Perjuangan para pahlawan pemadam kebakaran di Surabaya agar tidak dianggap remeh
keren989
- 0
SURABAYA, Indonesia — Saat itu masih pukul 02.00 dini hari. Namun, dari perbincangan praktis tersiar kabar bahwa terjadi kebakaran.
Anis Mulyati yang saat itu baru bergabung dengan tim Srikandi Baruna mau tak mau datang ke lokasi kebakaran. Suaminya merasa tak tega jika Anis harus pergi ke api unggun sendirian pada malam hari. Ia akhirnya mengantarkan Anis ke lokasi, meski harus meninggalkan anak semata wayangnya yang masih tertidur tanpa pengawasan.
Usai mengatasi api, Anis kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ia murung karena anak tunggal mereka, Hafis Ahmad Firdausi yang saat itu berusia 3 tahun terjatuh dari tempat tidurnya. Untung hanya tangannya yang terkilir.
“Dari kejadian itu akhirnya saya berkomitmen dengan suami saya. Tidak apa-apa jika aku pergi sendirian di malam hari. “Karena salah satu dari kami harus menjaga anak-anak,” kata Anis kepada Rappler.
Namun, memilih melakukannya sendiri setiap kali terjadi kebakaran di malam hari bukan berarti tidak ada konsekuensinya. Karena sering keluar malam tanpa didampingi suaminya, Anis pun menjadi bahan gunjingan tetangganya. Mereka mengira Anis ingin menjadi wanita malam.
Mendengar rumor tak sedap itu, Anis tak berusaha membela diri. Dia memilih untuk merahasiakan kabar buruk itu. Lambat laun, para tetangga di sekitar rumahnya akhirnya paham bahwa Anis harus keluar malam untuk memadamkan api.
“Beberapa di antaranya mengetahuinya di televisi. Namun suatu ketika, suatu ketika saya diantar pulang oleh mobil pemadam kebakaran dengan pakaian basah kuyup. “Akhirnya mereka paham,” kata perempuan berhijab itu.
Berbeda dengan pengalaman Ratna Wijayanti. Suatu ketika, saat sedang memadamkan api, Ratna terjatuh ke belakang dan harus dibawa ke rumah sakit. Saat itu, Ratna sedang terlibat dalam proses pemadaman api besar yang berlangsung sejak pukul 21.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.
“Saat saya menarik selang air sekuat tenaga, saya terjatuh ke belakang. Ternyata jalan di belakangku berlubang. Dan saya tidak menyadarinya,” kata Ratna mengenang kejadian dua tahun lalu.
Akibatnya Ratna harus dilarikan ke rumah sakit. Saat terjatuh ke belakang, Ratna merasa lengannya seperti mau patah. Namun untung setelah di rontgen, tangan Ratna hanya terkilir.
“Tetapi saya sangat malu setengah mati atas kejadian itu. Saya digendong oleh Ny. Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini). Dan saya tidak mengetahuinya,” ujarnya.
Pembentukan tim pemadam kebakaran wanita
Dua bulan setelah Chandra Oratmangun dilantik menjadi Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya pada tahun 2012, sebuah terobosan terjadi. Dia mengambil inisiatif untuk membentuk tim pemadam kebakaran yang semuanya perempuan. Latar belakang terbentuknya tim ini karena selama ini sebagian besar korban kebakaran adalah perempuan dan anak-anak.
“Jika ada yang membantu perempuan lain, mereka akan merasa lebih tenang dibandingkan laki-laki,” kata perempuan pertama yang mengepalai Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya ini.
Chandra pun mulai mensosialisasikan ide pembentukan tim pemadam kebakaran perempuan kepada bawahan perempuannya. Jumlah pegawai di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya didominasi oleh laki-laki yaitu berjumlah 612 orang, ditambah hanya 41 pegawai perempuan.
Chandra mengatakan, sebenarnya seluruh pegawai di lingkungan pemadam kebakaran telah dibekali dengan keterampilan dasar pemadaman kebakaran, termasuk pegawai perempuan yang sebelumnya banyak bekerja di bagian administrasi.
“Saya tidak ingin kemampuan mereka terbengkalai. Dan terlebih lagi, perempuan akan semakin dihormati jika bisa bermanfaat bagi lingkungannya, kata Chandra.
Mayoritas bawahan perempuan Chandra telah bekerja di Dinas Pemadam Kebakaran rata-rata hampir 10 tahun. Namun, dalam kurun waktu tersebut mereka tidak pernah sekalipun terjun langsung ke lapangan.
“Saya bertanya kemudian, bagaimana bisa membuat laporan, kalau tidak pernah terjun ke lapangan?” kata Chandra.
Dengan terbentuknya tim pemadam kebakaran putri, Chandra tak membuka peluang secara terang-terangan. Dia baru saja mengumumkan ingin membentuk tim pemadam kebakaran wanita. Bagi pegawai wanita silahkan datang dan membantu jika terjadi kebakaran.
Selama dua bulan itu, Chandra tentu saja memilih anak buah perempuannya yang berkomitmen untuk bergabung dalam tim pemadam kebakaran.
Caranya, dalam setiap kejadian kebakaran, Chandra akan mengingat siapa saja anak buah perempuannya yang rela datang ke lokasi kebakaran untuk membantu proses pemadaman. Meski harus datang pada malam hari.
“Jika orang membantu perempuan lain, mereka akan merasa tenang dibandingkan laki-laki.”
“Kalau kamu datang sekedar untuk berfoto selfie Tentu saja aku akan mengusirnya. Karena sebenarnya banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan oleh petugas wanita, meski terkesan sepele. Misalnya memperbaiki selang air yang terlipat agar tekanannya tinggi, kata Chandra.
Ternyata tidak mudah bagi Chandra untuk mendapatkan nama-nama pegawai perempuan yang layak masuk dalam tim Srikandi Baruna. Selama dua bulan proses seleksi alam, Chandra hanya mendapatkan nama 5 pegawai perempuan untuk masuk tim.
Kelima orang ini bertahan selama satu tahun. Baru pada tahun kedua Chandra menemukan 11 orang lainnya. Jumlah anggota Srikandi Baruna yang hanya 16 orang perempuan masih bertahan hingga saat ini.
“Sulit untuk merekrut mereka. “Selain profesi saya, saya juga harus meyakinkan suami dan orang tua mereka agar diperbolehkan bergabung dengan pemadam kebakaran perempuan,” kata Chandra.
Tantangan datang dari dalam dan luar
Meski ide pembentukan tim pemadam kebakaran perempuan datang dari pimpinan langsung, namun ternyata tidak mudah bagi petugas pemadam kebakaran perempuan untuk ikut serta dalam proses pemadaman kebakaran.
Tantangan pertama yang dihadapi adalah dianggap remeh oleh masyarakat bahkan rekan kerja. Misalnya saat terjadi pemadaman listrik, warga akan bertanya-tanya kenapa yang memadamkan api adalah perempuan. Apa yang bisa mereka lakukan untuk memadamkan api?
Namun kami jamin, walaupun kami perempuan, kami tetap mampu, kata Anis yang kini menjabat Ketua Tim Pahlawan Baruna.
Bukan hanya warga saja yang memandang remeh petugas pemadam kebakaran perempuan. Hal serupa juga dilakukan oleh rekan-rekan. Misalnya, ketika terjadi kebakaran, petugas pemadam kebakaran perempuan tidak diberi kesempatan untuk membantu memadamkan api. Atau kalaupun diberi kesempatan untuk memadamkan api, mereka hanya diberi selang air yang kecil dan ringan.
“Wajar jika diremehkan. Karena semua peralatan pemadam kebakaran itu berat. Yang meremehkannya biasanya adalah rekan-rekan yang senior. “Mungkin mereka kasihan kenapa perempuan harus ikut memadamkan api,” kata Anis.
Seiring berjalannya waktu, warga Surabaya dan rekan kerja lambat laun menerima kehadiran petugas pemadam kebakaran perempuan. Saat ada panggilan kebakaran, warga Surabaya yang melihat mereka berangkat menuju lokasi kerap melambaikan tangan saat melihat petugas pemadam kebakaran adalah perempuan.
“Tidak jarang mereka mengatakan: ‘Saudara Keren’. Alat pemadam gadis (Wanita). “Itu membuat kami bangga,” kata Anis.
Namun di satu sisi, masih ada rasa kebingungan di kalangan perempuan petugas pemadam kebakaran. Mereka khawatir keberadaan mereka akan terhapus dengan kebijakan kepala pemadam kebakaran yang baru. Selain itu, beredar kabar akan ada rotasi di lingkungan Pemkot Surabaya.
“Saya yakinkan Anda bahwa Anda akan tetap berkomitmen. “Yakinkan ketua baru nanti kalau mampu,” kata Chandra. —Rappler.com