Polemik KTP Campuran Teman Ahok
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – (Update) Dipimpin Fery Ariyanto, sosok yang mengaku dari kalangan masyarakat sipil, lima mantan sahabat Ahok mengungkap dugaan kejanggalan pengumpulan Kartu Tanda Penduduk (KTP) calon Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. menjadi orang nomor satu di ibu kota.
Paulus “Ciman” Romindo, 37 tahun, warga Penjaringan-Jakarta Utara, mengawali konferensi pers dengan mengomentari jumlah KTP Ahok yang mencapai satu juta secara door to door, dari satu pusat perbelanjaan hingga penjemputan di pusat perbelanjaan. ke atas. . “Kami nyatakan tidak benar, semuanya tidak benar,” kata Ciman saat menggelar jumpa pers di Kafe Dua Nyonya, Cikini, Rabu, 22 Juni.
Menurutnya, pengumpulan KTP Ahok tak lepas dari kerja keras ‘karyawan’ yang bekerja di ‘perusahaan’ bernama Teman Ahok. “Kami dikontrak, kami dibayar. “Kami bekerja seperti karyawan di sebuah perusahaan,” ujarnya sambil menunjukkan kuitansi berwarna kuning dan hijau.
Setiap minggunya, setiap ‘pegawai’ Teman Ahok ditargetkan mengumpulkan 140 KTP dan akan mendapat imbalan sebesar Rp 500.000. Pada minggu keempat, mereka akan mendapat tambahan biaya operasional sebesar Rp 500.000. Jadi totalnya setiap penanggung jawab (PJ) yang mengambil KTP mendapat Rp 2,5 juta per bulan.
Ciman menjelaskan, PJ di seluruh DKI Jakarta berjumlah 153 orang. Di atas PJ terdapat Koordinator Pos (Korps) yang membawahi 5-10 PJ.
Selain mendapat honor, Ciman juga mengaku mendapat fasilitas dari Sahabat Ahok, seperti seragam dan fasilitas printer merek Hewlett Packard (HP). “Kelompok pertama bahkan mendapat laptop,” ujarnya.
Sedangkan Korpos mendapat fasilitas tambahan berupa telepon genggam.
Selain Ciman, ada empat mantan teman Ahok lainnya yang mengaku mendapat bayaran yang sama. Mereka adalah Della Noviyanti, Kusnun Nurun, Dodi Hendaryadi, dan Richard Sukarno.
Cara pengambilan KTP campuran
Selain soal gaji, mereka juga membeberkan kinerjanya sendiri. Ia mengaku tidak jujur dalam mengumpulkan KTP.
Ciman adalah orang pertama yang menyebutkan adanya barter dalam proses pengumpulannya. Pertama, dia mengakui pengambilan KTP Ahok sedang berlangsung hoki stan masih bersih Namun sayang, menurut Ciman, terjadi penipuan di tingkat PJ di lapangan.
“Apa yang terjadi di PJ tidak nyata. “Itu barter dengan KTP,” ujarnya.
Bagaimana cara kerja barter? “Misalnya PJ Pinang Ranti mengumpulkan 140 KTP, lalu ditransfer ke Kelapa Dua, ditukarkan dengan Gojek, lalu ditukarkan lagi ke kawasan Sukabumi Selatan dan Jati Pulogadung. “Saat sampai di sana, mungkin ada duplikat KTP karena autentikasinya kurang maksimal,” ujarnya.
Apa yang dilakukan tim selama verifikasi? Siapkan skenario verifikasi palsu dengan menelepon responden terlebih dahulu.
“Kak, tunggu di sini, nanti kita telepon lagi,” ajaknya. Sehingga tim verifikasi memanggil orang yang telah mereka hubungi sebelumnya dan tentunya orang tersebut langsung memastikan bahwa KTP-nya sudah diserahkan ke tim Ahok.
Siapa yang mencetuskan ide tersebut? “Atasan kami, karena kami dikejar sasaran,” ujarnya.
Ciman juga menambahkan, tidak jarang transaksi uang terjadi secara barter. “Terjadi jual beli data antar pengelola. “Beberapa orang dihukum,” katanya.
Tidak kompak
Benarkah praktik tersebut dilakukan oleh kelima saksi tersebut?
Rappler pasti juga mempelajari keterangan saksi dari lima mantan temannya usai konferensi pers.
Saksi pertama Della Noviyanti, 22 tahun, PJ Pos Sukabumi Selatan. Dia adalah anak Karno. Dua PJ dapat diangkat dalam satu kecamatan. Satu sama lain biasanya menjadi tandem.
Della yang bekerja sebagai ibu rumah tangga di Kelapa Dua mengaku ia direlawan oleh ayahnya pada Juni 2015.
Sebagai PJ, ia mengaku tidak pernah turun ke lapangan atau mengambil KTP dari rumah ke rumah.
“Saya yang menulis, tapi Papa yang mengumpulkan KTP,” ujarnya.
Tanpa diminta, Della pun mengatakan ayahnya mengumpulkan tanda tangan palsu untuk mengambil KTP. Kartu identitas penduduk terkadang diperoleh dari petugas kecamatan setempat.
“Ayah belinya ke camat, main sama aparat desa, dikumpulkan KTP warganya ya? pintu ke pintu,” dia berkata.
Berapa harga paketnya? “Rp 400.000 untuk 200-300 KTP,” ujarnya.
Saat Rappler membenarkan pernyataan tersebut kepada Karno, ia membantahnya. “Saya tidak menggeledah kecamatan, saya kumpulkan KTP, saya kasih formulir ke masing-masing warga, mereka datang dan mengisinya, lalu kita ambil KTPnya,” ujarnya.
Ia mengaku sudah mengumpulkan beberapa KTP dari pintu ke pintu. “Ya, sebagian di antaranya palsu. “Ada yang punya KTP palsu,” ujarnya.
Untuk membantu pekerjaannya, Karno mengaku mempekerjakan ibu-ibu sebagai ‘kaki tangannya’. “Untuk ibu-ibu per kulit (honour) Rp 1.000-2.000,” ujar pria yang berperan sebagai Penagih hutang di Intidana Bank Jalan Tiang Bendera, Jakarta Barat.
Lalu bagaimana dengan praktik barter yang disebutkan dalam konferensi pers tersebut? Rappler kembali bertanya kepada Ciman, orang yang pertama kali menyebut kata ‘barter’.
Ciman yang mengaku sebagai pegawai perusahaan penyedia peralatan pendidikan ini mengaku tidak punya pengalaman langsung melakukan barter. Namun justru rekannya Dodi Hendaryadi, 36 tahun, PJ Pinang Ranti yang mengalaminya.
Rappler pun bertanya pada Dodi. Pria ini bergabung dengan Teman Ahok pada Januari 2016, dan baru dipecat empat bulan lalu karena terindikasi identitas ganda.
Dia kemudian mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang barter. Ia hanya mengumpulkan data KTP menggunakan ‘kakinya’. Mirip dengan amalan Karno.
“Saya kasih uang rokok Rp 200.000, sisanya Rp 300.000 untuk saya,” ujarnya. Baru kemudian dia mengetahui bahwa 40 persen KTP yang dia ambil dari ‘kakinya’ adalah palsu.
Lalu bagaimana dengan praktik barter yang dimaksud? “Kalau Bu Nurun, Bu Nurun juga begitu, kalau saya sistem setoran langsung,” ujarnya.
Rappler pun bertanya pada Kusnun Nurun. Ia pun kembali melemparkan informasi tentang barter kepada Ciman. “Ini Ciman,” kata perempuan berusia 35 tahun yang berprofesi sebagai penjual baju itu.
Lalu bagaimana cara dia mengambil KTP-nya? “Awalnya data yang kami kumpulkan banyak yang real, saya datangi door to door,” ujarnya.
Namun seiring berjalannya waktu, ia menyadari tekanan yang ia rasakan semakin besar sehingga ia harus memalsukan KTP sendiri. “Saya punya KTP, saya tulis dengan nama orang lain,” ujarnya.
Total, kata Nurun, dari 140 KTP yang dikumpulkannya, hanya 10-20 KTP asli.
Berbeda dengan solidaritas kelimanya saat jumpa pers, saat diwawancarai Rappler hingga akhir, tidak ada satupun yang mengaku melakukan barter. Mereka hanya mendengar dari rekan-rekannya.
Siap digugat warga
Di penghujung jumpa pers bersama mantan relawan Sahabat Ahok, Rappler menanyakan apakah mereka berlima siap digugat warga karena ikut memalsukan pengambilan KTP Ahok? “Siap!” kata Ciman yang mengaku bergabung dengan teman Ahok karena uang.
Nurun pun demikian. “Kalau mau digugat, maka seluruh PK akan digugat dan teman-teman Ahok akan digugat karena saya bekerja untuk mereka. “Kalau mau digugat, silakan saja, daripada terus membohongi warga DKI,” ucapnya.
Apa reaksi teman-teman Ahok?
Tak lama setelah eks Sahabat Ahok memberikan siaran pers, giliran gerakan Sahabat Ahok yang merespons. Amalia Ayuningtyas, Juru Bicara Sahabat Ahok, mengaku kelimanya merupakan bagian dari tim pengumpul KTP. Namun tiga di antaranya diberhentikan karena kualitas data yang mereka serahkan tidak memenuhi syarat.
Amalia pun membenarkan, biaya operasional ditanggung masing-masing PJ karena harus bolak-balik dari kecamatan masing-masing ke markas Teman Ahok di Pejaten.
Namun Amalia mengatakan, semua PJ mendapat biaya minim. “Saya selalu sampaikan kepada teman-teman Ahok, biaya operasional ini tidak akan bisa memperkaya diri sendiri tapi cukup untuk bolak-balik,” ujarnya.
Selain itu, Teman Ahok juga menyediakan fasilitas seperti printer dan telepon seluler, serta seragam dan kartu identitas. Bahkan ada surat tugas untuk setiap PJ. “Karena kami sangat serius. “Untuk memastikan kami melindungi KTP yang kami kumpulkan,” ujarnya.
Bagaimana dengan verifikasi? Amalia menjelaskan proses verifikasi KTP kepada Ahok. “Kami memiliki tim verifikasi telepon acak. TIDAK semua orang menelepon. “Gila kalau semua orang menelepon, kredit dan energi,” katanya. Namun dia meyakinkan, sistem verifikasi berfungsi untuk menghilangkan KTP yang tidak diklaim, palsu atau duplikat.
Amalia pun tak memungkiri, sistem kerja di Teman Ahok mirip dengan perusahaan. “Kami kira itu sebuah pujian karena itu berarti teman-teman Ahok diakui profesionalitasnya,” ujarnya.
Singgih Widyastomo yang juga tergabung dalam Sahabat Ahok menambahkan, banyak fakta yang diungkap eks Sahabat Ahok itu salah. Salah satunya soal jumlah PJ. Mantan teman Ahok itu sebelumnya menyebut PJ ada 153, namun kenyataannya hanya 90 PJ. “Postingan saya PJ coba-coba jadi jumlahnya belum pasti,” ujarnya.
Di penghujung jumpa pers, Singgih menegaskan kelima mantan kawan Ahok itu bukan pengurus inti sehingga tidak mengetahui data sebenarnya. —Rappler.com
BACA JUGA: