• April 7, 2026

Perjuangan selama 10 tahun yang selama ini dibungkam oleh negara

Selama satu dekade terakhir, tidak banyak kemajuan yang terlihat dalam kasus-kasus yang mereka tuntut

JAKARTA, Indonesia – Hampir 10 tahun Suciwati Munir, Maria Catarina Sumarsih, dan aktivis melakukan aksi diam di depan Istana Negara, Jakarta. Gerakan ikonik berlambang payung hitam ini didasari oleh tuntutan keadilan bagi korban kejahatan hak asasi manusia.

Selama satu dekade terakhir, tidak banyak kemajuan yang terlihat dalam kasus-kasus yang mereka tuntut. “Belum pernah selesai karena hanya menjadi komoditas politik,” kata Suciwati, Rabu, 18 Januari 2017 di Jakarta.

Kata-kata tersebut ditujukan kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang pada masa kampanyenya berjanji akan menyelesaikan beberapa kasus pelanggaran HAM masa lalu pada masa pemerintahannya.

Namun janji tersebut belum terealisasi hingga saat ini. Faktanya, hak asasi manusia belum menjadi prioritas meski pemerintahan sudah memasuki tahun ke-3. Jokowi tetap memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.

Keputusan yang diambilnya belakangan ini juga mengecewakan para aktivis hak asasi manusia. Misalnya saja penunjukan Wiranto sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Pertahanan. Bahkan, ia disinyalir terlibat dan bertanggung jawab atas kasus pelanggaran HAM berat di Timor Leste.

Selain itu, ada pula mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono yang disebut-sebut menjadi dalang pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. “Banyak keluarga korban yang terbunuh, sudah tua, sakit atau meninggal dunia, namun kasusnya tidak terselesaikan. Sedangkan Jokowi duduk bersama pelaku, kata Suciwati.

Negara ini lambat

Nur Kholis, Komisioner Komnas HAM, mengatakan memastikan bahwa pelanggar HAM berat diadili secara menyeluruh bergantung pada kelanjutan politik pemerintah.

“Karena seperti kita ketahui, orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab dalam kasus-kasus HAM yang serius adalah para pemain dominan dalam politik saat itu,” ujarnya. Biasanya orang tersebut masih mempunyai pengaruh yang sangat kuat pada periode pemerintahan berikutnya.

Seringkali dalam prosesnya selalu terbentur berbagai permasalahan seperti barang bukti atau pelaku yang meminta perlindungan. Ketika pemerintahan berganti, kasus-kasus terbengkalai dan prosesnya harus dimulai dari awal.

Koordinator KontraS Haris Azhar mengatakan, dalam konteks penegakan HAM, negara bisa disebut republik. “Keluarga korban lebih konsisten dibandingkan negara dalam hal ini,” ujarnya.

Kunci terpenting jika ingin keadilan ditegakkan adalah bagaimana mengumpulkan keberanian Jokowi untuk melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya. Haris menantang Jokowi untuk berani memerintahkan penolakan impunitas.

“Siapa yang bisa memerintahkan Kejaksaan Agung, Kepala BIN, Kapolri, dan TNI untuk tunduk pada hukum. “Sekarang (Jokowi) sepertinya tidak,” ujarnya.

Selain itu, menurut dosen Universitas Sanata Dharma Mutiara Andalas, negara juga menolak pola pikir negara sebagai ‘tuhan’. Dalam pola ini, segala sesuatu yang dilakukan negara pasti ada pembenarannya.

“Negara juga bisa melakukan kesalahan, dan kesalahan mereka bisa berakibat fatal,” katanya. Dengan cara ini, setiap orang akan diperlakukan secara adil tanpa menghilangkan kesalahan buatan.

Menurutnya, penting bagi Presiden untuk turun langsung dan berdialog dengan para korban dan keluarganya. Dari mereka, Jokowi bisa belajar tentang keberanian dan konsistensi memperjuangkan sesuatu.

“Pertemuan ini akan mendorong perubahan politik yang akan menjadikan rezim ini lebih baik dari rezim sebelumnya,” ujarnya.

Staf Presiden Bidang HAM Ifdhal Hasim mengakui, selama dua tahun kepemimpinannya, Jokowi fokus pada perekonomian.

“Tahun ketiga ini dia akan fokus pada penegakan hukum dan HAM,” ujarnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para aktivis yang mengingatkannya pada ucapan Jokowi tentang perlunya keberanian menyelesaikan persoalan HAM.

Namun hingga saat ini, negara belum mempunyai formulasi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan HAM yang berlarut-larut dan sepertinya tidak pernah terselesaikan. “Saat ini kami belum memiliki formulasi final, formulasi mana yang akan kami gunakan,” ujarnya.

Atas komentar tersebut, Haris Azhar memberikan balasannya. “Tidak perlu ide, konsep. Yang jelas, mereka yang terus-menerus tampil di depan Istana Negara adalah sebuah konsep nyata. Yang paling penting adalah keberanian, katanya.—Rappler.com

unitogel