Pengakuan petugas Kecamatan Arjuna yang disandera pelaku bom pot Bandung
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Saat memasuki bangunan Desa Arjuna, pelaku mengacungkan senjata tajam dan berteriak menanyakan keberadaan Kepala Desa.
BANDUNG, Indonesia – Sri Haryani, salah satu staf Desa Arjuna, Bandung, mengaku kaget saat melihat pelaku aksi teroris memasuki kantornya. Bahkan, dia dan tujuh rekannya sempat disandera selama 15 menit.
Senin pagi, 27 Februari, Sri dan rekan-rekannya bekerja seperti biasa. Namun, tiba-tiba ia melihat ada seorang pria mendekat dan diduga ingin menyampaikan keluhan mengenai pelayanan publik. Namun ternyata pria yang kemudian diketahui bernama Yayat Cahdiyat itu adalah seorang teroris yang sedang beraksi.
Begitu masuk ke dalam gedung kecamatan, mereka mengacungkan senjata tajam dan berteriak menanyakan keberadaan camat. Sri mengaku disandera selama 15 menit.
“Pelaku di bawah ini menyandera kami selama kurang lebih 15 menit. Awalnya kami bersembunyi di bawah meja. Alhamdulillah kami selamat, kata Sri.
Pelaku, kata dia, membakar tirai dan memecahkan kaca di lantai dua yang merupakan aula di gedung kecamatan. Beruntung tidak ada petugas kecamatan yang bertugas di lantai dua.
Sementara itu, warga sekitar yang turut menyaksikan kejadian tersebut, Iwan Lumintang, mengatakan ledakan bom terdengar cukup keras. Ledakan tersebut, kata Iwan, terdengar hingga rumahnya yang berjarak 100 meter dari Taman Pandawa.
Bersama Tim Prabu Polrestabes Bandung, Iwan mengaku sempat bernegosiasi dengan pelaku yang bersembunyi di lantai dua gedung kecamatan. Menurut Iwan, pelaku mengaku ingin bertemu dengan anggota Densus 88 Anti Teror.
“Saya tidak butuh kamu, tapi saya butuh Densus. “Biarkan teman-teman saya masuk penjara,” kata Iwan menirukan ucapan pelaku dari dalam gedung kecamatan.
Mendengar permintaan pelaku, Iwan kemudian berinisiatif mengevakuasi petugas kecamatan yang masih berada di dalam ruangan. Selain itu, pelaku terlihat mengenakan jaket berwarna hitam yang dililitkan kabel.
Selain itu, pelaku juga membawa senjata tajam dan senjata api hingga berujung baku tembak dengan petugas polisi.
“Dia memakai topi dan jaket. “Saat saya lihat ada kabel,” kata Iwan yang mengaku pelaku sempat melempar kursi ke arahnya.
Daya ledak bomnya rendah
Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Anton Charliyan mengungkapkan, bom yang meledak di Taman Pandawa, Desa Arjuna merupakan bom rakitan yang memiliki daya ledak rendah. Meski daya ledaknya rendah, namun bom tersebut diletakkan di dalam panci dan berisi paku sehingga dapat menimbulkan banyak korban.
Pasca ledakan, paku tersebar hingga radius 50 meter dari lokasi kejadian. Meski begitu, Anton bersyukur karena tidak ada penghuni di Taman Pandawa.
Padahal, saat kejadian, lapangan tersebut sedang digunakan anak sekolah untuk berolahraga. Mantan Kapolda Sulsel ini mengatakan, tujuan pelaku menebar teror karena ingin membebaskan rekan-rekannya dari Lapas Densus 88 Anti Teror.
“Pelaku ini masih jaringan (teroris) lama,” ujarnya.
Pelaku akhirnya tewas saat dilarikan ke RS Bhayangkara Sartika Asih setelah terkena peluru panas personel polisi. – Rappler.com.