• February 28, 2026
Pak Jokowi, tahukah Anda kalau setiap hari ada ribuan warga Papua yang ditangkap?

Pak Jokowi, tahukah Anda kalau setiap hari ada ribuan warga Papua yang ditangkap?

Hampir 2.000 warga Papua ditangkap di Jayapura, Sorong, Merauke, Fakfak, Wamena, Semarang dan Makassar! Demikian isi pesan singkat yang saya terima pada Senin sore dari seorang teman di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Tiba-tiba aku terbelalak. Penasaran, saya terus membaca.

Ternyata yang ditahan paksa aparat adalah aktivis yang memprotes aneksasi Papua ke dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia pada 1 Mei 1963. Tak hanya itu, mereka juga mendukung Gerakan Pembebasan Papua (ULMWP) untuk menjadi anggota tetap kelompok diplomatik transnasional Melanesian Spearhead Group (MSG).

Entah kenapa petugas berseragam coklat ini terlihat takut dengan aksi damai masyarakat Papua. Mereka menangkap semua orang yang terlibat aksi tanpa terkecuali. Kebanyakan dari mereka kini telah dibebaskan, namun permasalahan yang masih tersisa adalah mengapa pembungkaman suara masih diperbolehkan oleh pihak berwenang? Bukankah Indonesia sudah merdeka dan hak berpendapat, berserikat, dan berkumpul dijamin konstitusi?

Saya merasa ingin segera meneruskan pesan singkat ini kepada orang nomor satu di Indonesia sembari saya mengajukan satu pertanyaan besar: “Bapak Presiden RI Joko Widodo yang saya hormati dan dikatakan sangat peduli dengan Papua, mungkin bisa menjelaskan alasannya. Papua tidak bebas bersuara?”

Mungkin banyak di antara kita yang lupa kalau tanggal 1 Mei 1963 merupakan hari penting bagi masyarakat Bumi Cendrawasih. Tapi saya yakin Pak Jokowi tidak melupakannya. Berusia lebih dari setengah abad bukanlah usia muda untuk bebas bersuara.

Perlu diingat, metode membungkam suara ini tidak terjadi sekali pun. LBH Jakarta mencatat, sebelum aksi salat pada 1 Desember 2015, di Taman Bunga Bangsa Papua di Nabire ditangkap sebanyak 17 orang dan warga yang ingin beribadah juga ditangkap sebanyak 32 orang. Pada perayaan yang sama di tempat lain, 306 anggota Aliansi Mahasiswa Papua ditangkap aparat dan tiga jurnalis asing yakni Step Vaessen (Al Jazzeera), Chris Burmitt (Bloomberg) dan Archicco (ABC Australia) mendapat intimidasi saat meliput aksi di lokasi tersebut. Bundaran HI, Jakarta.

Ekstremnya, di bulan yang sama, empat warga Papua dilaporkan tewas dan delapan lainnya luka-luka di Serui, Papua, diduga akibat penganiayaan yang dilakukan pihak berwenang menyusul penangkapan mereka karena menggelar upacara pengibaran bendera Bintang Kejora.

Satu tahun sebelumnya, di bulan yang sama, terjadi tragedi berdarah di Paniai yang mengakibatkan empat remaja tewas dan 17 orang lainnya luka-luka di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Paniai Timur. LBH Jakarta mencatat penangkapan 15 orang warga Papua di Timika pada 5 April 2016, 6 orang di Yahukimo, dan 15 orang di Kaimana pada 12 April 2016, serta 13 orang di Merauke, 3 orang di Sorong, dan 11 orang di Jayapura pada 13 April 2016. Dari mereka yang ditangkap diduga ditelanjangi, dipukuli dengan tongkat senapan, ditendang dan digantung di bawah sinar matahari.

Humas untuk Jokowi

Pada tahun 1969, masyarakat Papua Barat diajak untuk memilih apakah ingin bergabung dengan Indonesia atau tidak melalui Penentuan Pendapat Populer (Pepera), yang hasilnya dilaporkan ke Majelis Umum PBB. Namun di pengadilan, John Saltford dalam bukunya PBB dan Pengambilalihan Indonesia atas Papua Barat 1962-1969 mengatakan, diplomat Bolivia bernama Fernando Ortiz-Sanz mempertanyakan kebebasan berpendapat, bergerak, dan berkumpul masyarakat Papua saat itu. Meski ada laporan Sanz, PBB tetap mengakui Papua sebagai bagian dari Indonesia. Namun siapa yang berbicara dalam Pepera tersebut, apakah benar-benar mewakili suara masyarakat Papua?

Membicarakan Papua tidak bisa menghilangkan konstelasi politik dan ekonomi pemerintah Indonesia saat itu. Presiden Indonesia ke-2 Suharto mengizinkan perusahaan Amerika PT Freeport untuk menambang tembaga dan emas di Pulau Burung selama 30 tahun ke depan sejak tanggal 7 April 1967, setelah peraturan pertama Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing ditandatangani. Uang dan Harta yang Diperoleh Ekspatriat, Bagaimana Kondisi Masyarakatnya?

Jika masyarakat merasa mendapat perlakuan adil atas tanahnya, mungkin tidak akan ada protes dari warga sekitar, termasuk masyarakat Papua. Mereka tetap menginginkan kebebasan hidup di tanahnya sendiri, tapi apakah Pak Jokowi bisa mengabulkannya?

Jokowi berkunjung ke Papua sebanyak lima kali selama 1,5 tahun. Akhir April 2016, ia mengunjungi perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini, memantau proyek pasar Mama-mama di Papua, dan meresmikan Bandara Domine Eduard Osok di Sorong. Pada awal bulan yang sama, ia berangkat ke tiga provinsi, termasuk Papua Barat, untuk meresmikan pelabuhan Wasior sebagai realisasi program Tol Laut.

Kunjungan sebelumnya pada akhir tahun 2015 untuk penempatan kapsul waktu di Merauke, meresmikan bangunan otonom di Wamenda dan bermalam di Raja Ampat. Sementara itu, pada Mei 2015 ia meresmikan Merauke sebagai kota lumbung pangan nasional. Setahun sebelumnya, Jokowi merayakan Natal bersama masyarakat Papua.

Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa Jokowi menggunakan pendekatan pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi di Papua. Apakah pendekatan dialog yang mengangkat harkat dan martabat Papua seperti yang dijanjikan sebelumnya sudah terlaksana?

Reporters Without Borders memberitakan bahwa pada tahun 2016 Indonesia menduduki peringkat 130 dari 180 kategori kebebasan pers karena berkurangnya akses ke Papua Barat dan hal ini dibuktikan dengan ditangkapnya sejumlah jurnalis asing yang hendak meliput. Jokowi memang menjanjikan kebebasan akses informasi pada pertengahan tahun 2015, namun hingga saat ini apakah sudah ada pihak hitam dan putih yang secara jelas menyatakan kebebasan tersebut? Belum.

Pada bulan Mei 2015, Jokowi memberikan grasi melalui grasi kepada lima tahanan politik di Papua, namun apakah sudah dilakukan dialog dengan kelompok masyarakat di Papua? Tidak ada jaminan. Buktinya, ribuan aktivis Papua ditangkap di sejumlah daerah karena mengutarakan pendapatnya.

Sementara itu, Jokowi menerbitkan Peraturan Negara Nomor (PP) 77 Tahun 2014 yang memperbolehkan pembelian saham Freeport mulai Oktober 2015. Namun hingga saat ini sahamnya belum terbeli. Negosiasi masih berlangsung. Pemerintah Indonesia ingin membeli 10,64 persen saham tersebut seharga US$630 juta. Namun angka tersebut tidak disetujui oleh Freeport.

Tapi apakah sekadar membeli saham bisa mendatangkan kesejahteraan bagi warga sekitar? Sekali lagi, bagaimana dengan hak mereka untuk memilih jalan mereka sendiri dan mengekspresikan ide-ide mereka?

Pak Jokowi, pekerjaan rumah Anda untuk Papua belum selesai seperti yang Anda janjikan saat kampanye Pilpres 2014.

Belajarlah dari Gus Dur

Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Pak Jokowi belajar kepada pendahulunya, Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur. Gus Dur bisa dikatakan telah memanusiakan orang Papua. Gus Dur mengembalikan nama Irian Jaya ke Papua meski mendapat tentangan dari DPR.

Pada 1 Januari 2000, saat menjabat, Gus Dur pun menyetujui pengibaran bendera Bintang Kejora, meski dengan syarat tidak boleh lebih tinggi dari bendera Merah Putih. Greg Barton dalam biografi Gus Dur menyebut pria asal Jombang ini bahkan pernah difitnah dan dikritik oleh wakilnya sendiri, Megawati Soekarnoputri, dan tokoh politik Golkar Akbar Tandjung. Megawati dan Akbar menilai, bendera Bintang Kejora yang kerap dikaitkan dengan gerakan separatis tidak boleh dikibarkan.

Gus Dur acuh tak acuh. Ia bahkan meluangkan waktu puluhan tahun lalu untuk bertemu dengan tokoh masyarakat setempat dan mengajak berdialog.

Meski ditentang, ia tetap menunjukkan posisi politik yang jelas: bagaimana menghormati kebebasan berekspresi dan berpendapat orang Papua. Bagaimana dengan Pak Jokowi? Haruskah kita menunggu kejadian berdarah sebelum mengambil sikap tegas? – Rappler.com

Aghnia Adzkia adalah jurnalis lulusan UGM dan pernah bergabung dengan CNN Indonesia yang menangani isu hak asasi manusia, korupsi, dan kriminalitas. Bisa ngobrol lewat @aghniaadzkia.

HK Malam Ini