Permasalahan Jakarta dan 10 Solusinya Menurut Agus-Sylvi
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Dalam orasi politiknya, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Agus Yudhoyno dan Sylviana Murni menyampaikan persoalan apa saja yang masih menyelimuti ibu kota saat ini.
“Selain banyak kemajuan dan hal yang telah dicapai, banyak juga situasi dan hal yang belum baik. “Banyak permasalahan yang belum terselesaikan sebagaimana mestinya,” kata Agus, Minggu 30 Oktober dalam pidato politiknya sebagai cagub DKI.
Padahal, kata Agus, ada beberapa hal di Jakarta yang ibarat bom waktu, bisa meledak kapan saja. (BACA: Pidato Politik, Agus Yudhoyono Sebut Jakarta Banyak Ketimpangan)
Lantas apa saja permasalahan Jakarta menurut putra sulung presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini?
1. Ekonomi
“Perekonomian Jakarta mengalami kemerosotan dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan melambat, kemiskinan meningkat, daya beli masyarakat menurun dan pengangguran pun meningkat. “Pasar dan tempat perbelanjaan semakin sepi,” kata Agus dalam sambutannya.
“Kalau masyarakat hanya mau datang, tapi yang keluar justru lebih sedikit. Akibatnya, kehidupan masyarakat, terutama masyarakat miskin dan kurang berketerampilan menjadi sulit.
“Dan karena sulitnya mendapatkan pekerjaan dan penghasilan, banyak saudara kita yang kurang beruntung mulai putus asa dan putus asa,” ujarnya.
2. Pendidikan dan kesehatan
Sementara kesejahteraan masyarakat Jakarta khususnya pendidikan dan kesehatan masih menghadapi tantangan, kata Agus.
“Memang benar, dalam 10 tahun terakhir, baik pemerintah pusat maupun Pemprov DKI Jakarta telah bekerja keras untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Namun di sana-sini, khususnya bagi keluarga miskin, masih saja mereka mengalami permasalahan dalam kehidupannya.
“Kasus gizi buruk dan gizi buruk, khususnya pada anak balita, masih banyak dialami oleh keluarga. Kondisi ini tentunya sangat mengganggu tumbuh kembang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan berkualitas, ujarnya.
3. Masalah sosial
“Jakarta juga menghadapi permasalahan sosial yang serius,” kata Agus.
Kerasnya kehidupan, kemiskinan masyarakat hilir perkotaan, migrasi yang terus menerus dari luar Jakarta, serta kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin memanaskan suasana sosial Jakarta yang sewaktu-waktu dapat berujung pada bentrokan sosial.
4. Keamanan
Keamanan di Jakarta juga cukup buruk, kata Agus.
“Dari 50 kota di dunia, Jakarta dinilai sebagai kota paling tidak aman. “Jakarta tidak hanya dilanda kejahatan jalanan, kekerasan horizontal, dan kejahatan narkoba, tetapi juga masih rawan aksi teroris.”
5. Hukum dan keadilan
Di sisi lain, masyarakat Jakarta juga sering merasa hukum dan keadilan belum terjaga dengan baik, kata Agus.
“Seringkali masyarakat diperlihatkan penegakan hukum yang selektif. Pertajam, tumpulkan. Banyak juga yang bertanya siapa yang terkuat atau berkuasa di negeri ini. Siapa yang memegang kendali, hukum atau politik?
“Rasa ketidakadilan seperti ini, ditambah dengan kesenjangan sosial-ekonomi yang menganga, membuat masyarakat awam merasa kalah, terpinggirkan… terpinggirkan dan ditinggalkan,” katanya.
6. Birokrasi pemerintahan
“Kami melihat pemerintahan dan birokrasi di Jakarta sering menjadi sorotan,” kata Agus.
“Masyarakat Jakarta ingin pemimpin dan pemerintah daerahnya transparan, adil dan bertanggung jawab. Orang bertanya apakah pemimpinnya bisa dipercaya? Apakah pemimpin menaati hukum dan hukum? Bukankah negara dan rakyatnya dirugikan? Bagaimana keuangan dikelola dan dari mana sumber dananya?
Dan ketika terjadi gesekan atau tindakan paksa terhadap warga, seperti penggusuran, masyarakat juga bertanya siapa pemimpin dan pemerintahan di Jakarta? dia berkata.
Atas permasalahan tersebut, Agus menyampaikan 10 program yang akan dilaksanakannya saat menjadi gubernur ke depan, yaitu:
1. Bantuan langsung kepada masyarakat miskin dan kurang beruntung
Termasuk bantuan daya beli, balita dan lanjut usia, serta jaminan sosial.
Menurut Agus, jika program ini serius dilaksanakan maka kemiskinan akan berkurang secara signifikan dari 3,75% saat ini menjadi 2,75% dalam 5 tahun ke depan. Ketimpangan juga akan menurun dari indeks Gini dari 0,41 menjadi 0,35.
“Kami akan meningkatkan ukuran anggaran selama 5 tahun (atau di atas dari anggaran yang ada) menjadi Rp 15 triliun,” kata Agus.
2. Pengurangan pengangguran dan penciptaan lapangan kerja
Ia menjanjikan pelatihan kerja, bantuan keuangan, pengembangan koperasi dan UMKM, serta pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
Program ini akan menurunkan tingkat pengangguran dari saat ini 5,7% menjadi 3,7% dalam 5 tahun ke depan.
Besaran tambahan anggaran selama 5 tahun mencapai Rp 10 triliun.
3. Peningkatan pendidikan dan kesejahteraan guru
Agus bermaksud memperbanyak Kartu Jakarta Pintar (KJP), beasiswa kemiskinan dan prestasi, pendidikan sekolah negeri, swasta dan madrasah, serta pendirian sekolah. asrama gratis bagi masyarakat miskin.
4. Peningkatan kesehatan
Agus menjanjikan penambahan besaran Kartu Jakarta Sehat (KJS), pembebasan iuran BPJS kelas III, penambahan puskesmas dan posyandu, serta mobil ambulans dan sepeda motor yang akan digunakan menembus gang-gang kecil dan jalanan ramai.
5. Pertumbuhan ekonomi dan stabilisasi harga
Di sektor ini, Agus-Sylvi akan berinvestasi di bidang pangan, energi, dan air bersih; memperbaiki penyerapan APBD DKI Jakarta yang sangat rendah; menjaga daya beli masyarakat; stabilisasi harga bahan pokok dan juga melakukan operasi pasar jika diperlukan.
Rata-rata target pertumbuhan ekonomi 5 tahun ke depan adalah 6,7%.
6. Pembangunan infrastruktur dan perumahan
Jakarta di bawah Agus-Sylvi akan menambah infrastruktur jalan, infrastruktur perumahan rakyat, dan juga air bersih.
7. Jakarta adalah kota yang cerdas, kreatif dan ramah lingkungan
Memasukkan tambahan angkutan umum dan manajemen lalu lintas untuk mengurangi kemacetan; pelayanan publik yang cepat, berkualitas dan murah; Aplikasi TIK untuk pemerintahan, jasa, bisnis dan pendidikan; pengembangan industri kreatif yang memiliki daya inovasi tinggi; tata letak yang sehat, ramah lingkungan, ramah manusia, dan lima kali lipat ramah dealer.
“Bagi PKL, kuncinya adalah diorganisir dan diberdayakan, bukan disingkirkan dan dihilangkan,” kata Agus.
Didukung juga dengan pengelolaan sampah dan konversi ke energi listrik yang meningkatkan penggunaan gas alam untuk kendaraan; memperkuat dan memberdayakan pasukan oranye serta meningkatkan kesejahteraannya; meningkatkan efektivitas upaya pengendalian banjir; pembangunan ruang terbuka hijau serta infrastruktur olah raga dan rekreasi seperti stadion sepak bola; pengembangan wisata kota, kawasan pedagang kaki lima dan seni, kerajinan, serta kuliner Betawi, termasuk batik; penghijauan; menanam hingga 5 juta pohon.
“Jakarta ke depan tidak boleh kalah dengan kota-kota lain di dunia dalam keindahan bunga dan hijaunya pepohonan,” kata Agus.
8. Peningkatan keamanan kota dan keharmonisan warga
Program ini mencakup pemeliharaan keamanan lingkungan, program sistem keamanan lingkungan dan pemberdayaan kelurahan, RW, dan RT.
“Sistem mana pun yang dipilih untuk pengurusan KTP, Ketua RT dan RW wajib mengetahui siapa saja yang tinggal di wilayahnya (terkait pemberantasan narkoba dan penanggulangan terorisme),” kata Agus.
Ia juga menekankan untuk menjaga toleransi dan kerukunan masyarakat serta meningkatkan kepekaan terhadap isu SARA. “Kedepannya kasus-kasus seperti Al-Maidah 51 yang melukai hati umat Islam harus dihindari,” kata Agus.
Sebelumnya, Gubernur petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dikecam Ormas Islam karena dituduh menghina Islam dengan mengutip Surat Al-Maidah dalam salah satu pidato resminya di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.
9. Penegakan hukum dan keadilan bagi semua
Program tersebut meliputi pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih, pemberantasan kejahatan perkotaan (patroli keamanan), dan pemberantasan narkoba.
10. Peningkatan kualitas pemerintahan dan birokrasi
Program ini mencakup pengembangan manajemen yang baik dan birokrasi yang responsif; pencegahan penyalahgunaan makna diskresi oleh para pemimpin; menjaga hubungan yang sehat dan produktif antara Gubernur dan DPRD; meningkatkan gaji dan kesejahteraan pegawai negeri sipil secara adil, rasional, dan sesuai dengan kapasitas anggaran yang tersedia; mengurangi dana operasional Gubernur hingga 30 persen dari alokasi saat ini.
“Karena menurut saya jumlahnya terlalu besar,” kata Agus.—Rappler.ocm