• March 23, 2026
Nelayan menolak reservasi AMDAL di Pulau G

Nelayan menolak reservasi AMDAL di Pulau G

Upaya pengembang membujuk para nelayan tidak menggoyahkan perlawanan mereka

JAKARTA, Indonesia – Sekitar 25 nelayan asal Muara Angke, Jakarta Utara, mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta pada Selasa, 11 Juli 2017. Mereka menolak membahas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Pulau G.

Sejak pukul 11.00 mereka melakukan orasi menolak berdirinya 17 pulau reklamasi di Teluk Jakarta. “Teruslah menolak! “Daur ulang merugikan para nelayan Teluk Jakarta,” kata Suhari bin Ali, salah satu nelayan yang kerap melakukan tindakan bertentangan dengan demokrasi.

Pada sesi pembahasan Amdal Pulau G, hadir perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta; Kementerian Kelautan dan Perikanan (MMF); Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenkomar); Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK); pengembang; dan perusahaan terkait. Namun sidang ini bersifat tertutup dan hanya dihadiri oleh mereka yang mendapat undangan.

Para nelayan yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) diminta menghadiri sidang tersebut. Porter menolak permintaan mereka karena tidak memiliki undangan resmi.

Setelah berdebat cukup lama, akhirnya salah satu perwakilan KNT Muara Angke yakni Iwan diperbolehkan masuk. “Saya sampaikan apa yang dirasakan para nelayan Teluk Jakarta. “Kami mengatakan para nelayan bersatu untuk berperang,” katanya kepada Rappler.

Penataan rumpon ikan

Dalam sesi ini, kekhawatiran terhadap nasib nelayan pasca pemulihan mendominasi diskusi. Hal ini termasuk menurunnya pendapatan mereka karena daerah penangkapan ikan terkubur di pasir reklamasi dan jalur pelayaran terhalang oleh sedimentasi.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Yusiono mengatakan, pemerintah sepakat menata pemukiman nelayan Muara Angke. “Bahkan akan menjadi pasar ikan terbersih, akan diperbaiki kondisinya,” ujarnya usai audiensi.

Begitu pula dengan layar kapalnya. Berbagai pilihan, mulai dari mengubah desain pulau hingga menawarkan kapal yang lebih baik, muncul dalam pertemuan tersebut.

Menurut Yusiono, rata-rata nelayan Muara Angke masih menggunakan perahu kayu berkapasitas kecil dan jarak tempuh pendek. Jalur pelayaran semakin berubah karena ditutupnya Pulau G yang patut menjadi perhatian pengembang PT Muara Wisesa Samudera.

Jika tidak mengubah jalur pelayaran, pengembang juga menawarkan untuk mendekatkan tempat pemancingan. “Nanti kita bisa membuat tempat penangkapan ikan buatan. Rumpon dibuat oleh pengembang, berdasarkan program KPKP, kata Andono Warih, Kepala Bidang Pengendalian Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Namun, proposisi yang tampaknya menarik ini memiliki celah tersendiri. Pengamat Oseanografi IPB Alan Koropitan mengatakan teknik ini hanya bisa digunakan di laut dengan ekosistem yang baik.

Rumpon atau rumah ikan ini suatu saat akan menampung ikan-ikan tersebut, sehingga nelayan tinggal datang dan menangkapnya. Ikan secara alami tertarik pada tempat-tempat dengan karang yang sehat.

“Kalau di Teluk Jakarta mungkin tidak? Apakah ada ekosistem yang masih bagus? Makanya selama ini di Kepulauan Seribu, bukan di Teluk Jakarta, ujarnya.

Iwan pun yakin tawaran itu tidak mengubah pendapatnya dan nelayan lainnya. Nelayan akan diusir, jadi kami tetap menolak,” ujarnya.

Senada dengan KNTI, organisasi WALHI juga menolak daur ulang. Namun sikap mereka ditunjukkan dengan tidak mau menghadiri sidang meski diundang.

Bagi mereka, pembangunan Pulau G di Teluk Jakarta cacat secara hukum, dan tidak bisa dilanjutkan dengan Pembangunan Reklamasi dan Rencana Pembangunan. Proyek reklamasi Pulau G terkesan tidak mempertimbangkan aspek lingkungan hidup dan hak asasi manusia, dalam hal ini juga keberadaan nelayan yang terancam ruang hidup dan wilayah pengelolaannya.

“Hilangnya Teluk Jakarta akibat pembuatan pulau-pulau palsu melalui reklamasi akan secara perlahan mengusir para nelayan,” tulis mereka dalam siaran pers yang diperoleh Rappler. Seluruh nelayan yang merupakan penduduk asli akan diusir dari Jakarta sebagai kampung halamannya.

Pulau Reklamasi yang kemudian dibangun sempat dianggap sebagai kawasan mewah, hingga akhirnya warga sekitar harus kembali digusur karena alasan kepentingan umum.

WALHI DKI JAKARTA mengingatkan gubernur terpilih akan janji kampanyenya untuk menghentikan reklamasi Teluk Jakarta selamanya dan akan melanjutkan reklamasi, kata mereka. Tim sinkronisasi juga disarankan untuk memantaunya lebih dekat dan tidak main-main untuk menghentikan pemulihan.

Terkait hasil uji coba ini, Andono mengaku akan memberitahu tim sinkronisasi Anies-Sandi melalui sesi diskusi kelompok. Namun gagasan yang ada saat ini masih sebatas saran dan keputusan akhir ada di tangan Anies selaku gubernur pada Oktober mendatang. Rappler.com

Keluaran HK