• March 23, 2026
Musik nostalgia tahun 90an di Prambanan Jazz Festival

Musik nostalgia tahun 90an di Prambanan Jazz Festival

YOGYAKARTA, Indonesia – Panggung berlatar belakang Candi Prambanan, peninggalan sejarah, menyatukan keceriaan ribuan pecinta musik. Pada Jumat malam, 18 Agustus, Prambanan Jazz Festival seolah mengajak pengunjung menembus ruang-waktu.

Panitia menyulap area depan candi bersejarah itu dengan panggung yang dilengkapi atraksi cahaya dipadukan dengan alunan musik merdu dan romantis. Hasilnya sukses memikat penonton.

Hari pertama Jazz Festival yang digelar untuk ketiga kalinya menghadirkan band-band yang terkenal di tahun 90an. Dari Base Jam, Lingua, Emerald, The Groove, Ada Band, Katon Bagaskara, hingga Andre Hehanusa. Di atas panggung pertunjukan khususLarut malam grup musik Shakatak dan Shane Filan, penyanyi Westlife memuaskan kerinduan para penggemarnya.

Sebenarnya bukan hanya pengunjung saja yang diajak bernostalgia. Penyanyi grup Base Jam, Adon Saptowo yang kini berusia 27 tahun, mengaku ajang Prambanan Jazz membuat mereka kembali bersatu dan tampil bersama dalam formasi lengkap.

“Padahal kami sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing,” kata Adon yang kini tengah menggarap album rohani.

Jadi, lagu “Bukan Pujangga” yang pernah merajai siaran musik di radio-radio pada awal tahun 2000-an membuat semua orang ikut ikut bernyanyi. Mereka yang datang bersama pasangan atau sekedar menahan rindu akan semakin “bergairah” atau semakin emosi ketika ada band yang tampil di atas panggung.

Donnie dan staf lainnya tetap tampil manis dengan rangkaian lagu “Manusia Bodoh”, “Masih” hingga “Karena Wanita”.

Suasana semakin memanas ketika The Groove tampil bertabrakan dengan aksi panggung dinamis para stafnya.

“Tahun ini usia kami 20 tahun lho, kami senang bisa tampil di Yogya,” teriak Rieka Roeslan, vokalis band tersebut.

Bersama Reza, vokalis mereka, Rieka menyanyikan sejumlah lagu hits mereka antara lain “Khayalan”.

“Bagaimana kamu bisa hadir dalam mimpiku, padahal aku tidak merindukanmu sedetik pun,” nyanyi penonton mengiringi liriknya.

Katon Bagaskara, staf proyek KLA, membawa kembali mereka yang datang jauh dari kota Yogyakarta ke kotanya.

“Kembali ke kotamu, ada lapisan haru dalam kerinduan…. masih seperti sebelumnya, setiap sudut menyambutmu, tetap bersahaja seperti biasanya.”

Lirik lagu “Yogyakarta” identik dengan proyek KLA. Katon juga memasukkan aransemen baru untuk lagu-lagu yang dibawakan malam itu, termasuk “Tak Can Go to Another Heart”.

Shakatak, grup jazz-funk asal Inggris, naik ke panggung khusus dan membawakan sejumlah lagu favorit mereka, mulai dari “Night Birds”, “Down on the Street”, Easier Said dan Done.

Grup yang berdiri sejak tahun 1980an ini sudah pernah tampil di Indonesia sebelumnya. Namun tampil dengan latar belakang Candi Prambanan jelas merupakan sesuatu yang istimewa, ujarnya Bill Sharpe, pemain piano. Penyanyi yang juga pemain perkusi, Jill Saward, tetap memukau.

“Musik selalu menyatukan semua orang, apapun ras, keyakinan atau bangsanya. Perbedaan jembatan. “Ini yang kami temui saat tampil di berbagai tempat,” kata George Anderson menjawab pertanyaan Rappler saat konferensi pers tentang meningkatnya aksi teroris berdarah di sejumlah tempat.

Terbaru, tiga serangan teroris berdarah menyerang kota-kota di Spanyol, dua hari lalu. (BACA: TIMELINE: Serangan Teror di Seluruh Dunia)

Anggota Westlife Shane Filan menyenangkan penggemar dengan lagu-lagu romantisnya.

“Saya rasa Indonesia adalah negara yang paling sering saya kunjungi, selain tempat kelahiran saya, Irlandia tentunya,” kata Shane.

Lagu-lagu yang dekat dengan penggemar seperti “About You”, “Up Town Girl”, “Heaven” diputar dengan keras. Suara Filan cukup bagus. Beberapa penonton berteriak, “Aku mencintaimu, Shane.” yang kemudian Shane menjawab: “Aku juga mencintaimu”.

Seperti Shakatak, Shane memuji Candi Prambanan sebagai situs bersejarah yang indah dan bermakna.

“Tampil di sini terasa berbeda. “Anda patut bangga dengan candi Prambanan,” ujarnya.

Seperti skenario klasik dalam pertunjukan musik, Shane meninggalkan panggung seolah-olah dia akan pergi, dan begitulah. Lampu di panggung padam.

Penonton berteriak: “kami ingin lebih”, Lampu panggung menyala, dan Shane kembali menyanyikan dua lagu, termasuk “You raise me up.” Suasana romantis juga terpancar lewat cahaya yang dipancarkan ponsel penonton.

Yenny Wahid, Direktur Eksekutif Wahid Institute yang menikmati malam pertama Prambanan Jazz mengaku datang ke acara tersebut karena ada yang berbeda dibandingkan acara serupa.

“Suasana istimewa tercipta ketika mendengar alunan musik sembari melihat Candi Prambanan berdiri megah sebagai backdrop panggung. “Perpaduan antara modernitas dan kecintaan terhadap budaya,” kata Yenny.

Prambanan Jazz hari kedua akan menampilkan penampilan spesial Sarah Brightman, penyanyi serba bisa asal Inggris. – dengan pelaporan oleh Nadia Hamid/Rappler.com


Keluaran Sydney