Jika anak Jufri tamat SD, ia akan bersekolah di mana? Kalau harus sekolah di SD swasta, uangnya dari mana? “Suamiku lagi TIDAK Bekerja. Sebelumnya bekerja di pengiriman barang. “Setelah dibongkar, besi tua diambil untuk dijual,” kata Suharti. Tempat tidur yang ia tempati berukuran 2 x 3 meter persegi. Di sana terdapat beberapa bunkhouse yang dihuni sejumlah warga.
Menurut Suharti, rumahnya dulu ditaksir bernilai sekitar Rp 60-70 juta. Dua lantai, lima kamar. Sekarang sudah hilang.
Satu bulan setelah pemerintah provinsi yang diperkuat 5.000 polisi membongkar kios-kios di pasar Luar Batang dan membongkar rumah-rumah di Kampung Akuarium, kehidupan warga semakin sulit. Ada 310 kepala keluarga yang digusur. Mereka harus merelakan rumah yang sudah puluhan tahun mereka tinggali, hancur dihantam alat berat. Saat penggusuran dilakukan, sejumlah perempuan dimasukkan ke dalam bus oleh aparat, agar tidak melakukan perlawanan. “Kami dimasukkan ke dalam bus, rumah kami hilang,” kata Musdalifah, 30 tahun.
Pada Minggu pagi ini, sejumlah alat berat masih terparkir di seberang Museum Bahari yang lokasinya berseberangan dengan Pasar Ikan.
“Satu bulan lagi puasa, minggu-minggu ini anak-anak sibuk dengan ujian. “Kami tidak tahu bagaimana nasib kami ke depan,” kata Sunarsih, 52 tahun. Dia tinggal di salah satu tenda sementara. Tenda itu tidak cukup tebal untuk menahan hujan deras.
Sunarsih masih menolak pindah ke Rusun Marunda yang disediakan Pemprov. “Saya sudah tinggal di sini selama 36 tahun, punya rumah, punya dokumen, membayar pajak bumi dan bangunan.”
Halimah, 30 tahun, warga Madura yang sejak kecil tinggal di Jakarta, mengalami nasib yang lebih malang. Saat penggusuran dilakukan, dia baru saja membeli rumah seharga Rp 200 juta di Kampung Akuarium.
“Saya baru tinggal di sini selama empat bulan. Padahal saya korban penggusuran di Muara Baru. Bedanya, di sini tidak ada kompensasi sama sekali. Ada. Camat sedang berusaha mencari penggantinya, kata Halimah. Kini dia tinggal di tenda sementara. Halimah bingung bagaimana cara mengganti uang pinjaman untuk tambahan membeli rumah yang kini rata dengan tanah.
Di atas tanah yang telah ditetapkan tersebut, Pemerintah Provinsi telah memasang tanda yang menunjukkan bahwa tanah tersebut adalah milik pemerintah daerah. Oleh karena itu, warga Kampung Akuarium tidak diberikan santunan.
“Secara regulasi, mendirikan bangunan di atas tanah pemerintah adalah salah. “Sekarang kenapa pemerintah harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mengambil kembali bangunan miliknya,” kata Camat Penjaringan Abdul Khalid saat dilakukan penggusuran, sebulan lalu.
Fitri, 30 tahun, mengutak-atik antena televisi agar gambarnya tidak bergetar. Fitri tinggal satu tenda dengan Sunarsih dan Halimah. Di dalam tenda ada 10 ibu dan puluhan anak.
Aisyah, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Al Falah, sedang tidur di samping Fitri, ibunya. Adik Aisyah, Salsabila, duduk di sebelahnya. Untuk belajar, mereka menarik kabel listrik dari luar. “Kalau panas, hujan, panas,” kata Fitri.
Keluhan mereka sama. Klaim kompensasi. Fitri menyerahkan fotokopi bukti kepemilikan gedung. Diakuinya, tanah tersebut miskin. Sejumlah warga memanfaatkan surat bangunan dan tanah yang dimilikinya untuk meminjam ke bank. Artinya pihak bank menganggap surat yang kami miliki sudah sesuai hukum, kata Fitri.
Sebelum dilakukan penggusuran, Pemprov mengaku telah menyiapkan 115 unit rumah susun (rusun). Sebanyak 75 unit berada di Rusun Marunda dan 40 unit lainnya di Rusun Rawa Bebek.
Kawasan Pasar Ikan merupakan satu dari empat bagian yang akan dihidupkan kembali menjadi wisata bahari internasional oleh Pemda DKI Jakarta. Tiga kawasan lainnya adalah Kampung Akuarium, Kawasan Museum Bahari, dan Kampung Luar Batang.
Tanggapan Ahok kepada warga di tenda
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok marah besar saat melihat warga ngotot tinggal di tenda darurat.
“Silakan saja jika mereka ingin pergi ke sana. “Kami akan memberikan teguran, setelah itu kami akan mencabut haknya untuk tinggal di apartemen tersebut,” kata Ahok, Senin, 9 Mei, di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta.
Ahok ingin tahu sampai kapan mereka bisa hidup seperti ini.
Sederhana saja, kalau tidak mau tinggal di apartemen, silakan saja, berapa lama mampu, kata Ahok kepada media.
Selama ini warga yang tinggal di tenda darurat tidak bisa bergerak. “Jika kami meninggalkan tempat ini, tidak mungkin kami bisa kembali dan mendapatkan hak kami,” kata Fitri. Ia mengaku akan bertahan meski sampai Idul Fitri.
Fitri berkata: “Saat penggusuran, kami diperlakukan seperti teroris, seolah-olah kota ini adalah kota narkoba. Kami hanya salat, puasa, minta ditunda sampai setelah lebaran, kami diseret dan terpaksa naik bus.”
Letak apartemen yang terpencil, 1-2 jam perjalanan dari tempat kerja kepala keluarga dan sekolah anak, serta fakta bahwa mereka akan menjadi penyewa, membuat mereka bisa bertahan hidup. Mereka belajar dari kasus penggusuran sebelumnya. Kondisi perekonomian menurun, biaya transportasi meningkat.
Bangunan bersinar Rini (60) juga tidak tertarik dengan apartemen. Dia membangun benteng pertahanan tepat di belakang pasar heksagonal, di sebelah Pasar Ikan. Dia tinggal di sana bersama lima anaknya yang sudah dewasa. “Rumah saya sebelumnya memiliki enam kamar. “Kami disuruh pindah ke apartemen yang kamarnya hanya dua,” kata Rini.
Menurut Rini, komunikasi dengan warga sangat minim. Mereka diberitahu 11 hari sebelum penggusuran. Pada tanggal 30 Maret 2016 diberikan surat teguran ke-1, tanggal 6 April surat teguran ke-2, dan sehari sebelum penggusuran, tanggal 10 April, surat teguran ke-3.
Sejumlah warga berkumpul di musala Al Jihad, tepat di lahan yang penuh puing-puing bangunan akibat penggusuran. Musholla dibangun dengan dana masyarakat.
“Seberapa baik kita, Nyonya? Apakah ada solusi bagi kita? “Kami lelah berkomunikasi dengan pemerintah,” kata mereka.
Bangunan musala cukup rapi meski terbuat dari triplek. Di dalamnya terlihat sejumlah sajadah dan mukenah. Di sudut musala terdapat dapur sederhana. Mushola juga digunakan warga untuk berkumpul.
Tak jauh dari tempat ini terdapat Masjid Luar Batang yang terkenal. Pada Minggu pagi, ratusan peziarah datang ke sana. Bahkan di halaman masjid pun terpasang spanduk yang memprotes penggusuran tersebut

Memasuki desa yang aman dari penggusuran, warga memasang sejumlah spanduk yang mengkritik pemerintah provinsi dan Gubernur Ahok yang pro pengembang.
Di kalangan warga yang ngotot tinggal di bunkhouse dan tenda, tersebar kabar bahwa mereka terpaksa pindah pada Senin (16/5).
Rappler menghubungi Wakil Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Jupan Royter. “Saya belum menerima pesanan itu. Saya baru saja mendengarnya. “Mungkin itu Walikota,” kata Jupan.
“Sebenarnya kalau desa ini mau ditata, kami tidak peduli. Misalnya pindah sementara. Tapi kembalilah ke sini. “Karena di sinilah akar kehidupan kami,” kata Musdalifah.

Rappler mengunjungi desa di pinggiran Sungai Ciliwung, di balik tembok Gudang Timur. Gudang ini dibangun pada abad ke-17, begitu pula Museum Maritim. Sebuah tembok kuno yang patut dipertahankan sebagai cagar budaya. Beberapa warga bergotong royong menggalang dana untuk membangun rumah model sehat.
Mereka dibantu oleh Jaringan Masyarakat Miskin Perkotaan, Konsorsium Masyarakat Miskin Perkotaan, arsitek sans frontier dan Universitas Indonesia yang membangun rumah lima meter dari bantaran sungai. “Selain membangun rumah susun, kami juga bersama-sama membangun septic tank,” kata Gugun Muhammad, koordinator UPC.
Saat Rappler mengunjungi kawasan itu, keadaan cukup rapi. Warga mulai menanami bantaran sungai di depan rumahnya dengan sayuran. Jarak lima meter dari tepian sungai dibuat menjadi jalan raya. Warga tidak lagi memunggungi sungai. Sampah menjadi lebih sedikit dan sungai menjadi lebih bersih.
Percontohan rumah yang dibangun serupa dengan gagasan kampung berkuda yang dilontarkan Jokowi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta. Gagasan itu sirna setelah Jokowi dilantik menjadi presiden.
Penataan, bukan penggusuran, juga harus dilakukan di kota Akuarium – Rappler.com