• April 8, 2026

Nilailah calon Gubernur DKI dari gerak tubuh saat debat

JAKARTA, Indonesia — Dalam sebuah debat, jawaban atas pertanyaan atau cara menjawab lawan debat bukan satu-satunya poin penilaian. Gestur tubuh juga bisa membuat seseorang menjadi lebih menarik dan persuasif.

Pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari menganalisis bahasa tubuh masing-masing calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dalam debat publik pertama, Jumat, 13 Januari lalu.

Monica menguraikannya dalam 5 kategori yaitu ekspresi wajah, gerak tubuh, suara, gaya verbal, dan isi verbal.

1. Ekspresi wajah

Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni

Monica menilai Agus kerap memaksakan diri untuk tersenyum, meski dalam situasi netral wajahnya kerap berekspresi datar.

Dasar Wajah Agus bukan Wajah Tersenyum. Sebagai mantan tentara, wajahnya biasanya datar,” kata Monica seperti dilansir ANTARA.

Menurutnya, hal tersebut mungkin bisa menjadi salah satu cara putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono ini menenangkan diri dari kegugupan yang melanda dirinya.

“Dia sepertinya menelan banyak air liur, Anda bisa mengetahuinya dari jakunnya. “Mungkin juga karena ruangannya dingin, jadi terasa kering (tenggorokan),” ujarnya.

Sedangkan Sylvi memiliki beberapa ekspresi wajah yang terlihat saat berbicara di atas panggung.

Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat

Ada dua hal yang perlu diperhatikan tentang bahasa tubuh mereka: konsisten dan spontan. Dua hal ini terpancar jelas dari sosok Ahok. Apa yang disampaikan Ahok saat debat dinilai spontan dan konsisten dari awal hingga akhir.

“Karena dia yang melaksanakannya (Gubernur) dan apa yang dia sampaikan itu kenyataannya,” kata Monica.

Namun, Gubernur DKI Jakarta nonaktif itu malah tertawa ketika menjelang akhir perdebatan muncul pertanyaan apakah para kandidat akan tergiur untuk mengikuti Pilpres 2019.

“Ini seharusnya menjadi momen yang serius,” kata Monica. Ia menilai Ahok harusnya berekspresi serius, sama seperti calon lainnya. Sebab, perbuatannya bisa menimbulkan beragam penafsiran.

“Kalau masyarakat tidak senang dengan dia, bisa diartikan dengan berbagai cara,” kata Monica.

Mirip Ahok, ekspresi wajah Djarot pun terkesan spontan dan konsisten. Mantan Wali Kota Blitar ini tampak lebih tenang karena apa yang diucapkannya saat debat adalah apa yang dilakukannya.

Anies Rasyid Baswedan – Sandiaga Salahuddin Uno

Monica menilai Anies merupakan orator ulung yang memiliki kemampuan retorika mumpuni.

Pidatonya cerdas, bahasa tubuhnya tergambar dengan baik, kata Monica.

Namun, Anies tampak kaget saat Sylvi memanggilnya “Menteri”. Namun, dia dengan cepat menyembunyikan emosinya dengan tetap memasang wajah datar.

“Bisa dilihat dari ekspresi mikronya muncul sangat cepat, seperempat detik saja sudah kaget. “Ada campuran ekspresi antara kaget dan marah,” kata Monica.

Sapaan “Pak Menteri” bisa dibilang menyinggung, padahal sudah ada komitmen sejak awal bahwa calon tidak boleh menyerang secara pribadi.

Untuk menganalisis ekspresi mikro lebih dalam, seorang ahli harus melihat detail yang terlewatkan oleh orang awam.

“Seperti di video ituberhenti sebentar“Kita bisa lihat otot mana yang rebound saat dia disetrum,” ujarnya.

Anies dan Sandi pun langsung menyembunyikan rasa terkejutnya karena sadar harus melindungi diri saat tampil di depan umum. “Itulah yang disebut aturan tampilan,” dia berkata.

Kejutan merupakan emosi awal yang dapat diikuti dengan berbagai reaksi. Anies membalasnya dengan ekspresi datar, sedangkan Sandi membalasnya dengan berusaha tersenyum.

Soal penampilan individu Sandiaga, Monica melihatnya sebagai sosok yang gemar menonton.

Salah satu contohnya adalah momen ia tertangkap kamera sambil menggelengkan kepala sambil menatap penonton, seolah memberi isyarat “tolong tenang”.

“Padahal itu bukan tanggung jawabnya,” kata Monica. Saat Anies angkat bicara, Sandi tampak seperti penonton yang seolah “tersesat” dengan retorika Anies.

2. Bahasa tubuh

Monica menilai bahasa tubuh gerakan tangan para kandidat saat debat.

Dan – Sylvi

Di awal perdebatan, Agus masih terlihat kaku. Namun tangannya menjadi lebih dinamis seiring berjalannya waktu. Tangan Agus mulai “berekspresi”.

Monica memperhatikan ada saat ketika Sylvi memasukkan tangan kanannya ke dalam saku.

“Bisa jadi karena kedinginan, tapi kalau sedang menghadapi sesuatu yang penting, sebaiknya hindari (tangan masuk saku),” ujarnya.

Ahok – Djarot

Gerakan tangan Ahok dan Djarot dinilai biasa saja dan spontan, karena apa yang diungkapkan dalam perdebatan tersebut adalah ulah mereka selama ini.

Anies – Kata Sandi

“Anise sungguh enak,” kata Monica. Ia banyak menggunakan gerakan naik turun, seperti saat berbicara tentang anti narkoba.

Gerakan tangan Anies digunakan untuk menegaskan apa yang dibicarakan atau tema yang penting baginya.

“Mungkin karena terbiasa menjadi dosen atau berbicara di depan umum,” ujarnya.

Sandi menciptakan bahasa tubuh dengan istilah “emblem”, yaitu gerakan menekan ibu jari dengan jari telunjuk hingga membentuk huruf “O” dengan tiga jari tetap terangkat saat program kerja One District One Center for Entrepreneurship (OK OCE) disebutkan.

Dengan cara ini diharapkan simbol dapat menembus alam bawah sadar penontonnya.

3. Suara

Dan – Sylvi

Nafas Agus sedikit tersengal-sengal, terdengar seperti sedang terburu-buru, memberi kesan defensif. Sedangkan Sylvi mempunyai suara yang mengalir seperti orang sedang berbicara.

Ahok – Djarot

Suaranya terdengar seperti penampilan publik mereka biasanya.

Anies – Kata Sandi

Suara Anies terdengar seperti orang sedang berbicara dan bercerita. Dia dapat mengontrol kapan tinggi, rendah, dan apa yang perlu ditekankan.

Sementara Sandiaga Uno dinilai lebih mampu menjaga nada suaranya sehingga terdengar lebih tenang dibandingkan Agus.

4. Gaya verbal

Monica menyadarinya Silvia Dan berpasir sering menggunakan kata “saya” dibandingkan “kita” untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dilakukan sendiri.

Sandiaga Uno misalnya mengatakan: “Saya sedang mengembangkan UKM”. Bisa dipastikan bukan hanya dia saja yang menjadi pelatih, namun ada tim yang terlibat dalam pengerjaannya.

Gaya verbal seperti itu memang terlihat sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, namun Monica mengatakan alasan di balik gaya verbal para kandidat tersebut harus ditelusuri lebih dalam.

5. Konten

Monica menganalisis logika kata-kata yang diucapkan para kandidat hanya dari segi bahasa, apapun isu politiknya.

“Hanya untuk mengedukasi masyarakat jika melihat informasi dari isi verbalnya, apakah informasi tersebut logis atau tidak?”

Dilihat dari sisi logis, spontan dan detailnya sobat Ahok – Djarot dianggap lebih baik dari yang lain karena dapat menggambarkan data dari kenyataan.

“Yang lain mengatakan itu masih mengudara,” katanya.—Rappler.com

uni togel