Nasib pengungsi Muslim Rohingya yang salat di Makassar saat Ramadhan
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Para pengungsi mengaku betah dan berharap bisa menetap di Indonesia.
MAKASAR, Indonesia – Selama tiga tahun, Muslim Rohingya dari Myanmar terpaksa berpuasa di Makassar, Indonesia. Itu semua akibat menjadi korban konflik di negara asalnya, Myanmar.
Rappler Indonesia bertemu dengan beberapa pengungsi yang menempati tempat penampungan sementara di Pondok Merah, Jalan Pettarani 2, Makassar pada Jumat, 10 Juni. Ada sekitar 40 pengungsi dari 3 negara yang tinggal bersama.
Beberapa pengungsi asal Pakistan, Palestina, dan Muslim Rohingya terlihat berbincang di halaman gubuk. Tak sedikit dari mereka yang sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Pengelola Pondok Merah, Agus, mengatakan selama berlindung di sana, baik warga Muslim Rohingya Myanmar maupun pengungsi dari negara lain tampak akrab. Tak hanya kompak di bulan Ramadhan, tapi juga setiap hari.
Para pengungsi mengakui bahwa Indonesia memang negara sahabat. Faktanya, banyak pengungsi yang betah tinggal di Indonesia.
“Tapi sayangnya tidak mungkin berlama-lama di sini. “Secara bertahap akan dikirim ke luar negeri, seperti ke Australia dan Amerika Serikat,” kata Agus.
Pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjelaskan, keberadaan pengungsi di Pondok Merah dibiayai sepenuhnya oleh PBB. Mereka juga diberikan jadwal kursus bahasa Inggris sebagai persiapan jika hendak berangkat ke negara lain.
Meski begitu, sebagian pengungsi masih berniat bekerja di perusahaan-perusahaan di Makassar. Namun sayang, niat tersebut urung dilakukan karena kendala komunikasi.
“Bekerja di sini juga tidak semudah yang dibayangkan. “Kami butuh dokumen resmi dan sulit didapat,” kata Agus.
Istirahat dengan Roti Chapati
Lalu apa saja menu khusus pengungsi selama bulan Ramadhan? Mereka memilih roti chapati. Ini adalah hidangan khas dari Pakistan dan India.
Pengungsi yang tinggal di gubuk itu mengaku memasak sendiri. Menurut Amir yang ditunjuk sebagai kepala dapur, rekan-rekannya di perahu yang sama menyukai Roti Chapati karena rasanya yang enak dan bahan-bahannya mudah didapat di pasar tradisional.
“Ini menu wajib berbuka puasa dan setiap sore menjelang berbuka kita berkumpul membuat Roti Chapati di sini,” ujar Amir yang ditemui saat menyiapkan adonan Roti Chapati.
Bahan utama yang digunakan untuk membuat roti ini adalah tepung terigu dan mentega. Sayangnya, alat panggangan khususnya tidak mudah ditemukan di Indonesia. Oleh karena itu, mereka menggunakan penggorengan sebagai alat pemanggang alternatif lalu menaruhnya di atas kompor hingga panas.
Usai berbuka puasa, para pengungsi kemudian berangkat salat di masjid tak jauh dari tempat tinggal mereka.
“Kami sangat beruntung bisa tinggal di Indonesia, khususnya Kota Makassar. “Semua warga di sini sangat ramah dan menganggap kami bersaudara,” kata Amir.
Ia juga mengatakan, warga Makassar tidak pernah memandang pengungsi sebagai orang asing.
“Kalau disuruh memilih, kami lebih memilih bertahan di sini dibandingkan kembali ke negara kami, Myanmar,” ujarnya. – Rappler.com
BACA JUGA: