Pekerjaan rumah di sektor mikro menghantui perekonomian Indonesia
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Defisit fiskal atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2,6% patut diwaspadai karena menunjukkan masih adanya permasalahan krusial dalam perekonomian Indonesia. Permasalahan lainnya adalah kualitas pertumbuhan makroekonomi dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.
“Masalah mikro seperti biaya logistik, produksi pangan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah tidak serta merta terselesaikan dengan kondisi makro yang baik,” kata Bayu Krisnamurthi, Ketua Umum Persatuan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), saat ditanyai Rappler. , Senin 19 Juni 2017
Bayu yang juga mantan Wakil Menteri Perdagangan menanggapi laporan triwulanan perekonomian Indonesia yang diterbitkan Bank Dunia di Jakarta pada 15 Juni 2017. “Saya setuju dengan penilaian Bank Dunia yang Alhamdulillah kondisi makroekonomi berjalan baik dan mempertahankan tren positif dalam 10 tahun terakhir,” kata Bayu.
Awali tahun 2017 dengan positif
Dalam laporannya, Bank Dunia menyatakan bahwa perekonomian Indonesia memasuki tahun 2017 dengan pijakan yang kuat, dibantu oleh lingkungan global yang lebih mendukung dan membaiknya kondisi fundamental dalam negeri. Pertumbuhan PDB riil diperkirakan meningkat dari 5,2% pada tahun 2017 menjadi 5,3% pada tahun 2018.
Bank multilateral ini mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil menguat menjadi 5,0% (year-on-year) pada kuartal pertama tahun 2017, dibandingkan 4,9% pada kuartal sebelumnya.
Hal ini didorong oleh pulihnya tingkat konsumsi pemerintah dan meningkatnya nilai ekspor. Meskipun inflasi meningkat akibat kenaikan tarif listrik, namun inflasi tersebut masih tergolong rendah. Kebijakan moneter masih akomodatif.
Bank Dunia telah memperingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan global dan ancaman meningkatnya proteksionisme di beberapa negara terus menimbulkan risiko penurunan yang signifikan terhadap pemulihan perdagangan dunia saat ini.
Pemulihan harga komoditas global yang sedang berlangsung telah membantu meningkatkan pendapatan ekspor dan fiskal, namun harga, khususnya batu bara, diperkirakan akan menurun pada tahun 2018.
“Peningkatan peringkat Standard & Poor’s merupakan pengakuan signifikan atas kemajuan yang telah dicapai pemerintah dalam meningkatkan pengelolaan dan kredibilitas fiskal. Harga komoditas memberikan beberapa dukungan. Namun Indonesia harus terus mencapai kemajuan dalam reformasi struktural. “Upaya berkelanjutan tetap penting untuk memperluas potensi ekonomi dan memungkinkan negara mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas,” kata Rodrigo A. Chaves, Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia.
Bank Dunia mengkritik situasi investasi asing. Pemerintah akan semakin menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam menangani reformasi struktural yang penting namun mungkin tidak populer. Secara khusus, laporan ini menunjukkan bagaimana pembatasan penanaman modal asing (FDI) menjadi hambatan bagi aliran masuk FDI ke Indonesia.
“Investasi asing langsung belum memberikan kontribusi yang cukup untuk meningkatkan potensi pertumbuhan Indonesia melalui pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia, serta pertumbuhan produktivitas. Oleh karena itu, Pemerintah harus mengevaluasi kembali pembatasan, terutama pada sektor-sektor yang masuk dalam daftar investasi negatif, untuk mendorong lebih banyak aliran masuk FDI.“ kata Hans Anand Beck, Penjabat Kepala Ekonom untuk Bank Dunia di Indonesia, di laporan Itu.
Banyak permasalahan yang terjadi di sektor mikro
Juan Permata Adoe, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin), mengatakan laporan Bank Dunia menunjukkan skala prioritas pemerintah terhadap perekonomian makro, termasuk menekan inflasi semaksimal mungkin. “Masalahnya adalah beban belanja infrastruktur negara kita luar biasa besarnya,” kata Juan Adoe kepada Rappler.
Pada sektor mikroekonomi masih banyak permasalahan. “Secara teknis kebijakan perekonomian masih belum sinkron dan holistik antar kementerian sektoral,” kata Juan Adoe. Berbagai sektor dan peraturan yang mengaturnya masih saling bertentangan. Juan mencontohkan sektor perbankan dengan sektor industri, sektor pertanian dengan kehutanan dan lingkungan hidup, UU Bank Indonesia dan Kebijakan Pajak, UU Perdagangan, dan UU Perindustrian.
“Seluruh permasalahan di sektor mikroekonomi hanya dapat diatasi dengan program mengatasi kesenjangan ekonomi, meningkatkan produksi dalam negeri, pembiayaan modal ekonomi yang lebih masif dan mendukung industri nasional,” kata Juan Adoe.
Ketua Umum Persatuan Pengusaha Pribumi Indonesia Suryani Motik mengatakan pertumbuhan ekonomi tidak cukup menyerap kebutuhan lapangan kerja. “Pertumbuhan ekonomi harus minimal 6%. Selama belum mencapai angka tersebut, perekonomian akan terus berjalan rentan. Daya beli yang lemah. Terlalu banyak peraturan. Pajak terlalu cepat. “Tidak cocok dalam kondisi perekonomian sulit,” kata Yani Motik.
Perhitungan yang menjadi patokan para ekonom, setiap 1% pertumbuhan ekonomi meningkatkan lapangan kerja bagi 260 ribu orang. Sebaliknya menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya bertambah sekitar 1,4% yaitu sekitar 3 juta jiwa.
Dalam keterangan resminya kepada media, Bank Dunia tidak menyebutkan dampak dari serangkaian paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Pada hari yang sama dengan peluncuran laporan Bank Dunia ini, pemerintah meluncurkannya Paket kebijakan ekonomi seri ke-15. Paket ini mengatur aspek logistik, termasuk pengiriman dan asuransi.
Bayu Krisnamurthi menilai terdapat jeda waktu antara penerapan masing-masing paket kebijakan ekonomi dengan implementasinya di lapangan. “Tidak dapat dipungkiri bahwa kinerja positif yang dilaporkan Bank Dunia merupakan dampak dari paket kebijakan yang telah diluncurkan sebelumnya,” kata Bayu. – Rappler.com