Nyok ayo ke Terogong beli Batik Betawi
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Penanda “Kampung Batik Terogong Betawi” terlihat di Jalan Terogong III, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. “Kalau Anda tinggal di Betawi, wajib memakai Batik Betawi,” begitulah slogan yang tertulis di spanduk menyambut kedatangan Anda di Kampung Batik Betawi Terogong.
Selain spanduk, pengunjung juga disambut gazebo mini yang berisi foto-foto kegiatan dan kunjungan komunitas yang digagas Siti Laela sejak tahun 2012. Termasuk foto-foto saat Laela diminta menjelaskan proses pembuatan batik kepada Miss Universe 2015 Helena Christensen saat berkunjung ke Indonesia.
Memasuki “kampung” Batik Betawi, pengunjung bisa menikmati mural di dinding rumah-rumah di sana yang bertemakan Betawi, mulai dari Ondel-ondel, Tugu Monas, hingga penari Yapong.
Rumah Siti Laela menjadi etalase ratusan batik tulis dan perangko dengan berbagai motif. Anak bungsu dari 10 bersaudara yang pernah tinggal di Terogong III no. Ditinggali kawasan 27 C, menginspirasi semangat keluarga besar, saudara, dan tetangganya untuk melestarikan Batik Betawi.
Dibandingkan dengan batik produksi Yogyakarta, Solo, Semarang bahkan Madura, Batik Betawi kalah populer. Di kota-kota tersebut, batik telah menjadi industri besar yang mempekerjakan ratusan pembatik dan ribuan pekerja lainnya.
Industri batik cap pencetakan (mesin cetak) muncul, dan harus bersaing dengan batik cap impor dari China yang dijual lebih murah.
Siti Laela mengatakan bahwa di era VOC – Perusahaan Hindia Timur Belanda), Batik Betawi pernah menjadi industri besar. Salah satu pengusaha VOC yang mendirikan usaha batik Betawi adalah Eliza Van Zuylen.
“Dia menjual batik ke pasar kelas menengah atas, pejabat pemerintah, dan kolonial Belanda,” kata Laela kepada Rappler, Sabtu, 8 Juli 2017.
Dari referensi yang ada, Laela menemukan bahwa aktivitas membatik di Betawi (atau Batavia pada masa penjajahan Belanda) sudah berlangsung lama.
“Waktu saya kecil sekitar tahun 1960an, masih banyak kegiatan membatik di Terogong. “Kegiatan ini perlahan menghilang pada tahun 1970an,” kenang Laela.
Murahnya harga batik cetak mesin membuat omzet penjualan Batik Betawi turun drastis, baik berupa batik tulis maupun batik cap. Akibatnya, banyak perajin yang berhenti membatik dan beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan.
Kenangan masa kecil dan keinginan untuk melestarikan Batik Betawi membuat Laela yang mengajar di sebuah SMK di Jakarta Selatan memulai kegiatan Kampung Batik Betawi Terogong. Bersama keluarganya, ia mulai memproduksi batik dengan motif yang diambil dari budaya Betawi.
Kisah dibalik motif Batik Betawi
Laela mengawalinya dengan menampilkan motif-motif yang merupakan ikon budaya tradisional ibu kota Jakarta. Mulai dari Ondel-Ondel yang diyakini masyarakat Betawi dapat menangkal kejahatan (malapetaka atau musibah), penari Yapong, hingga kain batik motif gigi buaya tumpal yang terinspirasi dari jajanan khas Betawi: Roti Buaya.
Diakui Laela, dari motif tradisional yang ada, motif Ondel-Ondel dan Tugu Monas lah yang paling populer. “Motif ini sudah menjadi identitas kota Jakarta. “Jadi masyarakat langsung tahu itu Batik Betawi,” kata Laela.
Tumpal merupakan salah satu bentuk motif yang sebaiknya diletakkan di bagian depan saat kita memakai kain batik. Ada pula motif Burung Hong yang diyakini masyarakat Betawi sebagai burung keberuntungan dan rejeki.
Diakui Laela, dari motif tradisional yang ada, motif Ondel-Ondel dan Tugu Monas lah yang paling populer. “Motif ini sudah menjadi identitas kota Jakarta. “Jadi masyarakat langsung tahu itu Batik Betawi,” kata Laela.
Tak hanya melestarikan motif tradisional Betawi, Laela dan para pembatik juga mengembangkan motif dari hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi. Seperti batik dengan motif buah mengkudu.
“Dulu di sini banyak terdapat pohon Mengkudu yang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. Saya membuat motif Noni Spread. Artinya Anda harus gigih dan sabar. “Masyarakat Betawi yang terus terpinggirkan harus tetap tegar dan sabar,” kata Laela.
Ada juga motif yang terinspirasi dari kenangan masa kecil. “Saat saya membuat motif perdu kuku (pacar kuku), saya teringat masa kecil saya yang suka bermain semak kuku di Terogong. “Dulu nail bush sering digunakan untuk mewarnai kuku wanita,” kata Laela.
Proses pembuatan Batik Terogong Betawi dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan. Banyak pelanggan yang harus mengantri untuk mendapatkan motif batik tertentu yang kebetulan terjual habis. Mulai dari kemiringan, pewarnaan hingga kering.
Saat ini terdapat 15 kepala keluarga yang terlibat dalam komunitas ini, dan 12 orang perempuan berusia 30-40 tahun aktif membatik. Ada juga pembatik laki-laki, termasuk yang membuat batik cap.
Awalnya sulit mengajak orang lain untuk ikut membatik. “Katanya membatik itu pekerjaan lama. “Bahkan melalui batik ini kita bisa melestarikan budaya Betawi,” kata Laela.
Kegigihannya dalam menyemangati anggota keluarga dan tetangga membuahkan hasil. Kampung Batik Betawi Terogong mulai menarik minat pembeli dan wisatawan mancanegara.
Misalnya saja rombongan wisatawan asal Jepang yang pernah datang untuk belajar membatik. Laela pernah ditawari pameran di mal. “Tapi prosedurnya ribet, jadi untuk saat ini saya jualan di rumah dan lewat Instagram,” kata ibu tiga anak ini.
Pesanan yang masuk setiap bulannya cukup banyak, meski jumlahnya belum bisa dipastikan. Harganya bersaing dengan batik sejenis dari daerah lain, mulai dari Rp 100 ribu hingga termahal, dengan bahan tenunan tangan atau tenun sutra, lebih dari Rp 1 juta per lembar.
“Membatik membutuhkan waktu yang lama, 1-3 bulan untuk selembar kain, apalagi jika memesan motif khusus,” kata Laela.
Dalam satu bulan, omzet sekitar Rp 15 juta – 20 juta dinikmati oleh para produsen batik di kawasan Terogong III. Diakui Leila, pendapatan dari kegiatan pengembangan batik masih belum stabil. Promosi masih minim. Oleh karena itu, ia tetap menjalankan profesi utamanya sebagai guru SMK. Meski demikian, Laela tetap berharap batik Betawi akan menjadi batik populer di masa depan.
Laela bertekad terus berinovasi agar batik Betawi tidak dianggap kuno. Penggunaan motif dan warna yang cerah diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk mengenakan Batik Betawi.
Setiap akhir pekan, Laela siap menerima pengunjung, termasuk mereka yang ingin melihat proses pembuatan batik. Jadi, warga Jakarta tunggu apa lagi? Ayo ayo Jalan-jalan ke Kampung Batik Betawi Terogong.
Berikut beberapa motif khas yang dihasilkan Batik Terogong Betawi:




Bagi yang ingin berkunjung ke Terogong namun malas membawa kendaraan sendiri bisa memanfaatkan kupon UBER Di Sini!
—Rappler.com