• April 9, 2026

Pertarungan dua kubu besar untuk memperebutkan kursi

JAKARTA, Indonesia – Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar dijadwalkan memasuki tahap akhir pada Minggu malam, 16 Mei. Setelah melalui rapat paripurna dan komisi, peserta Munaslub akan memilih 1 orang ketua dari 8 calon yang ada.

Delapan calon ketua umum yang maju adalah Ade “Akom” Komaruddin, Setya “Setnov” Novanto, Airlangga Hartato, Mahyuddin, Priyo Budi Santoso, Azis Syamsuddin, Indra Bambang Utoyo, dan Syahrul Yasin Limpo. Manuver politik mulai terasa sejak Minggu, 15 Mei.

Dari 8 calon tersebut, diprediksi ada dua kubu besar yang akan mendominasi pemilihan ketua umum malam ini. Dua calon favorit adalah Setya Novanto dengan nomor urut dua dan Ade Komarudin di nomor urut satu. Lalu siapakah yang lebih unggul di antara keduanya?

Pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya menyebut Setnov saat ini lebih unggul.

“Karena ada isu DPD I lebih berpihak pada Setnov, kemudian juga mendapat restu dari Aburizal Bakrie dan dekat dengan pejabat Istana, dalam hal ini Luhut Panjaitan yang terlibat langsung dalam pengawasan Munas.” kata pria bernama Toto saat dihubungi Rappler melalui telepon, Senin, 16 Mei.

Dijelaskannya, keunggulan kedua kubu bukanlah hal yang mengejutkan. Sebab Golkar merupakan partai politik yang mempunyai kekuatan genetik. Artinya, mereka yang dekat dengan kekuasaan adalah mereka yang mampu mencapai puncak kepemimpinan.

Hal ini menjelaskan mengapa Jusuf Kalla memenangkan pemilihan Ketua Umum pada tahun 2005 dan Aburizal Bakrie pada tahun 2009, kata Yunarto.

Sementara itu, selain dekat dengan Istana, Setnov juga sempat menjabat sebagai Ketua DPR selama satu tahun. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPR.

Di sisi lain, Akom masih menjabat sebagai Ketua DPR dan dekat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Ini adalah dua ibu kota yang sulit ditentang oleh kandidat lain. “Tidak ada yang bisa mengalahkannya,” kata Yunarto.

Bahkan, menjelang pemilihan ketua umum, mereka sempat saling melontarkan sindiran dua kali di media massa. Luhut mewakili Presiden Jokowi menyindir Akom tidak bisa menjadi Ketua Umum Golkar karena merangkap jabatan.

Sedangkan di kubu Akom, tim suksesnya selalu menyindir Luhut atau Setnov yang kerap menyebut nama presiden untuk kepentingan pribadinya. Menariknya, hal itu justru dibenarkan oleh Jokowi melalui pidato pembukaan Munas, ujarnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu kemudian menyikapinya secara simbolis, kata Yunarto, dengan tidak terlibat dalam proses tarik-menarik kepentingan.

“Dia memilih berangkat ke luar negeri dan memindahkan jadwal keberangkatan dari Minggu malam menjadi Sabtu malam,” ujarnya.

Apakah ini berarti Jokowi akan membiarkan kedua kubu “bertarung”? Yunarto menolaknya. Menurutnya, Jokowi hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak ingin berpihak pada satu pihak.

Jika Jokowi menegur JK atau Luhut karena ikut bertikai, kata Yunarto, sebenarnya Jokowi turun tangan. Bahkan, hal itu berpotensi membuatnya bermusuhan dengan kubu mana pun.

Ujung-ujungnya stabilitas politik rusak karena hal itu, ujarnya.

Namun, lanjut Yunarto, Jokowi terpaksa menegur Luhut karena menyebut namanya di Munas Golkar. Kalimat Luhut yang menyebut presiden tak suka pengurus parpol merangkap jabatan di parlemen menunjukkan eks Wali Kota Solo itu tak paham etiket hubungan legislatif dan eksekutif.

“Kalau ketua eksekutif berkomentar soal hubungan di legislatif, sama saja meminta Ketua MPR mundur dari jabatannya saat ini karena dia juga petinggi PAN,” ujarnya.

Jika dibiarkan, bisa berbahaya dan bisa menjadi contoh buruk bagi kader politik di kabinet. Sebab siapapun yang menjadi kader berarti bisa mengatasnamakan Jokowi dalam acara-acara partai.

Kuda hitam

Namun, tidak ada yang pasti dalam politik. Begitu juga dengan pemilihan Ketua Umum Golkar. Meski prosesnya didominasi dua kubu, Yunarto meyakini kejutan bisa saja terjadi.

Menurut Yunarto, ada dua calon yang bisa jadi kuda hitam. Mereka adalah Airlangga Hartarto dan Syahrul Yasin Limpo.

“Airlangga dinilai memiliki citra yang cukup baik, tidak pernah bermasalah dengan integritas, dan mewakili tokoh-tokoh muda. Bisa juga dikatakan diterima oleh semua kalangan. Sedangkan Syahrul memiliki basis suara yang tinggi di wilayah Indonesia bagian timur, jelasnya.

Yunarto mengatakan, perpecahan juga berpotensi kembali terjadi di Munas Golkar jika ada upaya untuk memaksakan sistem pemungutan suara dilakukan secara terbuka.

“Kalau begitu, maka pembagiannya dimulai dari sana. Refleksi perpecahan kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, semua bermula dari penerapan sistem pemungutan suara terbuka atau aklamasi, ujarnya.

Peserta Munaslub memang sudah menyetujui aturan pemungutan suara yang bisa dilakukan secara tertutup pada Minggu malam, 15 Mei. Namun, hal tersebut belum bisa dipastikan hingga pesanan disahkan malam ini.

Konsolidasi partai utama

Yunarto juga menilai janji yang dilontarkan delapan calon ketua umum itu terlalu ambisius. Yang terpenting, kata dia, bagaimana membawa Partai Golkar agar menjadi partai politik yang bersatu dan tidak terpecah belah lagi.

“Jadi konsolidasi partai harus segera dilakukan oleh Ketua Umum Partai Golkar yang akan dipilih nanti. Dengan begitu, perolehan suara partai bisa kembali meningkat,” ujarnya. – Rappler.com

BACA JUGA:

Hk Pools