• April 10, 2026

Penayangan perdana film Wiji Thukul akan diputar di 15 kota

JAKARTA, Indonesia — Film biografi yang menceritakan kisah penyair dan aktivis buruh Wiji Thukul diberi judul Kata Istirahat akan mulai tayang di bioskop mulai Kamis 19 Januari.

Penonton bisa menyaksikan momen Wiji, aktivis pimpinan Era Reformasi yang dinyatakan hilang, melarikan diri ke Pontianak, Kalimantan Barat pada 27 Juli 1996.

Awalnya film ini tayang di 12 kota, namun kemudian bertambah menjadi 15 kota.

Saat ini ada kabar baik, ada tambahan tiga kota lagi, yaitu di Denpasar, Purwokerto, dan Medan, kata sutradara Yosep Anggi Noen saat menggelar jumpa pers di Jakarta, Senin 16 Januari.

Film yang ditayangkan di sejumlah festival film luar negeri ini mendapat 15 layar di kota-kota Tanah Air.

Film ini untuk mengenang aktivis-aktivis yang hilang hingga saat ini dan belum kuatnya upaya negara untuk mencari mereka, kata Anggi.

Peran Wiji, kata Anggi, sangat penting dalam menjatuhkan rezim Orde Baru, sekaligus mengantarkan era demokrasi dan kebebasan hingga saat ini. Masyarakat Indonesia, lanjutnya, kini tengah menikmati hasil perjuangan Wiji dan aktivis lainnya.

“Kami para generasi muda mencoba menyerap dan mengingat melalui film ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika generasi muda masa kini bisa berusaha melestarikan ingatannya, berarti pemerintah bisa melakukan hal lain seperti menyelidiki keberadaan penyair Pelo yang hilang selama hampir 20 tahun itu.

Interpretasi bukanlah imitasi

Ide pembuatan film ini bermula saat Anggi dihubungi oleh aktivis HAM Tunggal Pawestri, penulis Okky Madasari, dan produser Yulia Evina Bhara. Anggi sendiri mengaku belum begitu mengenal Wiji sebelum mulai menggarapnya Kata Istirahat.

Untuk penelitiannya sendiri, ia terbang langsung ke Pontianak untuk mendapatkan gambaran suasana. Sementara itu, pemahaman tentang karakter Wiji ia peroleh dari perbincangan dengan keluarganya.

Anggi memadukan karakter dua anak Wiji, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. “Kalau Fajar ngomong, dia bodoh banget. Ini Thukul. Sedangkan Fitri cemerlang. “Tulisannya bagus, mengharukan, menyentuh,” ucapnya.

Meski demikian, bukan berarti ia mendorong pemain yang dimaksud. Itu sepenuhnya tergantung pada penafsiran masing-masing individu.

Hal itu disampaikan istri Wiji, Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang diperankan Marissa Anita. Ia sama sekali tidak menemui sosok yang dimaksud, melainkan hanya meneliti data media dan literatur.

“Saya punya Ny. Pon (Sipon) tidak ketemu sama sekali. Anggi bilang, saya juga tidak meniru, tapi menafsirkan, kata Marissa.

Presenter TV ini pun banyak berbincang dengan lawan mainnya, Gunawan Maryanto yang berperan sebagai Wiji Thukul.

Anggi sendiri mempercayakan Marissa dengan peran tersebut karena dianggapnya sebagai sosok yang cerdas, juga berbekal pengalaman di dunia teater.

Untuk mengenal Wiji secara pribadi

Dalam film ini, tim produksi ingin memperkenalkan Wiji sebagai pribadi. Periode 27 Juli 1996 menunjukkan sisi humanis, bukan sisi aktivis yang selama ini disoroti.

Saat itu ia baru saja dinyatakan buron oleh rezim Soeharto. Demi keselamatannya ia harus meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Kesendirian, ketakutan, dan jarak dari perjuangan Wiji menjadi fokus filmnya.

Bahkan saat penayangan di berbagai festival film internasional, produser Yulia Evina Bhara menyebut banyak orang yang tertarik dengan sosok Wiji.

“Mereka baru tahu ada sosok seperti itu di Indonesia,” kata Yulia.

Dia teringat pertunjukan tahun lalu di Busan, Korea Selatan. Sekelompok mahasiswa Indonesia yang hadir pun mengajukan pertanyaan kepada tim produksi. Sepertinya mereka baru mengetahui tentang Wiji setelah selesai menonton.

Oleh karena itu, keberadaan film ini juga menjadi kenangan sejarah. “Pemuda kita perlu kejelasan agar kita tidak tersesat sebagai bangsa di hari-hari mendatang,” kata Anggi.

Negara, lanjutnya, masih menanggung hutang sejarah dan keadilan. Adapun nasib Wiji, serta aktivis lainnya juga mengalami nasib serupa atau meninggal secara misterius.

“Film ini hanya inisiasi kecil, tidak akan memberikan dampak yang luar biasa pada hal-hal di luar jangkauan kita,” ujarnya.

Melanie Subono, musisi yang juga aktivis buruh, mengatakan kini banyak anak muda yang memakai kaos bergambar tokoh revolusi asing seperti Che Guevara.

“Mereka perlu tahu bahwa ada tokoh-tokoh seperti itu dari Indonesia,” kata Melanie yang juga berperan dalam film tersebut. Kata Istirahat.—Rappler.com

BACA JUGA:

uni togel