• March 31, 2026
Prabowo menjadi pesaing terberat Jokowi di Pilpes 2019

Prabowo menjadi pesaing terberat Jokowi di Pilpes 2019

BANDUNG, Indonesia — Lembaga Citra Komunikasi Indonesia (LSI) Denny JA telah merilis hasil survei terbaru yang dilakukan pada 22 – 29 September 2017. Survei yang mengambil sampel di wilayah Jawa Barat ini fokus pada pengukuran elektabilitas dan popularitas calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, serta calon Presiden dan Wakil Presiden.

Bagi calon presiden dan wakil presiden, nama Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih menjadi tokoh yang menonjol. Berdasarkan hasil survei dengan metode multiple random sampling dan total 440 responden, elektabilitas Prabowo Subianto mengungguli Jokowi.

Melalui simulasi kepala ke kepala Antara Prabowo dan Jokowi, jika Pilpres digelar hari ini, Prabowo akan unggul dengan 53,2 persen dan Jokowi 41,6 persen di Jawa Barat. Prabowo pun unggul dengan persentase 45,2 persen pada simulasi 6 calon yakni Jokowi, Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Yusril Ihza Mahendra, dan Tito Karnavian.

Sementara itu, jika menggunakan pertanyaan terbuka mengenai calon presiden mana yang akan dipilih responden jika Pilpres digelar hari ini, Jokowi unggul tipis dengan persentase 23,9 persen dibandingkan Prabowo yang persentasenya 23,4 persen. Sehingga kedua nama ini menjadi calon presiden yang cukup dominan saat ini. Namun yang mengkhawatirkan, jumlah responden yang belum menentukan pilihan, merahasiakan pilihan, atau tidak menjawab masih tinggi, yakni 40,9 persen.

Keunggulan Prabowo atas Jokowi di Jabar seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 lalu, di mana Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa unggul dengan 59,78 persen dan pasangan Jokowi – Jusuf Kalla hanya mendapat 40,22 persen.

Direktur Eksekutif LSI Communication Image Denny JA Toto Izul Fatah menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan Prabowo unggul di Tanah Pasundan. Faktor pertama, lanjut Toto, adalah karakteristik perilaku pemilih di Jabar yang masuk dalam kategori “religius”.

“Agama dalam tanda petik karena kalau tidak menggunakan tanda petik masih menjadi perdebatan. Religius di sini lebih karena sifatnya yang ideologis. “Pemilih kategori itu (di Jabar) banyak,” jelas Toto saat dihubungi Rappler melalui telepon, Minggu malam, 8 Oktober 2017.

Di sisi lain, kata Toto, terdapat kecenderungan Jabar secara geografis dekat dengan Jakarta, dimana masyarakat Jabar lebih banyak terkena dampak kebijakan program yang dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat Jabar. Jawa tidak. Alasan lainnya adalah sebagian pemilih memilih angka berdasarkan emosi atau yang bisa disebut “irasional”.

“Kategori pemilih ‘irasional’ pemilihnya cukup banyak, rata-rata 70-80 persen. Pemilih kategori ini dominan karena emosinya. “Ada yang berdasarkan ideologi agama, sentimen kesukuan, dan sebagainya,” kata Toto.

Namun, Toto menyebut hasil survei calon presiden di Jabar tidak mencerminkan hasil survei nasional. Terlepas dari kenyataan bahwa persentase responden tidak mewakili secara nasional, sampel acak yang digunakan tidak memenuhi persyaratan untuk mengklaim keterwakilan secara nasional.

“Kemarin kami sengaja bekerja sama untuk mengetahui elektabilitas calon presiden di Jawa Barat. “Ini bukan representasi nasional,” jelas Toto

Soal elektabilitas Jokowi, Toto mengatakan posisinya masih sangat rentan untuk dipilih kembali. Sebab, elektabilitas Jokowi masih belum masuk kategori kuat, bahkan cukup mengkhawatirkan. Toto membandingkannya dengan posisi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada periode yang sama dengan Jokowi. Elektabilitas SBY dua tahun pasca Pilpres berada di angka lebih dari 50 persen. Sedangkan yang tertinggi dari Jokowi hanya 40 persen.

“Jokowi masih rentan terpilih kembali jika tidak pandai memanfaatkan peluang,” kata Toto.

Sementara soal posisi Prabowo, kata Toto, meski posisinya masih berkisar 30 persen, namun hal itu masih cukup memberikan bekal bagi Prabowo dibandingkan saat ia menjabat pada tahun 2014 dengan elektabilitas di bawah 10 persen.

Meski begitu, menurut Toto, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada H-2 Pilpres 2019 bagi kedua tokoh tersebut. Toto mengatakan dinamika ekonomi dan politik dalam dua tahun ke depan masih berpotensi menggoyahkan bahkan melemahkan elektabilitas Prabowo dan khususnya Jokowi. Misalnya fenomena daya beli masyarakat yang menurun dan ancaman devisa yang semakin menurun. Toto menilai kedua hal tersebut berpotensi melemahkan elektabilitas Jokowi.

“Kalau dalam dua tahun dia (Jokowi) tidak mampu mengambil kebijakan yang tidak hanya merakyat, tapi juga berdampak signifikan terhadap stabilitas negara, khususnya perekonomian, saya kira elektabilitas Jokowi saat ini rentan,” kata Toto. Sementara itu, hasil survei LSI juga memunculkan calon alternatif, selain Prabowo dan Jokowi. Toto mengatakan Panglima TNI Gatot Nurmantyo berpeluang menjadi calon presiden alternatif.

“Gatot panglima sekarang juga berpotensi, kalau misalnya ada manuver yang salah dari Jokowi justru bisa membuat Gatot meraih popularitas dan elektabilitas karena salah langkah dalam mengambil kebijakan, entah dipecat atau apalah. “Bukan tidak mungkin, dia alternatifnya,” kata Toto. —Rappler.com

situs judi bola online