Polri berharap kasus pengeroyokan di Bandara Sam Ratulangi bisa berakhir damai
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Mudah-mudahan (perdamaian) bisa terwujud seiring berjalannya waktu. Kalau bisa, selesaikan saja. “Itu kejahatan ringan,” kata Rikwanto
JAKARTA, Indonesia – Setelah sebelumnya tampil antusias menangani kasus tamparan petugas keamanan penerbangan udara (Avsec) di Bandara Sam Ratulangi, Mabes Polri kini melunak. Mereka berharap kisruh yang bermula dari sikap kasar Joice Onsay Marawouw terhadap petugas Avsec Elisabeth Wehantouw bisa berakhir damai.
“Ada rencana seperti itu, tinggal (masih) mencari waktu yang tepat sambil melihat situasi di sana (Manado). “Yang di sana masih marah dan tidak bisa menerima,” kata Karopenmas Humas Polri Brigjen Rikwanto, Senin, 10 Juli, di Monas, Jakarta Pusat.
Polri berharap kasus tersebut tidak berakhir di pengadilan karena Joice sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya menampar Elisabeth di depan umum. Istri Brigjen Johan Sumampouw ini meminta maaf usai diperiksa di Polda Metro Jaya, Jumat pekan lalu.
Menurut Rikwanto, rasa penyesalan tersebut sudah dirasakan sejak Joice meninggalkan Manado menuju Jakarta.
“Mudah-mudahan (perdamaian) bisa terwujud seiring berjalannya waktu. Kalau bisa, selesaikan saja. “Itu kejahatan ringan,” katanya.
Namun keputusan berdamai tetap ada di tangan korban. Tak seorang pun, kata Rikwanto, bisa mengubah hasil kasus ini.
“Korban memainkan peran penting dalam menyelesaikan masalah ini. “Tapi, kami berharap bisa selesai,” ujarnya lagi.
Dalam pemeriksaan yang berlangsung pekan lalu, Joyce mengaku kepada penyidik ia merasa bingung. Ia mengaku tidak berniat menampar korban.
Memaafkan
Sementara itu, Elisabeth mengaku sudah memaafkan Joice atas kejadian yang terjadi pada Rabu pekan lalu. Namun belum diketahui apakah kasus ini akan berakhir damai atau masih diproses polisi.
“Jika pelaku yang bersangkutan sudah meminta maaf dengan tulus, tentu kami tidak keberatan meminta maaf dengan tulus,” ujarnya, Minggu 9 Juli di Bandara Sam Ratulangi.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian sengaja mendatangi dan berkomunikasi langsung dengan Elisabeth. Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini memanfaatkan kunjungannya ke Manado untuk juga memberikan contoh kepada anak buahnya selama berada di bandara, termasuk saat diperiksa petugas Avsec.
Tito memilih melepas jam tangan, ikat pinggang, dan barang-barang lain yang dianggap perlu saat menjalani pemeriksaan mesin x-ray.
“Saya sebenarnya ingin memberi contoh kepada polisi dan keluarga bahwa kita harus menaati aturan. Mengapa? Sebab aturan ini diatur dalam UU Keselamatan Penerbangan. Kedua, untuk kepentingan kita sendiri, karena kalau sudah dicek pasti nyata tampak masuk ke tempat yang steril. “Apalagi serangan teroris banyak terjadi di seluruh dunia,” kata Tito kepada media, Minggu pekan lalu.
Dia menjelaskan, petugas Polri dan Avsec sama-sama bertugas menjaga keamanan. Namun ruang lingkup tugas Avsec hanya sebatas menjamin keamanan penerbangan.
Namun jika kasus ini benar-benar berakhir damai maka akan menjadi preseden buruk bagi masyarakat. Mungkin kasus ini bisa diselesaikan secara damai hanya karena Joyce adalah istri seorang polisi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kejadian serupa akan terulang kembali di masa mendatang. – Rappler.com