• March 6, 2026

Pidato Soeharto berjanji akan ‘mengguncang’ kabinet, agar tidak terpilih kembali

JAKARTA, Indonesia – 18 tahun lalu, tepatnya pada 19 Mei 1998, Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan para ulama dan ulama.

Diantara yang hadir adalah Prof. Nurcholish Madjid, Abdurahman “Gus Dur” Wahid, KH Clolil Baidawi, KH Ali Yafie, Ma’ruf Amin, Emha Ainun Nadjib, Yusril Ihza Mahendra dan Malik Fadjar. Pertemuan digelar di Istana Negara, di ruang Jepara. Hadir pula sejumlah pejabat ABRI.

Di gedung DPR/MPR RI, ribuan mahasiswa memenuhi seluruh sudut gedung. Puluhan orang naik ke kubah gedung. Mereka meminta tuntutan dan meminta agar Soeharto segera turun dari kekuasaan.

Pasar uang sedang gejolak, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Menurut catatan di buku Kronologi Penggulingan Soehartomelemahkan nilai rupiah menjadi Rp 16.000 per dolar AS.

Beberapa ambulans dan tim medis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia disiagakan untuk menangani situasi tersebut. Di sejumlah tempat di Jakarta, ibu-ibu menyiapkan makanan nasi kemasan dan minuman untuk dibagikan kepada siswa.

Perjuangan menuntut perubahan kepemimpinan nasional dan reformasi menyatukan generasi muda dan orang tuanya. Suara Seorang Ibu yang Pedulisebuah gerakan sosial yang diprakarsai oleh Melani Budianta mendukung gerakan mahasiswa dengan membagikan makanan, minuman, uang dan bantuan tenaga kerja.

Dari akuSuara Aman Ibu yang Peduli, kita mengingat kembali kiprah perempuan pada Reformasi 1998. Melani Budianta dan kelompok perempuan berperan dalam Reformasi 1998 melalui “Milkpolitik” yang menantang dampak kebijakan ekonomi pemerintah terhadap anak dan perempuan.

Menggunakan istilah “Ibu” sebagai payung besar, Suara Ibu Peduli mendefinisikan kembali konstruksi “Ibu” Orde Baru yang bersifat apolitis dan terbatas pada ranah domestik.

Segera setelah kerusuhan Mei 1998, Melani melakukan protes terhadap Menteri Urusan Perempuan (UPW) dalam surat terbuka yang dimuat di Media Indonesia. Melani menantang sikap diam Menteri UPW ketika isu pemerkosaan terhadap perempuan tersebar di media massa dan di kalangan tokoh masyarakat.

Konferensi pers Presiden Soeharto 19 Mei 1998

Presiden Soeharto kembali ke istana, setelah bertemu dengan ulama dan ulama, mengadakan konferensi pers. Ia berjanji akan mengadakan pemilihan umum untuk memilih penggantinya. Soeharto tidak siap untuk terpilih kembali.

Soeharto juga mengumumkan akan membentuk Komite Reformasi yang beranggotakan kalangan kampus, unsur masyarakat, dan para ahli. Komite ini bertugas mengkaji sejumlah undang-undang politik yang sejalan dengan semangat reformasi, antara lain UU Pemberantasan Korupsi dan UU Anti Monopoli. Soeharto pun berjanji akan segera melakukannya bergerak lagi kabinet.

Pidato konferensi pers Soeharto sore itu cukup panjang. Soeharto bertanya apakah situasi tersebut bisa diatasi dengan kemundurannya? Ia meragukan kemampuan Wakil Presiden BJ Habibie yang secara konstitusional akan menggantikan Soeharto jika ia lengser.

Soeharto pun menyindir pihak-pihak yang meminta kembali menjadi presiden dua bulan sebelumnya.

“Tadi saya katakan, apakah benar masyarakat Indonesia masih percaya kepada saya karena usia saya sudah 77 tahun,” kata Soeharto.

Tiga partai politik, yakni Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), serta ABRI ternyata menyebut mayoritas masyarakat menginginkan Soeharto kembali menerima pencalonannya sebagai presiden. untuk periode 1998-2003.

Soeharto mengaku menerima pencalonan itu sebagai tanggung jawab sehingga tidak dianggap “tetap tenang, tetap tenang”, untuk meninggalkan posisi pada saat krisis.

“Sekarang kalau saya memenuhi tuntutan mundur, secara konstitusional, maka saya harus serahkan ke wakil presiden. Lalu timbul pertanyaan apakah ini juga merupakan cara untuk menyelesaikan masalah dan tidak akan timbul masalah baru lagi.

“Nanti wakil presiden juga harus mundur lagi. “Jika hal ini terus berlanjut dan menjadi preseden atau menjadi peristiwa dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat kita, maka dengan sendirinya negara dan bangsa ini akan kacau balau,” kata Soeharto.

Dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan menjadi presiden “tepuk tanda“. Tidak masalah.

Seusai konferensi pers, situasi kembali tenang, ditandai dengan menguatnya nilai tukar rupiah. Presiden akan melakukannya bergerak lagi kabinet, dan menyebut kabinetnya Kabinet Reformasi.

Soeharto berjanji Komite Reformasi akan melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, Amien Rais, Buyung Nasution, dan Arbi Sanit.

Di dalam buku Kronologi Penggulingan Soehartomenceritakan bagaimana Soeharto bercerita kepada Yusril Ihza Mahendra malam itu.

“Mereka (siswa) tidak mengerti. Jika sidang istimewa bisa berlarut-larut, situasi akan semakin kacau. Jika itu yang terjadi, ABRI akan mengambil kendalipada?”

Amien Rais merencanakan doa sejuta umat pada 20 Mei 1998

Pada 19 Mei, 18 tahun lalu, situasi Jakarta belum aman. Pidato Presiden Soeharto meredakan situasi, namun tidak memenuhi keinginan mahasiswa yang kini didukung para petinggi kampus, serta sejumlah tokoh, agar Soeharto segera lengser.

Amien Rais, tokoh Muhamadiyah yang sejak awal menyerukan pergantian kepemimpinan, berencana melakukan “demonstrasi besar-besaran” yang dikemas dengan doa sejuta umat di Monumen Nasional (Monas). Lokasinya tepat di depan Istana Kepresidenan.

Rencana Amien Rais dimanfaatkan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. Ini adalah hari ulang tahun Budi Oetomo, organisasi non-sektarian, non-etnis pertama.

Kongres pertama mereka diadakan pada tanggal 20 Mei 1908 di gedung Stovia dan menjadi cikal bakal lahirnya gerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Rencana demonstrasi sejuta orang mendapat reaksi dari berbagai organisasi. Mahasiswa pun berbondong-bondong mendatangi Monas. Ada pula yang menuju kawasan Menteng, ke kediaman pribadi Soeharto yang dijaga ketat tentara dan kawat berduri.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)Ginandjar Kartasamita mengamati gerak-gerik mahasiswa tersebut dari ruang kerjanya, di Gedung Bappenas, seberang Taman Suropati, Menteng.

“Saya bisa melihat mereka (siswa) dari jendela kantor saya. Mahasiswa mencoba mendekati rumah Soeharto di Jalan Cendana. Namun pengamanan yang ketat membuat mereka tetap bertahan di Taman Suropati. “Mereka tampak antusias namun berusaha melakukannya dengan damai,” kata Ginandjar dalam buku tersebut Mengelola Transformasi Indonesia, Sebuah Sejarah Lisan.

Ketakutan akan terjadinya kerusuhan lanjutan membuat masyarakat Tionghoa memilih meninggalkan Indonesia. Begitu pula dengan orang asing yang tidak yakin dengan keselamatan di Indonesia pada hari-hari menegangkan tersebut memilih terbang jauh dari Indonesia. Kebanyakan ke Singapura dan Australia. Ribuan orang masih tersisa.

Warga Jakarta, khususnya di sejumlah perumahan, memilih untuk tetap berjaga-jaga, bahkan memasang barikade untuk memastikan tidak ada orang tak dikenal, apalagi penjarah, yang masuk ke kawasannya. Banyak perkantoran yang tutup, apalagi pertokoan.

Jakarta, di beberapa daerah, ibarat kota hantu. —Rappler.com

BACA JUGA:

Data Hongkong