
Pengikut Aboge Islam merayakan Idul Fitri hari ini
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan buatan AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteks, selalu merujuk ke artikel lengkap.
Tidak ada gesekan meski warga merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda
JAKARTA, Indonesia — Ratusan penganut Aboge Islam (Alif Rebo Wage) di Desa Cikakak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menggelar Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriyah, Selasa, 27 Juni 2017.
Mereka mengunjungi Masjid Jami Baitussalam atau yang dikenal dengan Masjid Saka Tunggal. Beberapa warga terlihat membawa keranjang berisi makanan untuk disantap bersama usai salat.
Sholat Idul Fitri dipimpin oleh kiai dan khatib setempat. Dalam khutbah berbahasa Arab, khatib mengajak jamaah untuk menghayati makna Idul Fitri. “Marilah kita semua kembali ke fitrah kita masing-masing dengan saling memaafkan setelah satu bulan berpuasa,” ujarnya.
Usai salat dan mendengarkan khutbah, seluruh jamaah bersalaman dengan melantunkan salawat ala Jawa. Sementara warga lainnya yang melaksanakan salat Idul Fitri pada Minggu (25/6) menunggu di sekitar masjid.
Tidak ada gesekan meski warga merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda. Sebaliknya, mereka tampak rukun. Hal ini terlihat saat umat Aboge Islam berbaur dengan warga lainnya di halaman masjid untuk halalbihalal.
Rangkaian halalbihalal diakhiri dengan jamuan makan di lobby masjid dimana mereka menyantap bekal yang dibawa dari rumah masing-masing.
Selain Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, pemeluk Islam Aboge juga tersebar di sejumlah wilayah seperti Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, dan Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, serta Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Purbalingga dan Desa Ujungmanik, Kawunganten -kabupaten Cilacap.
Kalender yang digunakan umat Islam Aboge konon sudah digunakan oleh para wali sejak abad ke-14 dan disebarkan di daerah Banyumas oleh ustadz Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang.
Penganut Islam Aboge meyakini bahwa dalam waktu delapan tahun atau satu macan terdiri dari tahun Alif, Ha, Jim Awal, Za/Je, Dal, Ba/Be, Wawu dan Jim Akhir dan dalam satu tahun terdiri dari 12 bulan dan satu bulan terdiri dari 29-30 hari dengan hari pasaran berdasarkan perhitungan Jawa yaitu Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing.
Dalam hal ini, hari dan pasaran pertama dalam tahun Alif jatuh pada hari Rabu Loon (Aboge), tahun Ha pada hari Minggu/Minggu Pon (Hakadpon), tahun Jim Awal pada hari Jumat Pon (Jimatpon), tahun Za/Je pada hari Selasa Pahing ( Zasahing), tahun Dal pada hari Sabtu Legi (Daltugi), tahun Ba/Be pada hari Kamis Legi (Bemisgi), tahun Wawu pada hari Senin Kliwon (Waninwon), dan tahun Jim Akhir pada hari Jumat Loon (Jimatge).
Umat Islam Aboge meyakini bahwa tahun 1438 Hijriyah adalah tahun Za/Je karena tanggal 1 Muharam jatuh pada hari Selasa dengan hari pasar Pahing atau menurut rumus Zasahing.
Selasa dan pasar Pahing kemudian menjadi patokan atau hari pertama dan pasar pertama di tahun Za/Je. Dalam menentukan tanggal hari besar keagamaan umat Islam, umat Aboge memiliki rumus tersendiri yang mengacu pada perhitungan menurut tahun berjalan, misalnya Donemro/Sanemro (Ramadan/Puasa jatuh pada hari keenam pasar kedua) to to menentukan tanggal 1 Ramadhan dan Waljiro (Syawal jatuh pada hari pertama pasar kedua) untuk menentukan tanggal 1 Syawal.
Berdasarkan rumus tersebut maka tanggal 1 Ramadhan 1438 Hijriyah jatuh pada hari Minggu Pon karena merupakan hari keenam dan pasaran kedua setelah Selasa Pahing (berdasarkan tanggal 1 Muharram tahun Za/Je) atau tanggal 28 Mei 2017 dalam penanggalan Masehi.
Sedangkan 1 Syawal 1438 Hijriyah, berdasarkan rumus Waljiro, jatuh pada Selasa Pon (1 Syawal jatuh pada hari pertama dan pasaran kedua diturunkan dari Selasa Pahing atau 1 Muharam 1438 Hijriyah, red.) atau 27 Juni 2017. —dengan laporan dari ANTARA/Rappler.com