• March 16, 2026

Pengalaman para ibu saat anaknya belajar puasa

JAKARTA, Indonesia — Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan bulan Ramadhan yang dimulai hari ini, Senin, 6 Juni. Umat ​​Islam menghabiskan puasa Ramadhan sepanjang bulan.

Selain mengendalikan amarah dan emosi, mereka juga tidak makan atau minum selama kurang lebih 14 jam. Bagi orang dewasa, berpuasa bukan lagi hal yang sulit. Namun bagi anak-anak, berpuasa di bulan Ramadhan menjadi tantangan tersendiri karena pola makan dan aktivitas sehari-harinya pun ikut berubah.

Lalu bagaimana cara mengajarkan anak berpuasa? Pengalaman kedua ibu muda ini mungkin bisa menginspirasi Anda:

1. Nova Maulida, ibu dari Salsa Syawalia Noura (8 tahun)

Belajar berpuasa setengah hari

Ramadhan tahun ini merupakan tahun kedua Salsa menjalankan puasanya. Salsa awalnya menunjukkan keengganannya saat ibunya mengajaknya berpuasa.

“Apa? Maksudnya aku tidak makan dan minum dari pagi sampai malam ya Bun?” Ucap Nova menirukan ucapan Salsa saat mendengar ibunya mengajaknya puasa bersama.

Meski mengaku berat, Salsa tetap rela berpuasa. Sebagai seorang ibu, Nova berusaha membujuk putri sulungnya dengan terlebih dahulu berpuasa setengah hari.

“Saya bilang padanya, kalau puasanya tidak kuat, maka dia boleh berbuka di siang hari. Nanti kita lanjutkan, kata Nova.

Tapi, jika Salsanya kuat, maka Anda bisa tetap berpuasa hingga sore hari. Menurut perempuan berusia 28 tahun itu, Salsa sudah cukup umur untuk dikenalkan berpuasa. Apalagi ajaran agamanya juga mengajarkan hal tersebut.

Salsa sendiri sudah tahu apa yang harus dilakukan saat berpuasa, karena sekolah juga mengajarinya.

“Karena dia bersekolah di pesantren, diajarkan aturan puasa seperti kapan sahur dan berbuka. “Tapi prakteknya kalau siang dia minta makan,” kata Nova sambil tertawa.

Diakuinya, tidak mudah menjalankan puasa anak-anaknya. Namun, jika hal itu tidak dikenalkan sejak dini, ia khawatir Salsa akan semakin kesulitan menjalankan kewajiban agamanya di kemudian hari.

Untuk puasa tahun ini, Nova Salsa mencoba belajar berpuasa seharian penuh. Lalu, bagaimana reaksi Salsa saat mengetahui dirinya akan berpuasa seharian penuh?

“Ya, komentarnya sama. “Dia bertanya lagi kepada saya: ‘Oh, Bu, apakah saya harus berpuasa?’,” kata Nova menirukan reaksi putrinya.

Namun, ia punya strategi jitu untuk membangkitkan semangat putrinya. Pertama, dengan tetap memberikan asupan nutrisi yang cukup saat sahur dan berbuka. Kedua, carilah aktivitas agar puasa tidak terasa membosankan. Ketiga, menerapkan sistem reward.

Diakui Nova, membangunkan anak di pagi hari untuk sahur juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, meski masih mengantuk, Nova Salsa akan tetap memberinya makan.

“Karena dia harus makan terus karena khawatir lemas. Jadi, meski matanya terkulai, mulutnya tetap mengunyah. Selain itu saya juga memberikan suplemen Salsa dalam bentuk vitamin atau madu,” kata Nova.

Wanita yang berprofesi sebagai pustakawan ini pun mengapresiasi sikap jujur ​​putrinya saat berpuasa. Dia tidak pernah berbohong jika dia tidak bisa berpuasa.

“Biasanya dia selalu memberi tahu kami bahwa dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berpuasa. Lagi pula, dia tidak punya teman untuk melakukan tindakan curang seperti itu. Jadi aman,” ujarnya.

Ia mengatakan akan mengajak Salsa datang dan bekerja di kantornya di Perpustakaan Umum Kota Depok selama Ramadhan. Sebab, Ramadhan tahun ini bertepatan dengan libur pelajar. Agar tidak bosan, Salsa bisa membaca buku di ruang kerja ibunya.

Lalu bagaimana dengan sistem reward yang diterapkan oleh Nova? Ia mengatakan, jika putrinya berhasil berpuasa selama satu bulan, bahkan setengah hari, maka ia akan mendapat hadiah dari orang tuanya.

“Saya biasanya memberikannya hadiah dalam bentuk barang seperti pakaian atau mainan. Kami tidak memberikan uang. “Biasanya diberikan oleh bibi dan neneknya,” ujarnya.

2. Eka Putri Windiningsih ibu dari Muhammad Ikhlas P dan Ernst Pramatya P (8 tahun 5 tahun)

Jadikanlah surga Ramadhan

Ramadhan tahun ini akan menjadi puasa keempat bagi Ikhlas dan puasa pertama bagi Ernest. Dalam kasus Windi, kedua pahlawan tersebut harus didekati dengan cara yang berbeda ketika menjelaskan makna puasa.

Ikhlas tertua yang bernama Windi lebih mudah diajak berdiskusi. Bahkan, saat pertama kali berpuasa di usia 4 tahun, Ikhlas mampu berpuasa sempurna selama 15 hari.

Sementara itu, Ernest sebaiknya diajak berbicara lebih mendalam tentang puasa dan analoginya harusnya cocok. “Seni mengolah kata harus lebih baik lagi,” kata Windi.

Lantas bagaimana tanggapan Ernest saat diminta berpuasa pertama kali tahun ini? Ernest terlihat santai dan tidak mengerti maksudnya.

Meski begitu, Windi optimistis Ernest bisa berpuasa meski setengah hari. Pasalnya ia sangat mengidolakan sang kakak, Ikhlas.

“Tetapi, meski Ernest tidak berpuasa tahun ini, saya tidak akan keberatan dan tidak akan marah. “Saya tanya saja kalau dia sedang makan, agar tidak di depan banyak orang,” kata Windi.

Ia bercerita, keinginan berpuasa pertama kali sebenarnya datang dari Ikhlas sendiri yang saat itu berusia 4 tahun. Saat itu, Ikhlas tiba-tiba mendatanginya dan bertanya apakah ia boleh ikut puasa.

Windi bertanya kepada putranya kenapa tiba-tiba ingin berpuasa.

“Dia menjawab saat itu, karena menurut guru di sekolah tersebut, umat Islam wajib berpuasa ketika Ramadhan tiba,” kata Windi menirukan kalimat Ikhlas.

Tekad Ikhlas untuk berpuasa semakin kuat, karena kondisi sekitar yang mendukung. Di sekolahnya, gurunya memutar lagu Ramadhan. Gurunya di sekolah juga memberitahunya bahwa tidak akan ada makan siang selama Ramadhan karena dia sedang berpuasa.

Lagipula teman-teman dan gurunya juga puasa, jadi dia juga semangat,” kata Windi.

Wanita yang kini berprofesi sebagai wirausaha ini tak pernah memperkenalkan dirinya kepada Ikhlas. Beliau mengenalkannya dengan metode sederhana saat beliau memberi makan Ikhlas.

“Saat Ikhlas berumur 4 tahun, saya memberinya makanan. Saya bilang kalau Ikhlas yang makan, ibu tidak akan datang karena sedang puasa. “Terus dia tanya apa yang diperbaiki,” ujarnya.

Windi juga punya sistem hadiah untuk memotivasi kedua pahlawannya agar berpuasa. Dia biasa menggunakan sistem pohon Ramadhan.

“Jadi, saya membuat gambar pohon di selembar karton dan menempelkannya di dinding. Setiap kali mereka berbuka, mereka dapat menempelkan sebuah apel di pohon tersebut karena mereka telah berhasil menunaikan puasa satu hari. “Kalau puasanya hanya setengah hari, ukuran apelnya akan lebih kecil dan warnanya berbeda,” ujarnya.

Tahun ini mereka membuat “surga Ramadhan”. Sistemnya, jika berhasil melewati satu hari itu, maka Ikhlas dan Ernest bisa memasang bulan sabit di langit di antara dua awan tersebut.

Diakui Windi, dengan sistem seperti ini, anak-anak jadi lebih termotivasi untuk berpuasa. Di akhir bulan Ramadhan, mereka akan menghitung berapa bulan sabit yang berhasil mereka tempelkan.

“Setelah dihitung, mereka akan diberikan pilihan untuk membeli sesuatu dengan harga tertentu. Tahun lalu Ikhlas meminta mobil bersama kendali jarak jauh sebagai imbalannya bisa cepat penuh,” dia berkata.

Namun Windi mengingatkan Ikhlas dan Ernest tentang sistem hadiah itu tidak akan bertahan selamanya. Puasa hendaknya dilakukan dengan ikhlas tanpa tergoda oleh apapun. Menurut Windi, mereka juga memahami hal tersebut.

Sementara Windi menyerahkannya kepada anak-anaknya untuk menu sahur dan berbuka puasa. Windi biasanya akan menanyakan dari sore hari menu makanan apa yang ingin disantap saat sahur.

Diakuinya, kondisi Windi sebagai single mother tidak memberikan banyak perubahan dalam membesarkan anak-anaknya.

“Nantinya, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama kakek dan neneknya. Jadi, nenek akan memasak untuk sahur dan berbuka, katanya.

Saran dokter

Dari sudut pandang dokter anak, tidak ada masalah jika anak dikenalkan puasa sejak dini. Yang terpenting, asupan nutrisi diperhatikan saat makan sahur dan berbuka.

“Pastikan makanannya mengandung karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah. “Sehingga perjalanan waktu dari buka puasa hingga sahur dan sebaliknya, anak-anak bisa bertahan,” apakah dr. Margareta Komalasari Sp.A yang dihubungi melalui telepon oleh Rappler pada Kamis, 2 Juni.

“Anak-anak juga sebaiknya tidak terlalu banyak melakukan aktivitas yang menyebabkan dirinya haus,” ujarnya.

Wanita yang dikenal dengan nama Dr. Atha juga berpesan kepada para orang tua untuk tidak langsung meminta anaknya berpuasa selama 12 jam berturut-turut. Lebih baik membayar dengan mencicil.

“Jadi, anak-anak hanya boleh berpuasa setengah hari. “Kemudian keesokan harinya ditingkatkan intensitasnya lebih lama,” ujarnya.

Anak yang sakit juga boleh berpuasa, namun tergantung jenis penyakit yang dideritanya.

“Jika penyakit Anda memaksa Anda untuk terus-menerus minum obat antara sahur dan berbuka, Anda boleh tidak berpuasa untuk sementara waktu. Namun jika Anda bisa mengatur konsumsi obat saat sahur dan berbuka, maka hal tersebut tidak menjadi masalah, kata dr. Atha.

Apa pengalaman Anda sendiri saat memiliki anak? Bagaimana cara mengenalkan puasa pada anak? —Rappler.com

BACA JUGA:

Togel SDY