Om Telolet Om: Sebuah kejayaan budaya lokal yang berumur pendek
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Tren Om Telolet Om sempat menurun setelah mencapai puncaknya pada 21 Desember lalu
JAKARTA, Indonesia — Topik Telinga Telolet Telinga telah menjadi perbincangan di media sosial sejak awal pekan ini. Tak hanya di Indonesia, fenomena ini juga sudah mendunia.
Namun sepertinya hal ini sudah menjadi tren Telinga Telolet Telinga mulai muncul di media sosial pada hari Jumat, 23 Desember. Berdasarkan pantauan yang dilakukan media intelijen Dari Australia, Isentia, istilah yang menjadi trending sejak 19 Desember, kini mulai menurun setelah mencapai klimaks pada Rabu 21 Desember.
Berdasarkan pantauan kami, netizen lokal yang membahas masalah ini di berbagai media sosial mencapai poin tertinggi pada tanggal tersebut, kata general country manager Isentia Jakarta Luciana Budiman dalam rilis resmi.
Total percakapan yang tercatat pada 19 hingga 23 Desember mencapai 176.984 (96,81%) berdengung untuk netizen lokal.
Selain itu, Isentia juga menghitung jumlah percakapan di media sosial dari Amerika dan Inggris dengan jumlah gerakan 1968 (1,07%) di Inggris dan 5.766 (3,12%) di Amerika.
“Netizen Amerika lebih banyak dibandingkan warga Inggris, karena salah satu alasannya karena Presiden Obama membahasnya di akun Twitter-nya,” kata Luciana.
Fenomena ‘Telolet’ sebagai penyeimbang budaya global
Menurut pakar komunikasi Ilya Revianti, fenomena tersebut memang terjadi Telinga Telolet Telinga merupakan fenomena “kemenangan sesaat” budaya lokal atas budaya global. Perjuangan budaya hasil konstruksi realitas sosial, hasil kreativitas anak bangsa yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia merupakan fenomena yang menarik untuk disimak lebih lanjut.
“Semua orang bisa menjadi penghasil pesan berupa ekspresi kreatif tentang realitas sosial yang dihadapinya sehari-hari,” kata Ilya Revianti.
Berkat media sosial, arus informasi di dunia tidak lagi satu arah, namun terjadi juga arus balik budaya yang datang dari berbagai tempat.
Selain itu, Ilya juga mengungkapkan fenomena tersebut menjadi bukti bahwa media sosial bisa menjadi alternatif sumber penyeimbang informasi.
“Sebagai catatan, kita perlu memanfaatkannya dengan bijak. Dan yang terpenting adalah bisa memilah konten mana yang sampah dan mana yang bermanfaat,” kata Ilya.—Rappler.com
BACA JUGA: