Pasca peristiwa pengepungan asrama, mahasiswa Papua di Yogyakarta dicap sebagai separatis
keren989
- 0
Kebanyakan dari mereka kini mengaku sudah tidak nyaman lagi tinggal di Yogyakarta dan berniat kembali ke Papua
YOGYAKARTA, Indonesia – Kehidupan mahasiswa Papua di Yogyakarta tak lagi terasa nyaman pasca peristiwa pengepungan asrama Kamasan I pada 14 Juli lalu. Pasalnya, stigma separatisme melekat kuat pada seluruh mahasiswa Papua setelah asrama tersebut dijaga ketat aparat keamanan di Yogyakarta selama 4 hari.
Faktanya, mahasiswa Papua di Yogyakarta merasa tidak nyaman berada di ruang publik. Nosmin Kadoga, mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta, mengatakan ada perasaan berbeda saat berada di tempat umum.
“Pandangan masyarakat berbeda-beda,” ujarnya saat ditemui Rappler, Senin, 25 Juli.
Selama 7 tahun berada di Yogyakarta, ia mengaku tak pernah merasa cemas atau takut berada di ruang publik. Setiap kali dia mengendarai sepeda motor atau berjalan kaki, dia merasa seperti ada orang tak dikenal yang mengikutinya.
“Saya selalu merasa cemas,” katanya lagi.
Selain peristiwa pengepungan asrama, hal lain yang membuat mahasiswa Papua semakin risih berada di Yogyakarta adalah pernyataan Gubernur DIY, Sultang Hamengku Buwono X. Pekan lalu, seperti dikutip media massa, Sultan menyebut tidak ada tempat bagi separatis di Yogyakarta. Yogyakarta.
“Jogya akhirnya menjadi republik. “Saya meminta saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk tidak mempunyai aspirasi separatis,” ujarnya seperti dikutip media.
Perasaan paranoid saat berada di tempat umum juga dialami mahasiswa asal Papua, Obet Hisage. Saking khawatirnya, ia mengaku memilih tidak keluar asrama jika keadaan tidak penting dan mendesak. Ia memilih mengajak temannya saat terpaksa keluar rumah.
“Saat kamu berjalan, kamu harus bersama setidaknya dua orang. “Kalau satu sepeda motor, dua atau tiga sepeda motor disatukan,” ujarnya.
Alasan Obet memilih berangkat rombongan karena khawatir akan terjadi hal buruk jika ia bepergian sendirian. Karena itulah dia punya keinginan untuk kembali ke Papua. Meski begitu, hingga saat ini ia masih lebih memilih tinggal di Yogyakarta.
Ia mengaku masih ingin menunggu kunjungan Rombongan Pemerintah Provinsi Papua ke Yogyakarta untuk bertemu dengan mahasiswa.
“Sekarang sebagian rombongan sudah ada di Yogyakarta. “Tunggu saja gubernurnya,” ujarnya lagi.
Surat terbuka untuk Sultan
Pernyataan tersebut kemudian ditanggapi Sultan dengan mengeluarkan pernyataan surat Terbuka. Sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Papua menilai hukuman yang dijatuhkan Sultan merupakan tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua, apalagi mereka bereaksi terhadap sikap mereka yang mendorong masyarakat Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.
“Kami harus menekankan di sini tentang status kami. Status kami hanya pelajar pak. “Hanya mahasiswa dan bukan separatis seperti yang Anda maksud,” tulis Ketua Komite Sentral AMP, Jefry Wenda, dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Sultan, Minggu, 24 Juli.
AMP mengatakan jika Sultan melabeli mereka sebagai separatis, maka stigma serupa juga akan diberikan kepada masyarakat Yogyakarta yang tinggal di Kabupaten Kulon Progo. Mereka memperebutkan lahan hasil penggusuran karena kawasan tersebut akan digunakan untuk pembangunan Bandara Temon.
AMP juga menuding Sultan sengaja mengekang kebebasan berekspresi di depan umum karena meminta agar aspirasi mahasiswa Papua tidak dilakukan di depan umum.
“Jika Anda menggunakan kekuasaan Anda sebagai Raja Jawa untuk membungkam kebebasan berekspresi di depan umum, sama saja dengan tidak mengakui NKRI sebagai negara demokrasi,” kata mereka.
Dimaksudkan untuk pindah
Juru Bicara Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat dan Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Roy Karoba, Kamis pekan lalu, mengatakan puluhan mahasiswa sudah sepakat untuk pulang ke kampung halaman. Alasan utama mereka, bagaimana kalau bukan karena mereka sudah tidak nyaman lagi tinggal di kota yang disebut-sebut sebagai kota pelajar.
“Exodus adalah suatu pilihan,” ujarnya, Minggu 24 Juli.
Ia menyayangkan pernyataan Sultan dikhawatirkan malah dijadikan alasan dan pembenaran masyarakat luas untuk melakukan diskriminasi terhadap warga Papua di Yogyakarta.
“Masyarakat (kelompok) mana pun akan merasa terancam jika muncul tuduhan separatis,” ujarnya.
Berdasarkan data yang diperoleh Rappler, terdapat sekitar 8.000 warga Papua yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Mereka belajar di kampus-kampus di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Selain tinggal di Asrama Papua di Jalan Kusumanegara Kota Yogyakarta dan 7 Asrama lainnya di kawasan Sleman, mereka juga tinggal di rumah kontrakan dan kos-kosan.
Tentu saja lebih baik kita pulang, kalau di sini sudah tidak aman lagi, kata Roy. – Rappler.com
BACA JUGA: