• March 22, 2026
Para ahli memperingatkan ancaman bencana hidrometeorologi akibat La Nina

Para ahli memperingatkan ancaman bencana hidrometeorologi akibat La Nina

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Banjir di beberapa provinsi menandakan sebagian wilayah Indonesia tidak mampu menerima curah hujan ekstrem karena pengelolaan permukaan yang tidak memadai

SOLO, Indonesia – Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) merekomendasikan pemerintah segera membentuk konsorsium nasional yang bertugas merancang sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi yang akurat, update real-time dan pada skala wilayah terkecil sehingga dapat menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk mengambil tindakan antisipatif.

BMKG mengeluarkan peringatan akurat pada 17 Juni bahwa akan terjadi hujan lebat hingga 20 Juni. Namun peringatan tersebut dinilai terlalu umum karena tidak ditindaklanjuti dengan peringatan dari pemerintah mengenai informasi potensi bencana berdasarkan lokasi dan waktu, padahal banjir dan tanah longsor merupakan jenis bencana yang dapat dilacak.

“Harus lebih spesifik untuk menyebutkan area tertentu sesuai dengan tingkat ancamannya, bisa diupdate setiap jam atau bahkan setiap menit. Sistem peringatan dini Hal semacam ini sudah diterapkan di beberapa negara, kata Kepala Pusat Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT dan Ketua Pokja Cuaca Ekstrem IABI Tri Handoko Seto dalam konferensi pers di Solo, Kamis, 23 Juni.

Iklim global saat ini sedang mengalami peralihan dari El Nino ke La Nina yang akan berdampak pada anomali cuaca di kepulauan Indonesia hingga awal tahun 2017.

Berbeda dengan El Nino yang menyebabkan kekeringan, La Nina membawa banyak uap air, meningkatkan curah hujan, menyebabkan musim kemarau basah antara bulan Juli-September, dan mencapai puncaknya pada bulan November-Desember bertepatan dengan musim hujan. Indonesia diperkirakan akan mengalami kelebihan air sehingga berpotensi terjadi banjir dan tanah longsor.

“Hujan saja di musim kemarau sudah cukup menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Sumbar, Sumut, dan Sulut. “Ini baru transisi, belum puncak,” kata Tri.

Banjir di beberapa provinsi menandakan sebagian wilayah Indonesia tidak mampu menerima curah hujan ekstrem karena pengelolaan permukaan yang tidak memadai. Jakarta misalnya, curah hujan 20 mm saja sudah cukup menimbulkan banjir.

Pada puncak La Nina, curah hujan di Indonesia bisa mencapai 100 mm dalam satu hari. Daerah yang mempunyai potensi bencana paling besar adalah daerah yang mempunyai lereng dan dataran rendah.

Sementara itu, Ketua Pokja Banjir IABI dan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada Agus Mariyono menyarankan agar sungai, danau, bendungan, dan bendungan resapan diperbaiki sebagai solusi banjir. Selain karena semakin banyaknya sampah yang menumpuk dan rusaknya pemukiman warga, sebagian besar sungai-sungai besar di Indonesia mengalami kerusakan, termasuk akibat adanya penyumbatan dan perbaikan aliran yang menyebabkan banjir di bagian hilir – termasuk Bengawan Solo dan Citarum.

Selain itu, pola pikir masyarakat saat ini adalah banjir bisa diatasi dengan sistem drainase yang baik. Padahal, kata Agus, drainase konvensional justru menjadi penyebab banjir karena semakin lancar saluran drainase air permukaan maka semakin cepat pula meluapnya sungai.

“Drainase menghilangkan air permukaan. “Jadi semakin bagus drainase di Bogor, maka Jakarta akan semakin cepat terendam banjir,” kata Agus.

Padahal yang dibutuhkan saat ini adalah solusi untuk mengurangi air permukaan yang terbuang di sungai, salah satunya adalah metode pemanenan air hujan (panen hujan). Selain menghidupkan kembali danau buatan, kolam dan kolam dengan konsep eko-hidrolik – dengan vegetasi di sekelilingnya, bukan beton – air hujan dari atap dapat ditampung di reservoir di rumah-rumah untuk digunakan. Pemerintah juga bisa mewajibkan setiap pabrik memiliki kolam hujan sebagai sumber air untuk industri, selain membantu mengurangi banjir.

Cara lainnya adalah dengan membuat sumur resapan (infiltrasi dengan baik), yaitu genangan di dalam tanah untuk menampung air hujan dan meresap ke dalam tanah untuk mengisi kembali cadangan air tanah. Tak hanya meredam banjir, sumur resapan juga terbukti mampu menghidupkan kembali sumber air yang mati di musim kemarau.

“Banyak cara yang bisa dilakukan, yang terpenting adalah mengurangi air hujan di permukaan agar tidak terbuang sia-sia, tidak membuat drainase besar-besaran,” kata pakar ekohidrolik tersebut. – Rappler.com

BACA JUGA:

Keluaran Sydney