• March 22, 2026

Pelunakan letusan dalam secangkir kopi Merapi

KLATEN, Indonesia – Matahari tertutup awan gelap pada sore hari di Deles, sebuah dusun yang hanya berjarak empat kilometer dari puncak Gunung Merapi. Sukiman bergegas mengemas hamparan biji kopi yang sedang dijemur di atas permadani tua dan melindunginya dari tetesan air hujan.

Musim panen kopi di lereng Merapi hanya terjadi satu kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan Juli, saat memasuki musim kemarau. Anomali hujan di bulan Juni menjadi kendala bagi para petani kopi yang harus menunggu lebih lama hingga biji kopinya benar-benar kering.

“Kandungan air yang paling baik adalah 11 persen. “Kalau hujan terus seperti ini, penjemuran bisa diulang hingga 14 kali,” kata Sukiman sambil menyendok biji kopi dan memasukkannya ke dalam kantong kering.

Pengolahan biji kopi arabika Deles selama ini menggunakan cara manual, mulai dari penyortiran buah kopi merah (ceri merah) dijemur di bawah sinar matahari. Konon dengan menggunakan teknik manual sejak zaman Belanda, kopi Deles memiliki kualitas rasa yang khas.

Perpaduan aroma harum yang kuat, keasaman yang pas, dan rasa manis dari sisa kulit buah menjadikan kopi ini sebagai kopi kualitas premium. Sukiman menjual harga biji kopi kering (kacang hijau) Rp 100.000 per kilogram.

Mungkin nama kopi Deles belum begitu dikenal dibandingkan kopi Gayo dan kopi Toraja di kalangan pecinta kopi Indonesia, karena kopi ini memang belum banyak dijual di negeri sendiri.

“Pasar utama kami adalah Jepang, kopi ini dijual di kafe-kafe di sana. Kini ada permintaan terhadap kopi dengan fermentasi rasa demi “Dari Osaka jumlahnya tidak terbatas, berapa pun jumlahnya diterima,” kata Sukiman.

Selain itu, Deles juga menyuplai kopi ke industri pembuatan kopi luwak. Menurut cerita Nowo, seorang penambang kopi di pabrik kopi luwak di Yogyakarta tempatnya bekerja, kopi Deles mempunyai kualitas yang unggul sebagai makanan luwak sehingga menghasilkan biji kopi kualitas premium.

“Luwak tahu kopi mana yang terbaik. “Kalau buah kopinya merah banget, ditelan, tapi yang warnanya kuning atau hijau campur dimuntahkan,” kata Nowo yang sore itu mengangkut dua karung buah kopi merah dari Deles.

Sejak zaman Belanda

Masyarakat petani di Deles sudah mengenal kopi sejak Belanda membawa tanaman tersebut ke lereng Merapi. Sejak saat itu mereka belajar mengolah buah kopi menjadi minuman terpopuler di dunia.

Lahan di ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut yang kerap terendam abu vulkanik sisa siklus letusan Merapi menjadikan Deles subur untuk tanaman kopi. Hampir setiap warga mempunyai pohon kopi, bahkan ada yang sudah hidup sejak zaman kolonial. Hingga saat ini masih terdapat sebuah tempat di dusun yang bernama Kopen (Bahasa Jawa: tempat ngopi), yang dulunya merupakan perkebunan kopi Belanda.

Kisah kopi Merapi juga bisa ditelusuri di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, yang terletak di celah antara dua gunung, Merapi dan Merbabu. Namun berbeda dengan Deles, petani sayur di kawasan Selo saat ini hanya belajar tentang tanaman kopi. Bahkan banyak orang yang belum memahami cara memanen buah yang benar, yaitu dengan memilih dan memetik buah yang berwarna merah, bukan memotong atau menyortir batang buahnya.

Menurut cerita Suwondo, kopi Lencoh pernah populer pada masa penjajahan, kemudian perkebunan kopinya ditinggalkan masyarakat sejak Belanda meninggalkan Indonesia. Pohon-pohon kopi Belanda yang tersebar di sekitar jalur pendakian Selo Baru sebagian besar telah ditebang, hanya menyisakan beberapa batang saja. Sedangkan kopi Lencoh yang diproduksi saat ini berasal dari jenis Arabika yang ditanam sejak tahun 2002, dengan bantuan pemerintah.

Pohon-pohon kopi dibiarkan begitu saja dan hanya dijadikan pembatas lahan sayur-sayuran. Namun sejak tahun 2013, kopi Lencoh mulai menjadi komoditas berharga di tangan Suwondo, seorang petani dan pemandu pendakian Merapi.

Suwondo berusaha mengumpulkan kopi dari seluruh warga desa yang mempunyai pohon kopi, lalu mengolahnya untuk diperdagangkan. Dari harga buah panen yang naik dari Rp1.000 menjadi Rp6.000 per kilogram, kopi liar Arabika Lencoh mulai naik kelas.

Meskipun harganya kacang hijau masih berkisar Rp 70.000 – di bawah Deles arabica – Kopi Lencoh sudah masuk ke sejumlah kafe lokal, antara lain Ngopi Serius di Solo dan Klinik Kopi di Yogyakarta. Suwondo enggan menjual kopinya ke pabrik karena selain ketidaksesuaian harga, ia ingin mengangkat pamor kopi di desanya.

Kopi Lencoh juga banyak dibeli oleh para pendaki atau wisatawan asing yang berkunjung ke Merapi. Awalnya mereka mencoba meminumnya, lalu membawa pulang 1 atau 2 kilogram, dan akhirnya minta dikirim lagi.

“Lebih banyak orang yang memesan dari Singapura dan Prancis,” kata Suwondo, yang memiliki 100 pohon kopi di dekat rumahnya di Dusun Plalangan, Lencoh.

Sayangnya, berapa pun jumlah kopi yang dihasilkan, termasuk yang dikumpulkan dari petani, Suwondo mengaku masih belum bisa memenuhi seluruh permintaan pasar. Tahun lalu, panen 1,5 ton buah menghasilkan 250 kilogram kacang hijau berkualitas, yang hanya dapat memenuhi permintaan lokal.

Kopi dan pelunakan

Di Deles, produksi kopi yang melimpah – ada petani yang panen 5 kuintal sehari – menjadikan kopi sebagai ikon perekonomian masyarakat. Sukiman mengumpulkan kopi dari kebunnya sendiri dan dari petani di desanya.

Ia mencari pasar kopi premium dengan segmen utama pecinta kopi. Selain tidak perlu pusing memikirkan ke mana menjual buah kopinya, petani juga mendapatkan harga yang bagus setiap kali panen, yakni Rp 8.500 per kilogram untuk buah kopi merah pilihan atau yang dipilih kematangannya. Masing-masing menghasilkan satu kilogram kacang hijaudibutuhkan enam kilogram buah kopi petik merah.

“Sebenarnya permintaan ekspor sangat besar, namun kami tidak mau mengambil dari pasar kopi lokal untuk memenuhinya. “Karena tujuan utama kami adalah memberdayakan komunitas petani di Deles,” kata Sukiman yang juga mendirikan radio komunitas Lintas Merapi FM.

Apa yang dilakukan Sukiman bukan tanpa alasan, sebab Deles merupakan Daerah Rawan Bencana (DPA) letusan Merapi, salah satu gunung teraktif dan terpadat di dunia. Relokasi bukanlah solusi karena masyarakat berjuang untuk berpindah dari kehidupan pertanian di lereng gunung nenek moyang mereka ke kehidupan pinggiran kota.

Tinggal di wilayah berisiko tinggi menuntut masyarakat memiliki ketahanan yang tinggi terhadap ancaman siklus erupsi Merapi. Bagi Sukiman dan masyarakat Deles, mitigasi tidak hanya sekedar mengurangi risiko bencana dengan meningkatkan kesadaran dan tanggap darurat terhadap bencana, namun yang tidak kalah pentingnya adalah pemberdayaan perekonomian masyarakat sebagai modal untuk membangun masyarakat tahan bencana.

“Kalau kita lebih berdaya secara ekonomi, kita juga akan lebih tangguh, mampu menyelamatkan diri dalam keadaan darurat,” kata Sukiman.

Ia mencontohkan warga desa wajib memiliki kendaraan pribadi, minimal sepeda motor cukup untuk mengevakuasi seluruh anggota keluarganya. Kendaraan ini diperlukan jika ada peringatan evakuasi, agar mereka bisa segera menyelamatkan diri dan keluarganya secara mandiri tanpa menunggu bantuan dari luar – BPBD, TNI dan Polri.

Apalagi dalam hal kesiapsiagaan bencana, Deles punya cara unik dalam menyiapkan dana darurat berupa tabungan bencana. Dari hasil penjualan kopi, mereka menyisihkan uangnya setiap hari untuk tabungan bencana. Jumlahnya tidak dipungut biaya, mulai dari Rp 1.000, Rp 5.000, atau Rp 10.000 yang dikelola bersama dan disetorkan ke rekening di bank.

Setiap orang menyimpan buku tabungan – tanpa kartu ATM – sebagai bukti pencatatan saldo. Saat terjadi bencana, masyarakat akan tinggal di barak pengungsi di Klaten. Durasinya tidak menentu, tergantung durasi letusan awan panas (piroklastik).

“Untuk memenuhi kebutuhan selama evakuasi, kami tidak perlu angkat tangan dan meminta pertolongan. “Buang saja tabunganmu,” kata Sukiman, yang juga salah satu pendiri Pasag Merapi, jaringan relawan mitigasi bencana untuk empat kabupaten di lereng Merapi.

Terkadang kebutuhan di kamp pengungsian bisa lebih besar dari biasanya. Sebab, mereka tidak hanya harus menghidupi keluarganya, tapi juga harus memelihara hewan ternak yang juga dievakuasi. Karena tidak bisa merumput di lereng Merapi, mereka harus membeli pakan sapi untuk memastikan kelangsungan hidup manusia dan hewan ternak.

Kemandirian mereka menghadapi bencana tidak lepas dari faktor ekonomi. Hingga saat ini kopi telah memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Bagi mereka, kopi bukan hanya sekedar biji kopi yang nikmat untuk diseduh sebagai minuman, namun juga merupakan bagian dari cara dan upaya masyarakat untuk hidup nyaman di tengah ancaman.

Dan di setiap secangkir kopi Merapi yang panas dan nikmat, akan selalu ada cerita tentang mereka yang telah beradaptasi dengan risiko bencana letusan. —Rappler.com

Keluaran SDY