PPI Belanda menyebut reklamasi Jakarta merupakan gagasan yang ketinggalan jaman
keren989
- 0
PPI Nederland menyebut daur ulang merupakan gagasan pembangunan yang sudah ketinggalan zaman. Negara-negara maju, termasuk Belanda sendiri, sudah lama meninggalkan cara ini.
JAKARTA, Indonesia – Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda menilai gagasan reklamasi Teluk Jakarta sudah ketinggalan jaman.
Hal ini merupakan respons terhadap rencana Pemprov DKI Jakarta yang akan mereklamasi pulau tersebut dan membangun tembok laut raksasa sebagai bentuk pertahanan pantai.
Menurut PPI Negeri Kincir Angin, negara maju seperti Belanda sudah meninggalkan konsep tersebut.
(BACA: Benarkah Jakarta Butuh Tanggul Raksasa?)
“Yang membuat saya heran kenapa saat pembangunan di Belanda mereka sendiri mulai menggunakan konsep konvensional dalam bentuk infrastruktur keras, seperti pembuatan tanggul raksasa atau reklamasi pulau, para ahli dan konsultan Belanda menyarankan pembangunan sebagai gantinya Tembok Laut Raksasa untuk masalah banjir Jakarta,” kata mahasiswa doktoral University of Twente Hero Marhaento dalam siaran persnya.
Pendapat tersebut disampaikan dalam diskusi “Reklamasi Teluk Jakarta” yang digelar pekan lalu oleh PPI Nederland bekerja sama dengan PPI Den Haag City dan Forum Diskusi Teluk Jakarta di Kampus International Institute for Social Studies, Den Haag, pada Sabtu, 18 Juni. telah ditransfer.
Daur ulang tidak lagi dilakukan
Ironisnya, ide daur ulang dan Giant Sea Wall justru dicetuskan oleh seorang konsultan asal Belanda. Menurut Hero, upaya nyata mempertahankan tanggul sudah dilakukan infrastruktur yang keras semacam tembok yang sudah tidak digunakan lagi oleh negara-negara maju.
Ia mengatakan, upaya pertahanan pantai dengan membangun tembok raksasa dan melakukan reklamasi pulau justru akan menimbulkan permasalahan baru di masa depan.
“Jika proyek reklamasi pulau ini dilaksanakan maka hutan mangrove di sekitar perairan Teluk Jakarta akan terdegradasi dan hilang. Padahal, hutan mangrove merupakan pertahanan alami pantai yang mampu mencegah erosi, ujarnya.
Selain itu, laporan Dinas Kelautan DKI Jakarta pada tahun 2013 mengakui bahwa Teluk Jakarta memiliki produktivitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Jadi tidak benar jika dikatakan Teluk Jakarta awalnya tidak ada ikannya, kata Hero.
Namun sejak dilakukan reklamasi Pulau G, nelayan di Muara Angke dan sekitarnya mulai kesulitan mencari ikan di Teluk Jakarta.
(BACA: Gugatan Nelayan Muara Angke)
Lebih lanjut, Pemprov DKI Jakarta juga harus jujur menjelaskan tujuan daur ulang. Hero mempertanyakan apakah itu benar-benar untuk pencegahan banjir rob, atau justru untuk perluasan properti.
“Jika ingin mengatasi banjir rob, solusinya bukan dengan membuat tanggul raksasa dan melakukan reklamasi pulau,” ujarnya.
Bukan solusi terhadap penurunan permukaan tanah
Salah satu alasan lain yang disampaikan Pemprov DKI Jakarta adalah semakin parahnya penurunan permukaan tanah di ibu kota. Namun peneliti pasca doktoral bidang hidrologi Universitas Utrecht, Edwin Sutanudjaja, membantah daur ulang sebagai solusi.
“Penurunan luas lahan Jakarta sebenarnya disebabkan oleh pembangunan yang tidak terkendali,” kata Edwin. Solusi terbaik menurutnya adalah pengendalian pembangunan.
Pemprov DKI harus melakukan sesuatu untuk menghentikan maraknya pembangunan pusat perbelanjaan dan apartemen. Selain itu, perlu adanya desentralisasi di daerah-daerah di luar Jakarta, sehingga tidak semua orang terburu-buru ke sini untuk tinggal atau mencari pekerjaan.
Edwin pun khawatir Teluk Jakarta akan menjadi seperti itu tangki kotoran Raksasa. Membangun tanggul raksasa berarti membendung air dari 13 anak sungai di Jakarta yang mengalir ke perairan mati.
“Jika kualitas air tidak dijaga maka air dari Teluk Jakarta akan menjadi limbah akhir yang sangat kotor,” kata Edwin.
Senada dengan Edwin, Hero menutup diskusi dengan mengatakan bahwa daur ulang bukanlah solusi bagi Jakarta.
“Untuk memperbaiki lingkungan hidup di Jakarta, kita perlu rehabilitasi, bukan daur ulang,” kata –Rappler.com