Para pengedar narkoba memanfaatkan lemahnya penegakan hukum di Indonesia
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui Indonesia kini menjadi pasar utama peredaran narkoba melalui jaringan internasional. Menurut Tito, mereka mengetahui implementasi hukum di Indonesia masih lemah sehingga mereka memanfaatkannya sebagai celah.
Oleh karena itu, Tito memberikan instruksi tegas kepada jajarannya untuk menembak pengedar narkoba jika dirasa melakukan perlawanan.
“Kami juga memberikan peringatan yang lebih spesifik kepada pelaku asing, karena yang jelas banyak pelaku (penyelundupan narkoba) adalah warga negara asing. “Mereka menganggap Indonesia sebagai salah satu negara tujuan utama,” kata Tito di Polda Metro Jaya usai mengekspor barang bukti 1 ton sabu dari China pada Kamis 20 Juli.
Dibandingkan dengan implementasi peraturan perundang-undangan di negara tetangga, peraturan perundang-undangan di Indonesia relatif lemah. Singapura dan Malaysia menerapkan hukuman mati dengan cara menggantung pelanggar narkoba. Indonesia juga mengeksekusi 18 narapidana narkoba meski mendapat protes keras dari berbagai pihak.
“Mungkin hukum di Singapura ketat, begitu pula hukum di Malaysia. Sementara itu, tindakan tegas telah diterapkan di Filipina. “Akhirnya mereka melihat selain pasar potensial, kita mungkin dianggap lemah dalam bertindak, hukum kita dianggap lemah, sehingga menggenjot di Indonesia,” ujarnya.
Belajar dari hal tersebut, Tito berpesan kepada jajarannya untuk menindak tegas para pengedar narkoba, terutama pelaku asing. Bahkan dikatakannya menyelesaikannya secara adat, artinya jika ada yang melawan akan langsung ditembak mati. Terbukti dalam kasus penyelundupan 1 ton sabu, 1 warga Taiwan tewas ditembak.
Oleh karena itu, DPO-nya adalah empat negara
Tito mengatakan sabu seberat sekitar 1 ton bisa masuk ke Indonesia dari China melalui jalur laut. Keempat pelaku asal Taiwan itu berlayar ke Laut China Selatan. Dari sana, mereka mengambil paket sabu tersebut di Myanmar dan masuk ke Indonesia melalui Pantai Anyer.
Pihak berwenang mengetahui perjalanan tersebut pada pertengahan Juni.
“Mereka menggunakan jalur laut dengan kapal dari Taiwan. Mereka berlayar dari Laut Cina Selatan, lalu ke Johor, dan masuk ke Selat Malaka. “Mereka kemudian membawa barang tersebut ke perairan Myanmar,” kata pria yang pernah menjabat Kepala BNPT ini menjelaskan jalur penyelundupan 1 ton sabu tersebut.
Pelaku menaiki kapal berukuran tidak terlalu besar bernama Wanderlust. Kapal melintasi pantai barat Sumatera dan memasuki Pantai Anyer melalui Selat Sunda.
Keempat pelaku kemudian memindahkan satu ton sabu ke tengah laut dengan perahu karet. Mereka kemudian membawanya ke dermaga bekas Hotel Mandalika Anyer, Serang, Banten.
“Setelah kapal menurunkan barang, kapal kemudian bergerak kembali menuju Laut Jawa, Selat Karimata dan menuju Batam,” kata Tito.
Kapal pengangkut narkoba itu baru tertangkap saat terdeteksi saat ditarik di perairan Tanjung Berakit, Pulau Bintan, Kepulauan Riau pada Sabtu, 15 Juli.
Penangkapan kapal tersebut dilakukan setelah polisi bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Saat ini, polisi sedang memeriksa kapal tersebut. Mereka mengecek GPS untuk mengetahui posisi kapal masuk dan keluar serta jalur pengiriman sabu tersebut.
“Kapalnya juga masih diperiksa karena pengenalannya belum tentu sama dengan posisi GPS, seperti posisi saat masuk. “Jadi, saat ini masih didalami,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan kapal Wanderlust merupakan kapal yang dicari empat negara. Bea dan Cukai langsung mengerahkan tim untuk mengejar kapal Wanderlust dan berhasil ditangkap. Pengejaran dilakukan setelah mendapat instruksi dari Presiden Joko Widodo.
“Kapal Wanderlust telah menjadi sasaran operasi di empat negara selama 2 bulan. Presiden Jokowi menginstruksikan seluruh pejabat dan lembaga yang mempunyai kewenangan untuk bekerja sama. Alhamdulillah akhirnya kapal ini bisa ditangkap di perairan Indonesia beserta barang bawaannya, kata Sri di Polda Metro Jaya.
Sementara itu, Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari mengaku belum mengetahui detail empat negara yang menjadikan kapal Wanderlust sebagai DPO. Namun BNN telah mendapat informasi setidaknya ada lima negara yang akan dilalui kapal tersebut, yakni Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Myanmar.
Arman mengatakan, kapal tersebut terus bergerak sehingga sulit dilacak.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, sumber sabu sebanyak satu ton ini berasal dari Segitiga Emas ASEAN. Kini barang ilegal mulai diproduksi di Sungai Mekong.
“Sekarang sudah berpindah ke Sungai Mekong, di situlah sindikat ini beroperasi. Termasuk diambil dari Myanmar, Laos, dan Thailand, kata Arman.
Sulit mengungkap jaringannya
Di tempat yang sama, Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kompol Nico Afinta mengatakan, cukup sulit mengungkap jaringan ini. Karena antar distributor, pengirim dan penerima tidak saling mengenal, sehingga proses pengungkapannya memakan waktu tambahan 1,5 bulan.
“Jadi awak kapal, penerima di Serang, dan yang akan menerimanya di Jakarta dikontrol dari luar negeri. Tak satu pun dari mereka mengenal satu sama lain. “Sel ini diputus dan dikontrol dari luar,” kata Nico.
Nico mengatakan, para tersangka yang ditangkap di Serang belum mengetahui kepada siapa barang tersebut akan dikirim. Pihak berwenang kini terus berupaya mengungkap aliran barang dan modal untuk pengiriman. – Rappler.com