• March 4, 2026

Pesona kaki gunung terancam hilang

Keindahan alam semakin hilang akibat ulah manusia

MALANG, Indonesia – Gunung Semeru di Jawa Timur telah lama menjadi magnet bagi para pendaki gunung. Keindahan alam dan pesona keenam danau atau ranu yang mengelilingi gunung berapi menjadi bagian daya tarik yang sulit untuk diabaikan oleh pengunjung.

Ranu Pani-lah yang memberi salam lebih dulu pendaki Gunung Semeru di Desa Ranupani, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Keindahan danau dengan luas sekitar 0,75 hektar ini sungguh menginspirasi Soedjarwoto Soemarsono atau yang dikenal dengan nama Gombloh, kembali menulis lagu dan bernyanyi tentang keindahan alam.

“Ranu Pani sudah ada sejak lama, sejak kakek dan nenek saya. “Danau ini dulunya merupakan sumber air bersih bagi masyarakat Ranupani,” kata Sukodono, petani sekaligus warga Desa Ranupani, Jumat, 6 Mei.

Ranu Pani terletak di pinggir Desa Ranupani. Desa berpenduduk sekitar 3.000 jiwa ini hidup berdampingan dengan danau yang selalu berkabut pada pagi dan sore hari. Di sekitar Ranu Pani terlihat lahan luas, rumah-rumah penduduk, dan bukit-bukit yang dipenuhi tanaman milik petani setempat.

Tak jauh dari Ranu Pani ada Ranu Regulo. Danau ini sedikit tersembunyi di balik perbukitan hutan dan pohon pinus. Jalan beraspal pengerasan jalan cukup ramah bagi pengunjung untuk berjalan kaki sekitar 10 menit dari Ranu Pani.

Ranu Regulo menawarkan keindahan danau alami yang dikelilingi pepohonan hijau dan permukaan danau yang jernih. Ibarat cermin, permukaan telaga ini memantulkan hijaunya pepohonan dan birunya langit.

Keindahan Ranu Regulo akan terasa sempurna jika Anda berada di sana saat matahari terbit. Melihat bagaimana detik-detik fajar berganti menjadi hangatnya mentari dengan suasana fajar hingga pagi hari merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga.

“Udara yang sejuk dan dingin, kabut yang tipis lalu hilang, datang lagi, suara burung dan jernihnya danau, tidak tercemar kotoran manusia membuat pengunjung tidak ingin pulang,” kata Hari Istiawan, warga Kota Malang. , dikatakan.

Ranu Pani dan Ranu Regulo sangat mudah dijangkau oleh pengunjung. Memasuki kedua kawasan danau ini tidak dipungut biaya bagi pengunjung. Ranu Regulo banyak digunakan untuk berkemah oleh pengunjung yang ingin melihat matahari muncul di kaki Semeru.

Ranu Pani yang terancam punah telah hilang

Selain Ranu Pani dan Ranu Regulo, Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menawarkan empat danau lagi yaitu Ranu Darungan, Kuningan, Kumbolo dan Ranu Tompe. Danau terakhir ini tidak bisa dikunjungi wisatawan karena berada di zona khusus yang hanya bisa dikunjungi untuk keperluan penelitian.

Keenam danau ini merupakan danau tadah hujan yang sudah ada sejak lama di kawasan Tengger. Kondisinya secara umum tidak jauh berbeda dengan Ranu Regulo dan Ranu Pani yang ada di ketinggian 2.100 meter diatas permukaan laut dan sangat mudah dijangkau oleh pengunjung.

Sedangkan Ranu Kumbolo seluas 15 hektare berada di lereng atas. Untuk mengunjungi danau ini wisatawan harus berjalan kaki selama 5 jam dari Ranu Pani.

Sayang, nasib menyedihkan dialami Ranu Pani. AAkibat proses erosi yang dilakukan oleh praktik pertanian para petani di perbukitan sekitarnya, luas permukaan danau ini semakin menyusut. Kedalamannya pun berkurang, dari semula 12 meter menjadi saat ini 7 meter.

“Ranu Pani masih ada dan tidak pernah surut, namun semakin mengecil dan dangkal akibat endapan pupuk petani,” kata Sukodono.

Tumbuhan air salvinia molesta tumbuh subur di permukaan danau. Tumbuhan invasif ini mempercepat naiknya permukaan danau karena akarnya yang mengikat tanah dan berbagai unsur hara lainnya di dalam danau.

Salvinia tumbuh “sehat dan gemuk” akibat erosi lahan pertanian petani yang banyak mengandung pupuk. Warga sengaja memasang jaring tali untuk mengikat salvinia dan menariknya ke pantai, serta memanfaatkan tanaman tersebut sebagai pupuk organik.

“Petani diminta mulai menerapkan model teras miring, untuk mengurangi erosi di danau. “Caranya dengan menanam rumput gajah sebagai tepian alami untuk mencegah erosi,” kata pemilik lahan kentang seluas satu hektare itu.

Namun, tidak banyak petani yang menanam rumput gajah di pinggir lahannya. Selain belum paham dengan model teras miring, tidak banyak warga yang mudah menemukan rumput gajah.

“Pemerintah perlu menyediakan bibit rumput gajah, serta ajakan untuk menanam terasering miring,” imbuhnya.

Entah sampai kapan Ranu Pani bisa terus memberikan keindahan kepada pengunjung dan warga desa Tengger di lereng Semeru. Kini banyak warga yang memenuhi kebutuhan airnya dari sumber lain melalui sambungan pipa. Ranu Pani juga banyak dijadikan tempat memancing warga sekitar.

Masyarakat beruntung bisa menemukan sumber air lain. Yang menderita adalah warga lainnya seperti Burung Gereja Kebo, Trocokan, Cucak Hijau dan Panthera Pardus yang masih sering terlihat oleh warga. Mereka tetap datang ke Ranu Pani untuk memenuhi kebutuhan air, meski mereka tahu air danau sudah tidak layak diminum akibat ulah manusia. Rappler.com

Togel Hongkong Hari Ini