Presiden Israel menerima delegasi umat Islam Indonesia
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Salah satu anggota delegasi adalah Ketua Komisi Perempuan, Pemuda dan Keluarga MUI.
JAKARTA, Indonesia —Presiden Israel Reuven Rivlin menerima delegasi Indonesia di Tel Aviv. Salah satu anggota delegasi tersebut adalah Ketua Komisi Perempuan, Pemuda dan Keluarga MUI, Istibsyaroh.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Reuven mengatakan negaranya menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.
“Di Yerusalem setiap orang dapat beribadah sesuai dengan keyakinan mereka,” kata Presiden Reuven seperti dikutip Zaman IsraelRabu 18 Januari 2017.
Presiden Reuven berharap Israel dapat bekerja sama dengan Indonesia. Menurut Reuven, banyak propaganda yang memicu perselisihan antara negara Islam dan Israel.
Bicaralah dengan para pemimpin Muslim #Indonesia. #Israel tidak berperang dengan #Islam. Memang kita tidak ditakdirkan untuk hidup bersama, itu adalah takdir kita pic.twitter.com/phKVVu5WMC
— Reuven Rivlin (@PresidentRuvi) 18 Januari 2017
Sementara itu, Istibsyaroh mengaku merasa terhormat berada di Israel. “Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, butuh waktu 10 jam untuk terbang dari satu sisi ke sisi lain,” kata Istibsyaroh.
Meski begitu, lanjut Istibsyaroh, masyarakat Indonesia tetap hidup sebagai satu warga negara, yakni warga negara Indonesia. “Padahal ada beberapa agama dan budaya yang berbeda,” ujarnya.
Kunjungan Istibsyaroh ke Israel kemudian menuai kontroversi karena Majelis Ulama Indonesia menyatakan kunjungan tersebut tanpa sepengetahuan mereka. MUI rencananya akan menggelar pertemuan pada Selasa pekan depan untuk membahas masalah tersebut.
Istibsyaroh harus mundur dari MUI
Ketua Bidang Kerja Sama Internasional dan Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Junaidi menyayangkan sikap Istibsyaroh saat menerima undangan Australia/Israel & Jewish Affairs Council (AIJAC) berkunjung ke ibu kota Tel Aviv. Pasalnya, meski ia datang ke sana atas nama dirinya sendiri dan untuk mengikuti konferensi, namun umat Islam di Indonesia memandangnya berbeda.
“Saya ingin yang bersangkutan ke sana dalam kapasitas individu, tapi tetap tidak bisa lepas dari MUI karena dia juga bagian dari pimpinan di MUI,” kata Muhyiddin saat dihubungi Rappler, Jumat, 20 Januari melalui telepon. . .
Sikap Istibsyaroh tersebut jelas bertentangan dengan kode etik diplomasi internasional, karena Israel dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik. Sebagai seseorang yang mempunyai pendidikan guru besar dan ilmu agama, Istibsyaroh harus benar-benar memahami hal tersebut.
“Sebenarnya untuk urusan olah raga saja kami usahakan tidak bertemu dengan Israel. Ah kenapa mau ketemu karena diundang?” kata Muhyiddin mempertanyakan sikap Istibsyaroh.
Undangan konferensi di Israel diarahkan oleh Rabbi Jeremy. Dia adalah warga negara Australia dari etnis Yahudi Polandia. Jeremy juga mengatakan, Muhyiddin sebenarnya memahami sikap Indonesia, khususnya MUI, dalam menyikapi konflik Israel dan Palestina.
Oleh karena itu, menurut Muhyiddin, ada permainan politik yang coba dilancarkan Israel untuk melobi Indonesia. Menurutnya, langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukan Israel agar Indonesia berubah sikap.
“Mereka mulai melakukan lobi di berbagai lini, baik melalui hubungan antar warga (people to people) maupun dunia usaha (business to business). Oleh karena itu, Indonesia diharapkan dapat membuka hubungan diplomatik ke depannya. “Tetapi hal itu selalu ditentang keras,” katanya.
Untuk itu, Muhyiddin menyarankan agar Istibsyaroh mundur saja dari MUI. Sebab jika tetap di MUI malah akan menimbulkan pro dan kontra di hadapan masyarakat. – dengan pelaporan oleh Santi Dewi/Rappler.com