Pada proyeksi tahun 2017, Kementerian Perdagangan akan menurunkan target pertumbuhan ekspor
keren989
- 0
Sementara untuk perdagangan dalam negeri, Enggartiasto akan fokus pada kebangkitan pasar.
JAKARTA, Indonesia – Pada tahun 2017, Kementerian Perdagangan berencana memangkas target ekspor nonmigas hingga setengahnya.
Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (NMPD), target pertumbuhan ekspor nonmigas tahun ini seharusnya sebesar 11,9 persen. Namun Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menurunkannya menjadi 5,6 persen.
“Sejalan dengan dinamika perkembangan ekonomi global yang cenderung melambat,” ujarnya kepada media di kantornya, Rabu 4 Januari.
Angka baru tersebut dinilai lebih realistis dan sejalan dengan kondisi perekonomian dunia saat ini.
Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Perdagangan akan terus melakukan ekspansi ke pasar baru di berbagai negara dan melakukan diversifikasi produk. Menurut Enggartiasto, cara tersebut cukup berhasil pada tahun 2016.
Selama setahun terakhir, Kementerian Perdagangan mendorong surplus neraca perdagangan, antara lain dengan misi dagang di Kuwait-Oman dan Nigeria-Ghana yang menghasilkan total transaksi sebesar US$18,38 juta.
Tak ketinggalan, misi pembelian juga sukses meraup US$211,87 juta. Promosi dan 25 pameran dagang pada tahun 2016, yang terdiri dari 8 pameran dalam negeri dan 17 pameran di 8 negara, mencatatkan total transaksi sebesar US$106,90 juta.
Upaya pendekatan di forum internasional juga akan terus dilakukan, menyusul pencapaian di tahun 2016.
Pertama, dikeluarkan Deklarasi Menteri Forum Perdagangan Dunia (WTO) tentang dimensi pembangunan dan fasilitas perlakuan khusus dan berbeda (SDT). Pemerintah juga berhasil menerapkan penurunan tarif hingga 5 persen terkait daftar produk ramah lingkungan dalam kerangka Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
“Penanganan permasalahan non-tarif dan sistem penyelesaian sengketa yang baru beroperasi pada Oktober 2016 diharapkan dapat langsung diakses oleh pelaku usaha ekspor-impor,” ujarnya.
Sementara itu, akhir tahun 2016 merupakan akhir yang bermanfaat bagi neraca perdagangan Indonesia. Surplus tercatat hingga November 2016 sebesar US$837,8 juta atau meningkat 21,3 persen dibandingkan tahun lalu.
Meskipun pertumbuhan ekspor mengalami penurunan sebesar 5,9 persen pada bulan Januari-November 2016, namun keseimbangan tersebut diimbangi oleh penurunan impor sebesar 5,94 persen.
Sasaran dalam negeri
Sementara untuk perdagangan dalam negeri, Enggartiasto akan fokus pada kebangkitan pasar.
Pada tahun 2016, Kementerian Perdagangan telah menghidupkan kembali 878 pasar rakyat yang terdiri dari 168 pasar melalui dana tugas pembantuan dan 710 pasar melalui Dana Alokasi Khusus APBN.
Pada tahun 2017, Kementerian Perdagangan menargetkan membangun atau menghidupkan kembali 272 pasar rakyat dari dana tugas bantuan. Untuk mencapai target 1.000 pasar, sisa pembangunan akan bersumber dari Dana Hibah Khusus yang dialokasikan kepada kabupaten/kota.
Inflasi dan stabilitas harga pangan juga tidak luput dari perhatian. Pada tahun 2016, Kementerian Perdagangan mengklaim telah berhasil menjalankan amanah Presiden Joko “Jokowi” Widodo.
Dalam hal menjamin ketersediaan stok dan stabilisasi harga kebutuhan pokok, Kementerian Perdagangan berhasil menjaga harga berbagai kebutuhan pokok hingga cukup stabil, bahkan cenderung turun, seperti beras, daging ayam, telur ayam, daging sapi. dan gula pasir.
Beberapa komoditas hortikultura seperti cabai merah keriting, cabai merah besar, dan bawang merah, meski sempat tinggi, namun saat ini trennya menurun.
“Komoditas pangan yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap inflasi pada tahun 2016 adalah cabai merah dan bawang merah yang saat ini harganya mulai turun,” ujarnya.
Inflasi pada tahun 2016 tercatat sebesar 3,02 persen, dan merupakan angka terendah sejak tahun 2010. Dibandingkan dengan inflasi tahun 2015 sebesar 3,35 persen yang disebabkan oleh kenaikan harga beras sebesar 0,31 persen; daging ayam ras 0,15 persen; dan bawang merah 0,15 persen.
“Inflasi pada tahun 2016 sebenarnya menunjukkan tidak ada kontribusi dari beras dan ayam ras,” kata Mendag. Inflasi dan stabilitas harga barang diharapkan dapat dijaga melalui renovasi sistem gudang, pemotongan rantai distribusi dan juga sistem pasar.—Rappler.com