Potret Rekrutmen ISIS di Media Sosial
keren989
- 0
SOLO, Indonesia – Teuku Akbar Maulana (17), remaja cerdas penghafal Alquran dan fasih berbahasa Arab, mendapat beasiswa dari pemerintah Turki untuk belajar agama di SMA Imam Katip – setara Madrasah Aliyah Indonesia – di Kayseri.
Namun, dari kota di Anatolia tengah itu, sebuah godaan serius muncul dan hampir mengubah jalan hidupnya sebagai calon imam dan khatib. Ia hampir meninggalkan keluarganya di Aceh dan bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah, mengikuti jejak temannya.
Di laman Facebooknya, Akbar melihat foto Yazid, teman asrama asal Indonesia, yang sebelumnya bergabung dengan pejuang ISIS, tampak ofensif sambil memegang senapan AK 47. Ternyata Yazid juga sempat merekrut Bagus, teman asal Indonesia lainnya yang juga ikut. belajar di Turki.
Penggalan cerita di atas merupakan kisah nyata yang diabadikan dalam film dokumenter bertajuk Selfie Jihad oleh Noor Huda Ismail, pemerhati terorisme, penulis buku dan pendiri Yayasan Peace Prasasti. Huda bertemu Akbar secara tidak sengaja pada tahun 2014 di sebuah kedai kebab di Kayseri, kemudian mereka saling mengenal dan berbagi cerita.
Kisah remaja Aceh menginspirasi Huda membuat film. Pada Maret 2015, ia memulai proses produksi hingga Mei 2016, dengan lokasi syuting tidak hanya di Turki, tapi juga di Melbourne, Australia, dan sejumlah kota di Indonesia.
Pemutaran film pertama diadakan pada bulan Juni lalu di International Workshop of Counter Violence Extremism di Swiss. Film ini akan diputar dan dibahas di Jakarta pada Minggu 24 Juli.
Ekstremisme melalui media sosial
Film ini bercerita tentang pola baru perekrutan pejuang ISIS yang menyasar remaja di masa remajanya melalui media sosial. Berbeda dengan pola lama, di mana individu pertama kali bergabung dengan kelompok kekerasan dan kemudian melakukan aksi teroris, pola baru ini melibatkan peran Internet dan media sosial.
Individu, khususnya remaja, mendapatkan akses internet dan mengetahui peristiwa konflik Timur Tengah, kemudian menjalin komunikasi dengan jaringan pelaku sebelum akhirnya terlibat dalam aksi kekerasan, seperti bom bunuh diri. Media sosial telah mengubah pendukung pasif menjadi pendukung aktif.
“Ini adalah tren baru. “Mereka yang direkrut adalah remaja yang tidak ada kaitannya dengan kelompok jaringan teror yang sudah ada di Tanah Air,” kata Huda.
“Remaja sekarang banyak menghabiskan waktunya untuk beraktivitas on line dan digunakan media sosial sebagai tempat mencari jati diri. Agar bisa eksis, mereka akan melakukan hal-hal di luar batas rasional.”
ISIS sengaja mengeksploitasi kecanduan remaja terhadap media sosial dan foto pribadi sebagai simbol keberadaan mereka di dunia maya. Mereka kemudian menciptakan gambar foto memegang senjata sebagai sesuatu yang keren dan patut ditiru. Kelompok kekerasan ini akan dengan mudah menarik banyak pengikut.
Yazid, teman asrama Akbar, adalah sosok asosial yang menghabiskan empat jam sehari di depan komputer untuk mengakses internet atau bermain game. permainan. Dia menghilang, lalu muncul fotonya di Facebook dengan latar belakang bendera ISIS.
Akbar tergiur dengan foto tersebut dan berniat bergabung dengan ISIS. Ia juga tertarik dengan iming-iming fasilitas gaji, makanan, dan kesempatan berjihad di sekitar Timur Tengah, khususnya di Suriah, pusat peradaban Islam masa lalu.
Dia sangat ingin terlihat keren di mata orang karena dia sedang berjihad, mencari surga. Dia kemudian berkomunikasi dengan Yazid melalui Facebook.
Mencari di internet, Akbar menemukan sosok lain bernama Wildan Mukhallad, remaja cerdas seusianya yang lebih dulu berjihad dengan melakukan bom bunuh diri di Irak. Wildan menjadi inspirasi baginya dalam mengambil keputusan mempertahankannya Negara Islam dipimpin oleh Abu Bakar Al Bagdadi.
Dalam film ini, Huda, alumnus Pondok Pesantren Ngruki Solo, juga mengikuti jejak Wildan di Universitas Al Azhar, Kairo, tempat ia menuntut ilmu, lalu ke Yogyakarta untuk bertemu keluarganya. Ia pun mendatangi kediaman Islam Al Islam di Lamongan yang dibangun oleh keluarga Ali Ghufron, pelaku utama bom Bali dan mantan jihadis Afghanistan pada 1980-an, tempat Wildan menuntut ilmu sebelum berangkat ke Mesir.
Lima alumni dan satu guru pesantren pindah ke Suriah dan bergabung dengan ISIS, padahal secara institusi pesantren ini tidak mendukung Daulah versi Al Baghdadi.
Janji dan rekrutmen
Huda juga memotret penyebaran ideologi khilafah ISIS di sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta dan kota lainnya.
Ia mewawancarai salah satu pendukung ISIS di Indonesia, Fauzan Al Anshori, pendiri Pondok Pesantren Anshorullah di Ciamis yang menjadi tempat transit bagi mereka yang ingin berjihad di Timur Tengah. Fauzan juga memanfaatkan media sosial untuk cepat mendapatkan informasi mengenai konflik Suriah.
Pesantren ini mengajarkan syahid sebagai tujuan hidup dan juga menjadi kebanggaan bagi orang tua. Seorang guru (ustadz) bahkan mempersiapkan anak keduanya untuk rela mati demi ISIS.
Untuk mengetahui cerita perekrutan ISIS, Huda mewawancarai Junaedi di penjara. Junaedi adalah seorang penjual bakso di Malang yang bergabung dengan ISIS selama enam bulan sebelum akhirnya ditangkap. Ia menceritakan pertemuannya dengan Abu Jandal, perekrut calon pejuang ISIS yang menantang TNI/Polri melalui video yang diunggah ke internet.
Huda mengunjungi Lapas Nusa Kambangan, tempat ditahannya pendukung ISIS Aman Abdurrahman dan diduga menyebarkan ideologi khilafah di dalam penjara tersebut. Dari dalam penjara itu, pendiri Pondok Pesantren Ngruki, Abu Bakar Ba’asyir, menyatakan dukungannya terhadap Al Baghdadi.
Dalam film ini, Huda ingin mempertanyakan apakah penjara merupakan solusi yang tepat bagi pelaku kekerasan terorisme di Indonesia, karena banyak orang yang keluar dari penjara justru semakin terinspirasi untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Misalnya saja pelaku teror bom Thamrin di Jakarta, Afif alias Sunakim, yang merupakan mantan narapidana teroris.
Di sisi lain, Huda bertemu dengan Yusuf, seorang pejuang Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Filipina Selatan yang berpindah agama dan memulai hidup baru dengan membangun bisnis kuliner di Solo. Yusuf yang divonis 10 tahun penjara karena keterlibatannya dalam jaringan bom Semarang, kini turut aktif mengajak rekan-rekan eks jihadis yang sudah keluar penjara untuk berwirausaha sebagai salah satu metode deradikalisasi.
Tanpa naskah

Selain adegan di kedai kebab, seluruh proses pengambilan gambar dilakukan dengan mengikuti keseharian Akbar yang alami, tanpa skenario dan naskah, termasuk saat ia berinteraksi dengan Yazid melalui Facebook tentang ajakan bergabung dengan ISIS.
“Saya mengadopsi teknik ini ruang lingkup bio “Jean Rouch, mengikuti kehidupan seorang objek film tanpa naskah awal dari sutradara,” kata Huda.
Setidaknya ada 180 jam rekaman yang dikompilasi namun akhirnya dikompres menjadi 49 menit setelah melalui proses editing yang panjang oleh Bruce Gil selaku editor film. Huda lebih fokus pada unsur keterlibatan cerita dengan penonton dibandingkan durasi filmnya.
Ia ingin isu-isu yang diangkat dan diceritakan menjadi permasalahan sehari-hari yang bisa dialami siapa saja, terutama para orang tua yang memiliki anak remaja yang sedang mencari jati diri dengan lebih banyak bersosialisasi di dunia maya dan minim komunikasi dengan keluarga.
Pesan utama yang ingin disampaikan dalam film tersebut adalah bahwa radikalisme merupakan permasalahan yang kompleks, namun dapat dicegah melalui peran keluarga dalam membangun hubungan dan komunikasi yang sehat dan hangat dengan anak-anaknya, kata Huda.
Seperti kisah Akbar yang akhirnya mengetahui Yazid pergi ke Syam tanpa memberitahu dan tanpa restu orang tuanya, membuat ibunya muak memikirkan anaknya. Kenangan Akbar akan kedekatannya dengan keluarga, terutama sang ibu, membuatnya menangis di hadapan guru penghafal Alqurannya di Turki. Dia tiba-tiba membatalkan niatnya untuk bergabung dengan ISIS.
Film dokumenter ini layak untuk disimak, terutama bagi mereka yang belum percaya bahwa ancaman paling nyata dari ISIS adalah hilangnya generasi muda karena termakan propaganda ISIS. —Rappler.com