• March 21, 2026
Penyelenggara ArtJog menerima sponsor Freeport karena kekurangan dana

Penyelenggara ArtJog menerima sponsor Freeport karena kekurangan dana

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Panitia ArtJog meminta maaf. Namun mereka menjelaskan bahwa dana sponsorship diperlukan untuk kegiatan panitia.

YOGYAKARTA, Indonesia – Pihak penyelenggara acara seni ArtJog 2016 meminta maaf pada Senin, 13 Juni kepada berbagai pihak yang dirugikan karena menerima dana sponsorship dari PT Freeport. Total dana sponsorship yang mereka terima mencapai Rp 100 juta.

Pendiri acara ArtJog, Heri Pemad mengatakan, dukungan dana dari Freeport diberikan untuk kebutuhan pendanaan yang mendesak. Dana tersebut digunakan untuk operasional awal kerja penyelenggara.

“Jika hal ini tidak segera diatasi maka akan mengancam keberlangsungan ArtJog,” ujarnya.

Namun kebijakan panitia penyelenggara mendapat kritik dari komunitas seniman dan aktivis lingkungan. Menurut mereka, panitia Artjog dinilai tidak sensitif terhadap isu pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan di Papua. Bahkan, banyak karya seni yang dipamerkan bertema kemanusiaan, budaya, dan sosial politik.

ArtJog tahun ini memasuki tahun ke-9 sejak diselenggarakan pada tahun 2008. Namun, pemerintah daerah baru memberikan bantuan pada tahun ini. Departemen Kebudayaan membantu pendanaan untuk mencetak 1.225 eksemplar katalog pra-acara dan pertunjukan musik pada pembukaan ArtJog. Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp75 juta dan berasal dari Dana Keistimewaan DIY.

“Uang tersebut diberikan bukan dalam bentuk tunai, melainkan dalam bentuk kegiatan. “Karena tidak ada lagi hibah dalam bentuk uang,” kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono.

Infrastruktur seni tidak memadai

Meski merupakan pameran seni terbesar di Indonesia, ArtJog diadakan di ruang pameran yang minim. Oleh karena itu ArtJog tahun ini dipindahkan ke Jogja National Museum (JNM).

Heri Pemad mengaku kesulitan juga mencari gedung yang ideal untuk menggelar ArtJog. Terakhir, untuk pertama kalinya ia mengalihkan acara ke JNM agar bisa disediakan ruang pameran yang layak. Panitia juga turut serta dalam renovasi gedung JNM.

“Kebutuhan infrastruktur yang paling penting adalah bangunan. “Itulah yang membuat kami lemas,” ujarnya.

Namun, JNM dijalankan oleh pihak swasta. Menantu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X, KPH Wironegoro, tercatat sebagai Direktur Eksekutif JNM. Padahal bangunan itu milik pemerintah daerah.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Umar Priyono, meski provinsi ini memiliki banyak potensi seni, namun belum ada ruang seni yang memamerkannya. Selama ini komunitas seniman memamerkan karyanya di dua gedung pemerintahan, yakni Taman Budaya Yogyakarta dan bekas kampus Akademi Seni Rupa Indonesia.

Namun kondisi kedua infrastruktur tersebut belum bisa dikatakan ideal untuk kegiatan seni berskala besar.

Misalnya Taman Budaya, kata Umar, yang pintunya terlalu kecil untuk mengakses karya seni berukuran besar. Plafon juga dinilai terlalu rendah. Padahal, untuk mencapai hasil yang maksimal, gedung pameran seni rupa harus dilihat dari beberapa sisi. – Rappler.com

BACA JUGA:

Data HK