• April 9, 2026
Nusron Wahid mengkritik pemecatan Yorrys Raweyai

Nusron Wahid mengkritik pemecatan Yorrys Raweyai

Menurut dia, yang lebih pantas dipecat adalah kader-kader yang terlibat korupsi

JAKARTA, Indonesia – Keputusan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto memecat kadernya menuai kritik. Koordinator Kemenangan Pemilu Wilayah I (Sumatera dan Jawa) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Nusron Wahid, protes keras terhadap penggantian Yorrys Raweyai dari jabatan Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.

“Ya saya TIDAK Saya setuju kalau ditanya soal pemecatan itu, ujarnya saat ditemui usai rapat paripurna di kantor DPP Golkar, Kemanggisan, Jakarta, 11 Oktober 2017.

Yorrys Raweyai dicopot dari jabatan koordinator lapangan segera setelah Setya Novanto keluar dari rumah sakit. Novanto sempat dirawat di rumah sakit jelang pemeriksaan statusnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi KTP Elektronik.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan permohonan praperadilan yang diajukan Novanto terkait penetapan tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi.

Saat Novanto dirawat di rumah sakit, Yorrys diduga melakukan manuver dengan mengusulkan penunjukan penjabat ketua umum partai.

Menurut Nusron, pemecatan merupakan langkah buruk bila dilakukan sekarang. Pasalnya, Partai Golkar butuh dukungan lebih menjelang pemilu. Pemecatan yang terjadi saat ini justru mengurangi dukungan yang diterima partai. Di sisi lain, peningkatan jumlah kader perlu dilakukan.

Yang parahnya masyarakat punya pendukung, sepuluh ribu, seribu, dua ribu, tiga ribu, sedangkan kita butuh pengikut, kata mantan Ketua Umum GP Ansor itu.

Pemecatan satu orang tidak hanya akan mengakibatkan berkurangnya satu suara, melainkan banyak suara. “Kalau dipecat nanti kecewa, keluarga kecewa, teman kecewa, kolega kecewa di kemudian hari. TIDAK jadi pilih lagi. “Sikap saya seperti ini,” lanjutnya.

Baginya, kebangkitan harus meningkatkan kekuatan partai untuk mencapai tujuan politiknya dan bukan malah sebaliknya. Namun Nusron mengaku belum bisa mengubah keputusannya.

“Namanya restrukturisasi, revitalisasi, itu dalam rangka proses peningkatan kekuatan untuk memenangkan pemilu berikutnya. Tapi diputuskan seperti itu. “Kita lihat saja bagaimana,” kata Nusron.

Tolak Hak Angket Pansus KPK

Lebih lanjut, Nusron mengatakan, para koruptor layak mendapat pemecatan lebih lanjut. “Yang seharusnya dipecat adalah orang-orang yang terbukti melakukan tindak korupsi. Itu harus dipecat. “Ideal,” lanjut Nusron.

Hal ini juga terkait penolakannya terhadap keterlibatan partai di Pansus Soal KPK. Baginya, tindakan tersebut tidak bermanfaat bagi cita-cita dan misi partai untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.

Begitu pula dengan keberadaan Pansus Penyidikan KPK yang di mata masyarakat menjadi upaya melemahkan pemberantasan korupsi.

“Jadi kalau ada yang bilang keberadaan Pansus KPK akan menguatkan, itu bagus. Namun kenyataannya, masyarakat menilai keberadaan Pansus Angket KPK dinilai bertentangan dengan pemberantasan korupsi dan menghambat upaya penegakan hukum, khususnya penegakan antikorupsi, jelasnya.

Menurut Nusron, jika dibiarkan berlarut-larut, Partai Golkar akan identik dan dianggap sarang korupsi oleh masyarakat. Dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Oleh karena itu, dia menyarankan agar tindakan tersebut segera dihentikan.

“Karena harapan tertinggi masyarakat adalah terhadap pemerintah yang seperti itu membersihkanpartai politik yang mana membersihkan. Kalau tak percaya coba lakukan survei hari ini, lebih percaya apa yang disampaikan Pansus Angket KPK atau yang disampaikan KPK? “Saya yakin tanpa diwawancara pun mayoritas responden akan lebih percaya dengan apa yang disampaikan Komisi Pemberantasan Korupsi,” lanjut Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) itu.

(BACA: Lima Kader Partai Golkar Terdakwa Kasus Korupsi)

Nusron mengatakan kritiknya mendapat beberapa tanggapan dalam pertemuan tersebut. “Ada yang mendukung anggukan, TIDAK berani mengatakan, Sangat. Ada yang menentang keras, Pak Agun dan Misbakhun, banyak sekali. Ada anggota panitia khusus. Disebut banyak orang, ada yang berani, ada pula yang berani TIDAK berani. Kebetulan Tuhan memberi saya kesenangan dan memberi saya keberanian seperti itu, kata Nusron.

Saat Novanto memimpin rapat, polisi menjaga ketat kantor DPP Golkar. Usai pertemuan, Setya Novanto menghindari awak media. Sekjen Idrus Marham mengusulkan Eko Wiratmoko sebagai pengganti Yorrys Rawerai. Yorrys sekarang menjadi kader tetap. –Rappler.com

sbobet mobile