Presiden Duterte menyesal telah melontarkan komentar kasar kepada Obama
keren989
- 0
Amerika Serikat adalah sekutu terdekat Filipina. Rencana pertemuan bilateral dijadwal ulang satu hari lagi.
JAKARTA, Indonesia (UPDATED) – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengaku menyesal melontarkan komentar keras yang dianggap sebagai serangan pribadi terhadap Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Menurut Duterte, alasan dia melontarkan pernyataan tersebut karena menjawab pertanyaan tertentu dari media.
“Kami juga menyayangkan jika pernyataan ini dianggap sebagai serangan pribadi terhadap sosok presiden Amerika,” kata Duterte pada Selasa, 6 September.
Akibat pernyataan kontroversialnya pada Senin, 5 September, pertemuan bilateral yang sedianya berlangsung sore ini akhirnya dibatalkan. Obama memilih bertemu dengan Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye.
“Telah disepakati bahwa pertemuan antara AS dan Filipina akan dijadwal ulang satu hari lagi,” kata Duterte.
Mantan Wali Kota Davao ini kembali menyalahkan media karena menuliskan pernyataan kontroversialnya atas pembunuhan tersebut tanpa melalui proses peradilan.
“Presiden Duterte menjelaskan bahwa komentarnya tersebut ia sampaikan berdasarkan pemberitaan media yang menyebutkan Presiden Obama akan menguliahinya mengenai isu pembunuhan tanpa melalui proses peradilan. Selain memancing komentar pedas, pernyataan ini juga menimbulkan kekhawatiran,” kata Martin Andanar, juru bicara istana.
Presiden Duterte, kata Martin, mengaku menyesali perkataannya pada konferensi pers Senin lalu. Martin mengatakan tujuan Filipina sangat jelas, yakni membangun kebijakan luar negeri yang mandiri dan meningkatkan hubungan dengan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, sekutu lama Filipina.
Istana berharap segala perbedaan dapat dikesampingkan demi prioritas nasional, persepsi yang saling menguntungkan, dan kerja sama yang dilakukan kedua negara.
Obama akhirnya membatalkan pertemuan bilateral dengan Presiden Rodrigo Duterte yang sedianya digelar di sela-sela KTT ASEAN di Vientiane, Laos. Keputusan ini diambil Obama setelah Duterte menjatuhkan hukuman keras dan menolak membahas isu penegakan hak asasi manusia di Filipina.
“Presiden Obama tidak akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Duterte dari Filipina sore ini,” kata Ned Price, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS.
Sebaliknya, dia akan bertemu dengan Presiden Park Korea Selatan sore ini. Presiden Duterte mengeluarkan pernyataan tegas menanggapi kemungkinan Obama akan mengkonfrontasinya mengenai kebijakan pemerintahnya dalam memberantas narkoba di Filipina.
“Siapa yang berani ditanyakan Obama kepada saya tentang hal itu? Saya tanya, siapa Anda?” kata Duterte saat terbang ke Laos untuk menghadiri KTT ASEAN, Senin, 5 September.
Ia menyatakan tidak akan bersedia menjawab pertanyaan Obama mengenai isu hak asasi manusia jika tidak menerima permintaan maaf dari pemerintah AS atas perang dengan bangsa Moro di Pulau Mindanao pada awal abad ke-20.
“Saya tidak peduli tentang dia. siapa dia Faktanya, pada pergantian abad, jauh sebelum Amerika meninggalkan tanah Filipina selama kampanye perdamaian Moro di pulau ini, terdapat populasi Moro sekitar 6 juta jiwa. Berapa banyak dari mereka yang meninggal? 600 orang. Jawab pertanyaan itu dan minta maaf, maka saya akan menjawab pertanyaan (tentang hak asasi manusia),” kata Duterte dengan marah.
Permasalahan lain yang perlu dijawab oleh pemerintah AS, kata Duterte, adalah bagaimana mereka memperlakukan imigran di sana.
Ini bukan komentar pedas pertama yang dilontarkan Duterte terhadap negara sekutunya. Sebelumnya, dia menyebut AS sebagai dalang pembunuhan warga kulit hitam. Rata-rata orang kulit hitam justru mati di tangan aparat polisi.
Mantan Wali Kota Davao ini juga pernah menyebut Duta Besar AS untuk Filipina, Philip Goldberg sebagai ‘gay’ dan ‘anak pelacur’.
Menanggapi banyaknya pertanyaan, Duterte pun mengungkapkan kebingungannya dengan sikap jurnalis di Filipina yang terkesan lebih membela Obama dibandingkan warga negaranya sendiri.
“Anda terlalu percaya pada Amerika, percayalah pada kami. Seharusnya dia yang menjelaskan pembunuhan itu tanpa melalui proses peradilan,” ujarnya lagi.
Ia mengaku tak segan-segan menyampaikan pandangan anti kolonialnya. Duterte menolak untuk mematuhi siapa pun kecuali rakyatnya sendiri, rakyat Filipina.
“Saya tidak punya master lain kecuali orang Filipina,” katanya.
Di sisi lain, meski kebijakan pemberantasan narkobanya menuai banyak kritik, Duterte tetap menegakkannya. Dia mengatakan kampanye melawan narkoba akan terus berlanjut.
“Banyak yang akan terbunuh hingga pengedar terakhir terungkap, hingga produsen (narkoba) terakhir terbunuh. “Saya tidak peduli apa pendapat orang tentang perilaku saya,” kata Duterte.
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini menyatakan Obama tak segan-segan membahas isu penegakan hak asasi manusia saat bertemu dengan Duterte di Laos. Pemerintah AS telah menyatakan keprihatinannya terhadap pemerintahan Duterte. Sebab, sejak dilantik akhir Juni tahun lalu, ia sudah melontarkan pernyataan dan kebijakan kontroversial.
Lebih dari 2.000 orang tewas dalam perangnya melawan perdagangan narkoba. Duterte juga melakukannya. – Rappler.com
BACA JUGA: