• April 4, 2025
Pengumuman deteksi dini kanker serviks, pejabat Pemprov Jabar belum mengetahui datanya

Pengumuman deteksi dini kanker serviks, pejabat Pemprov Jabar belum mengetahui datanya

“Oh, saya lupa angka pastinya, tapi kanker serviks dan kanker payudara memang dua yang terbesar dan tertinggi.”

BANDUNG, Indonesia – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meluncurkan deteksi dini kanker serviks dan payudara pada Senin, 30 Oktober 2017 di Aula Barat Gedung Sate, Kota Bandung.

Pencanangan di tingkat provinsi ini, kata Heryawan, merupakan arahan pemerintah pusat yang mencanangkan pencegahan dan deteksi dini kanker pada perempuan pada April 2015 lalu.

Gubernur yang biasa disapa Aher ini mengatakan, kanker serviks dan payudara merupakan pembunuh nomor dua di dunia setelah penyakit jantung. Namun saat ditanya mengenai data kasus kanker serviks dan payudara di Jawa Barat, Aher tak menjawab secara gamblang.

“Saya kira di mana-mana sama, kalau di dunia seperti itu pasti sama,” ujarnya. Saat kembali ditanya wartawan soal data pasti kasus kedua jenis kanker tersebut di Jawa Barat, Aher mengelak. “Ada di pelayanan kesehatan,” kata Aher sambil berjalan pergi.

Wartawan pun mencoba bertanya kepada Kepala Dinas Kesehatan Jabar Dodo Suhendar yang hadir dalam acara tersebut. Sama seperti Aher, Dodo juga menghindarinya. “Nanti dari Hasan Sadikin (RS Hasan Sadikin) ya, lebih tepatnya,” kata Dodo.

Dodo kemudian menjelaskan, pihaknya hanya melakukan upaya promotif dan preventif secara sistematis dalam menanggulangi kanker serviks dan payudara. Upaya promosi meliputi sosialisasi dan edukasi, sedangkan upaya preventif berupa mendorong perempuan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara.

Deteksi dini kanker serviks dapat dilakukan dengan tes pap smear atau IVA. Sedangkan deteksi dini kanker payudara melalui Sadari (pemeriksaan payudara sendiri) dan Sadanis (pemeriksaan payudara klinis).“Diharapkan dengan deteksi dini kita bisa mengetahui lebih dini kondisi yang ada pada stadium satu atau lesi,” ujarnya.

Direktur RS Hasan Sadikin Ayi Djembarsari yang ditanyai wartawan juga dikabarkan mengaku belum mengetahui data kasus kanker serviks dan payudara yang dirawat di rumah sakitnya. Ayi menegaskan, dia punya data itu, tapi dia lupa.

“Oh, saya lupa angka pastinya, tapi kanker serviks dan kanker payudara termasuk dua yang terbesar dan tertinggi,” kata Ayi yang ditemui di acara yang sama.

Namun, Ayi memperkirakan tren kasus kedua jenis kanker tersebut semakin meningkat setiap tahunnya. Trennya meningkat karena (kasus) ditemukan, akses terbuka, dengan adanya BPJS, mereka yang sebelumnya tidak pernah berobat kini berobat, ujarnya.

Deteksi dini kanker serviks dan payudara gratis

Dengan diperkenalkannya Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara, setiap wanita di Jawa Barat bisa menjalani tes IVA dan pemeriksaan Sadanis secara gratis. Namun deteksi dini gratis diperuntukkan bagi peserta BPJS.

“Silakan datang ke puskesmas setempat. Untuk peserta BPJS gratis, nonpeserta bayarnya murah sekitar Rp 120 ribu, tidak terlalu mahal. Oleh karena itu lebih baik diketahui, diperiksa, daripada penyakitnya tiba-tiba mencapai stadium 3 atau 4, kata Dodo.

Lebih lanjut, Dodo menjelaskan, pihaknya melatih tenaga kesehatan di sejumlah Puskesmas di Jabar agar bisa melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara. Namun dari 1.058 Puskesmas, Dinkes Jabar baru melakukan pelatihan sekitar 25 persen. Kendalanya terletak pada keterbatasan anggaran.

“Untuk penanganan penyakit menular anggarannya Rp 4 miliar, tapi untuk PTM (penyakit tidak menular) termasuk (deteksi dini kanker) sampai Rp 2 miliar, tentu masih belum cukup. “Ke depan kita perlu menambah anggaran, meningkatkan pelatihan dan tentunya memberdayakan laboratorium,” kata Dodo.

Dengan menambah jumlah petugas dan tempat skrining deteksi dini kanker, Dodo berharap target 7 juta perempuan yang menjalani deteksi dini dapat tercapai. Langkah ini merupakan upaya mencegah kanker stadium lanjut.

“Secara umum yang datang sudah tahap 3, sudah serius. “Pengobatannya juga perlu kemoterapi karena di tempat lain sudah ada jalan, biayanya mahal, dan ada antriannya,” kata Dodo.

Fakta tersebut diamini oleh Ayi yang mengatakan sebagian besar pasien kanker serviks dan payudara yang datang ke RS Hasan Sadikin berada dalam kondisi yang sulit disembuhkan.

“Biasanya yang datang agak terlambat. Jika diobati, hasil pengobatannya juga tidak terlalu bagus. Jadi kami sangat berharap bisa menemukan kasusnya lebih awal agar hasil pengobatannya juga bagus. “Kalau kita kaitkan dengan biaya juga akan lebih murah,” ujarnya. —Rappler.com

slot gacor