Polisi nasional menyangkal bahwa pasukan penjaga perdamaian Indonesia mencoba menyelundupkan senjata keluar dari Sudan
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Terdapat 139 personel kepolisian Indonesia yang ditahan di Sudan karena dituduh menyelundupkan senjata ke negara tersebut.
JAKARTA, Indonesia – Panglima TNI Mayjen Wuryanto membantah kontingen penjaga perdamaian Indonesia yang ditugaskan di Sudan berencana menyelundupkan senjata dari sana untuk dibawa ke Indonesia. Senjata yang ditemukan di tangan kontingen Indonesia bukan milik personel TNI atau Polri.
“Mengenai pemberitaan bahwa ada anggota misi penjaga perdamaian UNAMID (Misi Persatuan Bangsa-Bangsa Afrika) yang pada 20 Januari mengatakan ingin menyelundupkan senjata setelah mereka menjalankan tugasnya, saya katakan bahwa kabar tersebut tidak benar!” ujar Wuryanto. siaran pers di Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur.
Ia mengaku sempat mengecek ke beberapa pejabat yang mengatasnamakan kontingen Indonesia di Darfur, Sudan, yakni Panglima PMMP TNI Brigjen Marzuki yang saat ini berada di New York, Amerika Serikat dan Komandan Sektor UNAMID, Brigjen TNI Nur Alamsyah di Sudan dan Komandan Satgas Yon Komposit TNI Konga XXXV-B UNAMID di Darfur Letkol Infantri Singgih Pambudi Arinto.
“Konfirmasi mengenai berita tersebut tidak benar. “Peristiwa (upaya penyelundupan senjata) ini memang terjadi, namun tidak melibatkan satupun personel satgas UNAMID yang sedang bertugas di Sudan dan akan kembali pada Maret mendatang,” ujarnya.
Namun Wuryanto membenarkan, otoritas bandara El-Fasher menemukan sejumlah senjata. Namun senjata tersebut bukan milik personel kontingen Indonesia.
Kronologi kejadian
Penjelasan pun datang dari Kepala Penerangan Masyarakat Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul. Sebab, kontingen penjaga perdamaian terdiri dari unsur TNI dan Polri.
Ia kemudian menjelaskan kronologis kejadian pada Sabtu 21 Januari. Sebanyak 139 personel Polri yang bernama Formulir Satuan Polisi (FPU) kelompok 8 UNAMID akan kembali ke Indonesia. Seluruh barang bawaan diperiksa dan dimasukkan ke dalam dua kontainer untuk dibawa ke bandara.
“Total ada 40 petugas yang mendampingi kedua kontainer tersebut. Setibanya di bandara, dilakukan pemeriksaan rontgen. Banyak barang di sana ditumpuk di satu tempat. “Sekitar 10 meter dari situ ada tumpukan tas lainnya, petugas bandara meminta agar pihak kepolisian menanyakan apakah tas tersebut miliknya,” jelas Martinus.
Anggota kepolisian Indonesia menjawab bahwa koper tersebut bukan milik mereka karena tidak ada label yang menunjukkan bahwa koper tersebut berasal dari Indonesia.
“Tasnya sama seperti ketika seseorang berangkat haji. Menurut Komandan Satgas FPU Grup 8, koper tersebut bukan milik TNI, kata Martinus lagi.
Menurut laporan media lokal, Tribun Sudan, koper tersebut berisi 29 unit Kalashnikov, 4 unit senapan, 6 unit senjata jenis GM3, 61 jenis pistol, dan amunisi dalam jumlah besar. Martinus menjelaskan, belum ada satupun personel Polri yang ditangkap aparat di Sudan. Namun kepulangan mereka tertunda karena harus dimintai keterangan.
“Saya tegaskan mereka belum ditangkap, tapi kepulangannya tertunda. Sekali lagi, Anda tidak ditahan. “Mereka saat ini berada di camp transit di sana karena tempatnya di camp Garuda sudah diisi oleh personel FPU Grup 9,” ujarnya.
Saat ini, pemerintah Indonesia sedang berupaya memulangkan 139 personel polisi tersebut. KBRI Darfur akan membantu memberikan klarifikasi, termasuk kepada UNAMID.
Martinus mengatakan, kelompok FPU 8 berangkat pada 15 Desember 2015 dan bergabung dalam misi penjaga perdamaian di bawah bendera PBB, UNAMID. Setelah satu tahun menjalankan misi ini, mereka berencana untuk kembali ke rumah pada tanggal 21 Januari. Sayangnya, rencana tersebut terhenti karena adanya dugaan penyelundupan senjata yang dilakukan petugas bea cukai di Sudan.
Konfirmasi penahanan staf lepas UNAMID asal Indonesia disampaikan Direktur Bea dan Cukai Polisi Darfur Utara, Asim Hamid. Ia memuji jajarannya yang berhasil menggagalkan upaya penyelundupan senjata dari Bandara El-Fasher.
Misi penjaga perdamaian di Sudan merupakan tim internasional terbesar kedua di dunia dengan anggaran tahunan sebesar US$1,35 miliar dan pasukan hampir 20 ribu orang. – Rappler.com