Mungkin lebih tepat jika Jokowi bertemu SBY usai pilkada
keren989
- 0
Luhut menegaskan, tidak ada seorang pun yang bisa mengontrol dan menghalangi Presiden Jokowi. Semua keputusan berasal dari presiden sendiri.
JAKARTA, Indonesia – Teka-teki mengenai rencana pertemuan antara Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mulai terkuak. Pertemuan keduanya bisa saja terealisasi pasca Pilkada 2017.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan mengatakan, jika pertemuan itu dilakukan dalam waktu dekat, kurang tepat.
“Mungkin akan lebih tepat setelah pilkada. Tentu ada perhitungannya, kata Luhut saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jumat sore, 3 Februari.
Ia pun menegaskan, belum ada pihak yang melarang mantan Gubernur DKI itu bertemu dengan SBY. Luhut mengatakan, Jokowi adalah pemimpin yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun.
“Orang-orang salah paham. Salah jika melihat Presiden seolah-olah bisa dikendalikan oleh orang Badu, Pola. (Ketika) TIDAK Sekali. Presiden menerima pendapat itu, memang iya. “Kemudian beliau mendengarkan, mempelajari, dan memutuskan sendiri,” kata pria yang pernah menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ini saat memberikan penjelasan.
Meski Luhut terlihat menghadiri pertemuan antara Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, namun kali ini ia mengaku enggan terlibat. Diakuinya, posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tidak cocok menjadi penghubung antara Jokowi dan Ketua Umum Partai Demokrat.
“Saya tidak perlu bermain-main dengannya. Saya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, ujarnya.
Lantas bagaimana penjelasan Luhut saat berada di kediaman Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin di kawasan Jakarta Utara, Rabu malam? Meski posisinya bukan lagi Menko Polhukam dan jauh dari dunia politik, namun ia tetap hadir di sana.
Diakui Luhut, kehadirannya di rumah Ma’ruf atas inisiatif pribadi karena ulama berusia 73 tahun itu merupakan sahabat lama bahkan sejak mendiang Gus Dur masih hidup.
“Saya juga suka berkomunikasi dengannya. Nah, kemarin saya melihat situasi itu, jadi saya meneleponnya untuk membuat janji bertemu dengannya. Sesampainya di sana, tiba-tiba Kapolda dan Pangdam Jaya sudah ada di sana. Makanya saya hanya di sana beberapa menit saja, ujarnya.
Luhut mengatakan, keduanya membahas keadaan negara saat berbincang lewat telepon. Ma’ruf mengatakan Luhut ingin melihat Indonesia aman, tenang, dan tanpa masalah. Hal serupa juga diungkapkan Luhut saat tiba di kediaman Ma’ruf.
Dia meminta masyarakat tidak terlena dengan pos-pos fungsional yang kemudian tidak bisa menyelesaikan permasalahan. Luhut pun menyampaikan hasil pertemuan dengan Ma’ruf kepada Wiranto dan Jokowi. Mantan Wali Kota Solo ini pun menyambut baik sikap Luhut.
“Ya, (apa yang saya lakukan) benar. Begitu pula (tanggapan Presiden Jokowi). Ya nggak harus Pak Luhut, tapi siapa pun yang niatnya baik hati, untuk menenangkan keadaan. Mengapa tidak? Jadi, kita harus berpikir positif,” ujarnya.
Suara Jokowi meninggi
Luhut juga menjelaskan, dalam Pilkada sikap Jokowi tetap netral dan tidak mendukung pasangan calon mana pun. Bahkan, dalam kasus pernyataan Gubernur nonaktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama kepada Ma’ruf di ruang sidang, Jokowi meresponsnya dengan suara meninggi.
“Suaranya agak tinggi kemarin karena kakak Ahok bicara seperti itu. Sementara itu, kami ingin kalian para generasi muda juga belajar berdemokrasi dan memikirkan bagaimana caranya agar demokrasi ini bisa berjalan lebih baik lagi, ujarnya.
Jika demokrasi terus diganggu, kata Luhut, ada ancaman generasi mendatang tidak bisa menikmatinya. Untuk itu, Luhut berharap media turut berkontribusi dalam membangun demokrasi.
Ia tidak ingin Indonesia terjerumus dalam konflik yang tiada henti seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah dan Amerika.
“Kita tidak boleh terbawa suasana seperti itu,” ujarnya.
Lantas, apakah pertemuan SBY dan Jokowi benar-benar terwujud usai Pilkada? Tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar. – Rappler.com